BAB 25 — Berapa Banyak Versi Diriku
Papa bilang aku terlalu naif.
Arkan bilang aku terlalu bercahaya.
Mama diam.
Zarimuddin mungkin menertawakanku dari jauh, karena anak perempuan keluarga Hartono ternyata tidak bisa membeli segalanya di pulaunya.
Aku duduk di atas kasur busa tipis yang bau apeknya mengingatkanku pada gudang penyimpanan kapur. Penginapan murah di pinggiran kota Tanjungpandan ini adalah satu-satunya tempat yang bisa kutemukan setelah nekat menyewa perahu malam dari Suak Gual kembali ke Pegantungan, dilanjutkan dengan setengah jam berkeliling tanpa tujuan menggunakan ojek. Dindingnya bercat hijau pucat yang sudah mengelupas di beberapa sudut, menyisakan noda-noda kelembapan berbentuk kepulauan yang tidak kukenal. Kipas angin di langit-langit berputar dengan suara derit mekanis yang lambat dan menyakitkan, seolah setiap putarannya membongkar memori yang tidak pantas dibuka lagi.
Kontrasnya sangat tajam. Beberapa bulan lalu, duniaku adalah lantai granit abu-abu yang memancarkan dingin yang elegan, kasur pegas berlapis seprai sutra, dan keheningan yang dikurasi dengan uang. Malam ini, aku hanyalah seorang perempuan tanpa arah yang bahkan tidak berani menatap pantulan wajahnya sendiri di cermin buram kamar mandi.
Di atas meja kayu reyot, layar ponselku menyala dalam gelap.
Asro mengirim rentetan pesan WhatsApp:
"Din, kau kah yang lewat bandara tadi sore?"
"Kau kah yang di Suak Gual cari Arkan?"
"Din, kau baik-baik saja?"
"Angkat teleponku."
Aku menatap nama Asro di layar itu cukup lama hingga cahayanya menyilaukan retinaku. Asro adalah suara dari masa lalu yang tidak lagi relevan. Dia adalah toa rusak di hari pertama SMA, saksi ketika aku pertama kali jatuh ke dalam ilusi bahwa aku bisa hidup normal. Menjawab pesan Asro sama dengan mengakui kekalahanku pada dunia remaja yang naif. Jika aku membalasnya, aku hanya akan menjadi Dinda yang menangis karena diputuskan pacarnya.
Dan aku bukan sekadar diputuskan. Aku telah ditolak oleh seluruh sistem yang membentuk realitasku.
Layar ponsel berkedip dua kali sebelum mati kehabisan daya. Aku sengaja tidak membawa pengisi daya dari Jakarta. Kegelapan akhirnya mengambil alih kamar ini sepenuhnya, dan dalam kegelapan itu, pertanyaan yang menakutkan mulai merayap naik ke tenggorokanku.
Berapa banyak versi diriku yang harus kupecahkan hari ini?