Timah Cair Dinda

Muhammad Sapril
Chapter #37

Rekonsiliasi yang Tidak Berbunyi Maaf

BAB 33 — Rekonsiliasi yang Tidak Berbunyi Maaf

Seminggu setelah Kafe Batuan, aku meminta jadwal temu dengan Papa di kantor.

Bukan di rumah Pondok Indah. Bukan di meja makan marmer dengan irisan apel dan keheningan Mama. Di kantor. Lantai delapan belas. Ruang profesional, dengan jendela kaca dan dinding yang tidak menyimpan kenangan masa kecil.

"Papa punya waktu tiga puluh menit," kata sekretarisnya lewat telepon.

Tiga puluh menit. Jadwal standar untuk meeting bisnis. Bukan jadwal untuk pembicaraan antara ayah dan anak.

Tapi kami bukan ayah dan anak biasa. Kami sudah lama berhenti menjadi itu.

Papa sedang membaca laporan saat aku masuk. Kacamata bacanya — yang baru, menandakan matanya sudah mulai kehilangan ketajaman — bertengger di ujung hidung. Dia tidak mendongak.

"Duduk."

Aku duduk. Membuka laptop. Memutar layarnya menghadap Papa.

"Ini proyeksi divisi Sustainable Development kuartal depan," kataku. "Revenue Membalong naik dua puluh dua persen year-on-year. Occupancy rate stabil di tujuh puluh delapan. Dan ini—" aku scroll ke slide berikutnya "—proposal ekspansi. Dua lokasi baru di Kalimantan Barat dan NTT. Skema yang sama: eco-resort, profit-sharing, koperasi lokal."

Papa menurunkan kacamatanya. Menatap layar. Lalu menatapku.

"Kamu datang ke sini untuk presentasi?" Nada suaranya netral — tidak pernah sinis secara terbuka, tapi selalu ada ruang di antara kata-katanya untuk kamu memasukkan interpretasimu sendiri.

"Aku datang untuk bicara bisnis," jawabku. "Bukankah itu yang Papa mau?"

Dia tidak menjawab langsung. Dia menyandarkan punggungnya di kursi — gestur yang sudah kuhafalkan artinya: aku sedang mendengarkan, tapi aku sedang menilai.

Lihat selengkapnya