Timah Cair Dinda

Muhammad Sapril
Chapter #30

Konversi

BAB 26 — Konversi

Jakarta di bulan-bulan pertama setelah aku pulang terasa seperti ruang tunggu asuransi yang lampunya tidak pernah diredupkan. Seluruh dinding, kasur, suara jalanan, semua serba nyata dan telanjang. Aku tidak pindah ke kosan lamaku. Aku menyewa apartemen studio di Setiabudi dengan sisa uang warisan Nenek dari pihak Mama — satu-satunya dana yang tidak menyentuh aliran Hartono Group. Setidaknya untuk saat ini.

Kehampaanku diisi oleh rasa lapar yang aneh. Lapar yang tidak bisa diatasi dengan rendang atau bubur ayam. Lapar akan jawaban.

Aku tidak bisa melepaskan kenyataan bahwa Arkan menolakku karena sadar dia orang rendahan di mataku, atau lebih tepatnya, di mata strukturku, dan Papa membuang harapanku karena merasa idealisme tidak punya ROI.

Aku merasa dikemas oleh kotak yang tidak pernah kuminta. Kotak identitas.

Aku menghabiskan minggu-minggu pertama itu dengan menggali arsip kognitif keluargaku sendiri.

Suatu malam, aku menghubungi Kong Kong.

Telpon itu tidak berlangsung lama, hanya lima belas menit. Suara tuanya masih berat, masih menyimpan gema dari gudang-gudang timah tua, tapi tidak lagi menakutkan bagiku. Aku tidak bertanya kabarnya. Aku tidak menanyakan pendapatnya tentang proyek Papa. Aku bertanya kepadanya pertanyaan yang bertahun-tahun selalu dihindari meja makan saat kumpul Lebaran:

"Kong... waktu Kong Kong masuk Islam dulu... apa itu karena urusan izin tambang?"

Keluarga lain mengatakan leluhur Hartono masuk Islam untuk mengamankan tanah Melayu. Kudengar helaan napasnya dari seberang pulau. Ia mendengus pelan, sejenis tawa orang tua yang setengah jengkel.

"Siapa yang ajarkan kau kebohongan begitu, Dinda? Izin tambang? Kakek moyang kita bisa bayar oknum pemerintah zaman dulu tanpa perlu baca syahadat." Suaranya bergetar menahan batuk. "Aku jadi Mualaf bukan karena izin. Aku Mualaf waktu umur dua puluh empat, sebelum menikahi Nenek Ho-mu. Dia Cina mualaf dari Bangka. Gadis miskin yang tidak diakui keluarganya sendiri. Untuk bisa menikahinya secara sah tanpa dirongrong sana-sini waktu itu, salah satu jalan adalah ikut mualaf. Kami mencari perlindungan ke ulama lokal Melayu agar tak gampang diintimidasi preman pelabuhan."

"Karena Nenek Ho?" pikiranku mengulanginya.

Lihat selengkapnya