Timah Cair Dinda

Muhammad Sapril
Chapter #36

Kirana dan Self-funded Assassination

BAB 32 — Kirana dan Self-funded Assassination

Kirana Anjani muncul di Instagram Arkan pada hari Selasa yang biasa.

Tidak ada tanda-tanda. Tidak ada peringatan. Hanya sebuah foto: gadis berambut pendek, kamera profesional menggantung di leher, berdiri di Tanjung Tinggi dengan senyum yang terlalu lebar untuk orang yang baru pertama kali ke Belitung.

Tag lokasi: Belitung.

Tag akun: @arkan. malim.

Aku menemukannya bukan karena mencari. Algoritma Instagram yang merekomendasikan foto itu kepadaku — mungkin karena aku pernah terlalu sering membuka profil Arkan di jam-jam tidak wajar, mungkin karena mesin digital sudah menghafal pola obsesiku lebih baik dari diriku sendiri.

Aku menatap layar selama empat menit tanpa berkedip. Menghitung denyut nadi, karena di ruang rapat bulan lalu aku membaca artikel tentang teknik biofeedback untuk mengelola emosi. Denyutku stabil. Tujuh puluh dua per menit.

Tapi sesuatu di bawah kestabilan itu bergerak. Sesuatu yang sudah terlalu dalam untuk dideteksi oleh jam tangan pintar atau aplikasi meditasi.

Aku scroll ke bawah. Komentar Asro: "Woi pacar baru ya, Bang? Ngapain belum bilang-bilang? 😂"

Foto berikutnya, di-upload dari akun Kirana sendiri: ada tangan yang familiar melingkari pinggangnya. Kapalan di telapak. Noda ter yang tidak bisa hilang.

Tangan yang pernah menyelipkan bunga lada ke jariku.

Riset. Itulah yang paling kukuasai sekarang.

Kirana Anjani. Dua puluh empat tahun. Content creator berbasis Jakarta. Menang beberapa award konten perjalanan. Sponsored trip oleh Tourism Board Belitung Timur. Dua minggu di pulau — cukup untuk mengambil foto-foto cantik dan, rupanya, cukup untuk mengambil laki-laki yang sudah dua tahun kulepas.

Media sosialnya adalah etalase: pantai-pantai yang di-color grade sampai langit Belitung terlihat seperti planet lain. Dia menjual pulau itu sebagai aesthetic. Mengemas tempat lahirku menjadi engagement metrics.

Dan Arkan — Arkan yang bilang dia cuma perahu kecil — sekarang tersenyum di foto-foto itu. Bukan senyum untuk kamera. Senyum yang kukenali. Senyum yang dulu hanya ditujukan padaku di sore-sore dermaga Suak Gual.

Sesuatu di dalamku bangkit. Bukan cinta. Bukan rindu.

Kontrol.

Jika aku tidak bisa memilikinya, maka tidak ada orang yang boleh menjual pulaunya sebagai content Instagram.

"Aku butuh tim Cangkang Alpha untuk proyek khusus," kataku ke Nadya keesokan harinya. "Bukan lewat Reza. Langsung ke tim operasional."

Lihat selengkapnya