BAB 34 — Pulang Sebentar, Proyek Membalong
Aku kembali ke Belitung dua bulan setelah gencatan senjata dengan Kirana.
Bukan untuk Arkan. Bukan untuk nostalgia. Untuk Membalong.
Eco-resort membutuhkan inspeksi langsung setiap kuartal — mengecek progres konstruksi, memastikan koperasi warga berjalan, meninjau skema profit-sharing yang di atas kertas terlihat sempurna tapi di lapangan selalu butuh penyesuaian. Aku datang dengan tim kecil: satu arsitek, satu analis keuangan, dan Nadya.
Pesawat mendarat di sore hari. H. A. S. Hanandjoeddin terasa lebih kecil dari yang kuingat — atau mungkin aku yang sudah terlalu terbiasa dengan terminal domestik Soekarno-Hatta yang luasnya seperti mal.
Udara Belitung menyambut seketika pintu pesawat terbuka. Lembap, asin, tercampur bau tanah laterit merah yang tidak berubah sejak jaman kakek buyut turun dari kapal. Udara yang dulu membuatku merasa pulang. Sekarang membuatku merasa seperti investor yang mengunjungi portfolio-nya.
Aku menginap di hotel di Tanjungpandan — bukan di rumah keluarga. Tapi Mama bersikeras aku harus mampir makan malam.
"Sebentar saja, Din. Mama sudah masak pindang. Ayahmu lagi di Jakarta, jadi cuma kita berdua."
Cuma kita berdua. Kata-kata yang dulu berarti kehangatan. Sekarang berarti: lebih mudah untuk bicara jujur tanpa Papa di ruangan.
Makan malam di beranda rumah tua. Bukan rumah batu di Pondok Indah — rumah ini, rumah yang Mama pertahankan di Tanjungpandan sebagai tempat pulang. Rumah panggung lebih sederhana yang dia renovasi setelah rekonsiliasi dengan keluarga besarnya. Kayu jati, atap seng yang sudah diganti genteng, beranda yang menghadap ke jalan sempit dengan pohon mangga tua di sudut.
Pindang ikan tenggiri. Nasi putih. Sambal terasi yang pedasnya bikin mata berair. Teh manis dalam gelas kaca besar.
Mama makan dengan cara yang selalu membuatku berhenti sebentar dan mengamati — pelan, hati-hati, setiap suapan dinikmati seperti ada filosofi di balik cara dia meletakkan sendok di mulut. Sisa-sisa didikan keluarga Melayu birokrat: di meja makan, kamu dinilai dari caramu makan, bukan dari apa yang kamu makan.
Kami mengobrol tentang hal-hal biasa. Cuaca. Tukang yang sedang merenovasi dapur. Kong Kong yang mulai sering lupa nama cucu-cucunya tapi masih hafal harga timah tahun 1970.
Lalu, seperti memasukkan sendok garam ke dalam mangkuk sup yang sudah terasa enak, Mama menyelipkan satu informasi.
"Oh iya, Din."