BAB 31 — Alika Tidak Tahu
Alika Mahesa Malim ternyata adalah versi muda dari diriku sendiri.
Itu observasi pertama yang kutulis di notes pribadi setelah membaca laporan triwulan pertamanya. Cerdas, antusias, idealis — percaya bahwa digitalisasi bisa menyelamatkan nelayan, bahwa data adalah kekuatan, bahwa teknologi yang tepat bisa menutup jurang ketimpangan antara kota dan pulau.
Persis seperti aku di Bab 1 hidupku. Sebelum lada hitam. Sebelum timah.
Bedanya: Alika tidak menanggung beban nama Hartono. Alika adalah Malim — anak nelayan, keturunan adopsi Nek Limah, pewaris kemiskinan yang terhormat. Baginya, bekerja di startup digital adalah lompatan kelas yang luar biasa. Gajinya — yang kubayar — mungkin lebih besar dari penghasilan bulanan seluruh keluarganya di Suak Gual.
Dan dia bersyukur setiap hari untuk itu.
Aku memantau Alika melalui Reza. Laporan mingguan, review kerja, catatan meeting — semuanya diteruskan kepadaku dalam bentuk rangkuman dua halaman yang Nadya siapkan setiap Jumat sore.
Dari laporan-laporan itu, aku merekonstruksi Alika sepotong demi sepotong:
Alika suka datang ke kantor lebih pagi dari siapa pun. Dia membawa bekal nasi dari kos — kebiasaan anak pulau yang tidak terbiasa membeli makan siang seharga empat puluh ribu di food court Jakarta. Dia berteman cepat dengan tim desain, sering tertawa keras di pantry, dan punya kebiasaan menyelipkan istilah Melayu di tengah presentasi bahasa Indonesia formal yang membuat rekan-rekan Jakartanya bingung sekaligus terhibur.
Dia mengingatkanku pada Asro. Pada kehangatan yang pernah kukenal di meja makan ikan bakar Suak Gual. Pada dunia yang sudah kukunci di luar jendela kaca lantai lima belas.
Suatu hari — ini dari laporan Reza yang biasanya kering dan teknis — ada satu paragraf yang membuatku berhenti membaca:
"Alika menceritakan tentang kakaknya di meeting internal. Katanya kakaknya sekarang fokus di pariwisata berbasis komunitas di Belitung. Dia terlihat sangat bangga. Dia bilang: 'Abang aku itu orangnya keras kepala, tapi kalau soal pulau, dia nggak bisa dibeli. Pernah ada perusahaan besar yang mau akuisisi lahan di desanya, dan abangku yang paling depan nolak. Sampai sekarang masih perang.'"
Aku membaca paragraf itu tiga kali.
Abangku yang paling depan nolak.
Arkan masih berjuang. Masih menolak Hartono Group — atau lebih tepatnya, masih berdiri di garis depan melawan apa yang telah kubantu ciptakan. Dan adiknya, tanpa sadar, menceritakan ini di rapat perusahaan yang diam-diam dimiliki oleh mantan pacar kakaknya.