Timah Cair Dinda

Muhammad Sapril
Chapter #34

Cangkang Alpha

BAB 30 — Cangkang Alpha

Narasi publik adalah aset yang selama ini dikelola orang lain untuk Hartono Group.

Aku menyadari ini saat membaca laporan krisis Pulau Lima dari konsultan PR eksternal yang disewa Papa. Laporannya setebal seratus halaman, isinya boiler plate: "Perusahaan disarankan mengeluarkan pernyataan resmi yang menekankan komitmen terhadap pembangunan berkelanjutan." Klise. Generik. Mahal.

Dan yang paling menggangguku: laporan itu ditulis oleh orang luar yang tidak tahu apa-apa tentang Belitung. Tentang garam di kulit nelayan. Tentang cara Pak Darda menyeduh kopi di cangkir aluminium penyok. Tentang bau laut yang bisa membuat gadis kota menangis pada pukul dua pagi.

Mereka menulis tentang "stakeholder" dan "sentiment analysis" tanpa mengerti bahwa "stakeholder" di Suak Gual adalah ibu-ibu yang jualan ikan asin di pinggir jalan dengan omzet tujuh puluh ribu sehari.

Aku bisa melakukan ini lebih baik, pikirku. Dan untuk pertama kalinya, pikiran itu tidak terasa naif. Pikiran itu terasa berbahaya.

Cangkang Alpha lahir enam bulan setelah divisi Sustainable Development berjalan.

Aku tidak mendirikannya di bawah Hartono Group. Itu terlalu vulgar, terlalu transparan. Aku mendirikannya melalui tiga lapis SPV — Special Purpose Vehicle — yang masing-masing terdaftar di entitas hukum berbeda. PT Meridian Nusa Digital, yang memiliki PT Cerah Cakrawala Media, yang memiliki Cangkang Alpha.

Bahkan Papa tidak tahu sampai tahun kedua. Dan ketika dia tahu, dia tidak marah. Dia tersenyum.

"Kamu belajar cepat," katanya.

Nama "Cangkang" kupilih sendiri. Bukan nama yang cantik. Bukan nama yang aspiratif seperti startup teknologi Jakarta yang suka memakai kata "Lumina" atau "Nexus" atau omong kosong semacamnya.

Cangkang. Keras di luar. Kosong di dalam. Bisa diisi apa saja.

Seperti aku.

Cangkang Alpha secara resmi adalah perusahaan digital strategy dan public relations. Kliennya beragam: startup, BUMN kecil, politisi lokal yang butuh polesan citra menjelang Pilkada. Tim-nya kecil — delapan orang di awal, kebanyakan anak muda lulusan komunikasi dan desain yang terlalu idealis untuk bekerja di korporasi besar tapi terlalu butuh uang untuk menolak gaji yang kubayarkan.

Secara tidak resmi, Cangkang Alpha adalah perpanjangan tanganku. Alat untuk mengelola narasi. Alat untuk memastikan bahwa cerita yang beredar di publik tentang Hartono Group, tentang Membalong, tentang apa pun yang menyangkut kepentinganku — adalah cerita yang aku tulis.

Lihat selengkapnya