Timah Cair Dinda

Muhammad Sapril
Chapter #28

Mercusuar dan Perahu Kecil

BAB 24 — Mercusuar dan Perahu Kecil

Tiga hari setelah aku menangis sampai kering di kamar kos, aku memesan penerbangan ke Tanjungpandan. Satu arah.

Itu adalah tindakan paling irasional, nekat, dan non-Hartono yang pernah kulakukan seumur hidupku.

Aku tidak membawa koper besar. Hanya satu tas ransel berisi pakaian ganti seadanya, dompet, dan buku catatan keramatku. Kartu kredit tambahan pemberian Papa aku tinggalkan di atas ranjang kos, tergeletak tepat di sebelah kunci kamar. Aku akan mencari jalan untuk menyewa kamar murah di pulau itu nanti. Aku akan mencari kerja sambilan kalau perlu. Aku akan membuktikan bahwa aku tidak membutuhkan nama belakangku untuk bertahan hidup.

Yang kubutuhkan hanya dia.

Sepanjang penerbangan, aku berlatih pidato di kepalaku. Kata-katanya sudah kususun agar terdengar meyakinkan: Aku akan melawan sistem ini bersamamu. Aku tidak akan membiarkan proyek Papa berjalan mulus. Kita akan cari investor lain untuk POKDARWIS. Aku bukan keluargaku.

Pesawat mendarat saat matahari mulai turun di ufuk barat. Bandara H. A. S. Hanandjoeddin terasa berkeringat, pekat oleh kelembapan udara laut.

Aku menyewa ojek pangkalan, bukan taksi ber-AC yang biasanya menjemputku, dan minta diantar ke pelabuhan penyeberangan Pegantungan. Setibanya di sana, dengan sisa uang tunai, aku menumpang perahu kayu terakhir yang menyeberangi selat menuju Pulau Mendanau.

Aku menemukannya di dermaga Suak Gual.

Arkan sedang duduk bersila, mengikat serabut nilon untuk jaring nelayan, dikelilingi bau pekat garam, amis ikan, dan aspal basah. Dia mengenakan kaos pudar yang lengannya digulung asal, celana pendek selutut, dan kulitnya terlihat semakin lekat dengan warna tembaga di bawah cahaya kekuningan matahari sore.

Untuk sesaat, aku hanya berdiri memperhatikannya dari kejauhan. Kehangatan menyeruak di perutku. Ini nyata. Ini rumah, pikirku. Segala yang palsu di Jakarta telah kutanggalkan.

Aku berjalan pelan di atas papan kayu dermaga. Bunyi kriet langkah kakiku membuatnya mendongak.

Tangannya berhenti bergerak di udara. Jaring nilon yang sedang dikaitkannya merosot ringan ke pahanya.

Dia tidak terlihat marah. Dia tidak terlihat benci. Dia hanya terlihat lelah.

"Ngapain kamu di sini?" tanyanya. Suaranya rendah, tidak membawa nada permusuhan, tapi sapaan akrab yang biasa ia berikan pun telah hangus.

"Aku meninggalkan semuanya, Arkan," kataku cepat, sebelum duniaku goyah lagi oleh tatapannya. Aku melangkah semakin dekat lalu duduk di papan kayu, tepat di depannya. Tidak peduli debu yang menempel di celana kainku. "Kartu dari Papa. Kosan di Jakarta. PKL. Semuanya. Aku tidak mau pulang ke rumah Pondok Indah lagi."

Arkan menatapku. Tangannya masih memegang untaian tali.

"Aku akan bicara dengan LSM lingkungan," lanjutku, ritmenya makin terburu-buru. "Aku tahu beberapa kontak dosen yang pro konservasi pesisir. Kita bisa bawa masalah proyek Hartono Group ini ke media. Pak Darda bisa tampil—"

"Berhenti, Din."

"Aku serius, Arkan! Tolong—"

"Berhenti."

Lihat selengkapnya