BAB 27 — Timah Cair
Di akhir minggu ketigaku mengisolasi diri di apartemen, ponselku berdering.
Nama yang tertera di layar adalah Papa.
Sudah sekian minggu berlalu pasca kejatuhanku di rumah Pondok Indah, lalu lariku ke Belitung, dan pulangkah diriku dengan rasa putus asa. Selama itu, Papa tidak repot-repot mengirim pesan teks untuk mengecek apakah putri satu-satunya masih bernapas. Bagi Papa, patah hati adalah kalkulasi penyusutan; semakin dibiarkan, semakin ia akan menguap dan selesai dengan sendirinya.
Aku mengangkatnya di deringan keempat.
"Dinda," sapanya. Suaranya di seberang terdengar jelas, diiringi bunyi samar pelan putaran mesin pendingin kabin mobilnya.
"Ya, Pa."
"Bulan depan, ada pameran proyek pariwisata di Singapura. Tim risinku butuh kamu. Kamu yang paling tahu profil geografis daerah selatan Belitung karena PKL-mu. Ada dua investor dari Temasek yang butuh asuransi data sebelum menanam tiga jembatan penghubung di Membalong."
Papa tidak bertanya kabarku. Papa tidak membahas pertengkaran kami. Dia tidak mengungkit soal kepulanganku yang nekat menyusul anak nelayan miskin. Dia langsung mengajak bicara agenda bisnis, memberi pekerjaan, menyelipkan peran.
Dulu, hal ini akan memantik letupan emosiku. Dulu, aku akan berteriak bahwa ia tidak memiliki empati sebagai orang tua. Aku akan mematikan sambungan telepon.
Tetapi, setelah malam panjang di mana sejarah keluargaku terkelupas ke titik membusuk di kepalaku, tawaran Papa terdengar berbeda.
Itu bukan tawaran pekerjaan semata. Itu adalah undangan untuk mengambil sekop, lalu ikut mencetak dunia.
"Proyek yang di Membalong?" ulangku pelan. "Itu akan makan berapa kepala keluarga kalau pembebasan lahan masuk ke zona tambak?"