BAB 29 — Divisi Milikku Sendiri
Proposal itu kuberi judul: Sustainable Development & Community Partnership Division.
Empat puluh dua halaman. Proyeksi revenue lima tahun. Analisis SWOT. Studi kasus dari Costa Rica dan Bhutan. Skema profit-sharing dengan warga lokal yang terlihat revolusioner tapi pada dasarnya adalah versi premium dari koperasi simpan pinjam yang sudah ada sejak zaman Orde Baru.
Aku mempresentasikannya di depan enam orang direksi Hartono Group pada Jumat sore. Ruang rapat lantai delapan belas. Papa duduk di ujung meja, diam, mengamati.
"Intinya begini," kataku, berdiri di depan layar proyektor dengan laser pointer yang tidak berhenti bergerak di tanganku. "Skandal Pulau Lima membuat reputasi Hartono Group di mata publik dan kementerian turun tiga belas poin dalam survei persepsi tahun ini. Media lokal Belitung masih menulis tentang penggusuran. Potensi demo masih ada. Ini bukan risiko moral — ini risiko bisnis."
Beberapa kepala mengangguk. Bahasa yang mereka pahami.
"Divisi baru ini akan menjadi buffer. Kita bangun proyek eco-tourism yang benar-benar inklusif — profit-sharing, perekrutan lokal, preservasi mangrove — di kawasan Membalong. Ini bukan filantropi. Ini rebranding. Dan rebranding yang baik tidak cuma memperbaiki citra. Rebranding yang baik menghasilkan uang."
Aku menunjukkan slide berikutnya: grafik proyeksi.
"Margin lebih tipis, ya. Tiga belas sampai delapan belas persen, dibanding rata-rata tiga puluh persen di proyek konvensional Hartono Group. Tapi lifetime value-nya jauh lebih tinggi karena kita mengeliminasi risiko konflik sosial yang bisa menelan puluhan miliar dalam biaya hukum dan PR."
Presentasi selesai dalam dua puluh menit. Enam direksi bertanya. Aku menjawab semuanya dengan data. Papa tidak bertanya satu pun.
Setelah ruangan kosong, Papa berdiri, merapikan jasnya.
"CSR," katanya, berjalan melewatiku menuju pintu. "Kamu tahu itu singkatan dari apa?"
"Corporate Social Responsibility."