Timah Cair Dinda

Muhammad Sapril
Chapter #39

Empat Alasan dan Satu Telepon

BAB 35 — Empat Alasan dan Satu Telepon

Jakarta. Kantor SCBD. Jam sepuluh malam.

Sebagian besar lantai lima belas sudah gelap. Tim pulang jam enam. Nadya jam delapan. Satpam gedung melakukan ronda di koridor dengan senter yang cahayanya memantul dari kaca ruang meeting kosong.

Aku masih di meja. Laptop menyala, tapi bukan menampilkan spreadsheet atau proposal. Layarnya putih kosong — Notes baru yang sedang kutatap seperti kanvas pelukis yang belum menemukan gambar pertamanya.

Sudah berhari-hari. Sejak pulang dari Belitung, nama Sari berputar di kepalaku dengan intensitas yang tidak proporsional untuk seseorang yang baru kuingat kembali.

Aku tahu apa yang sedang terjadi. Ini pola yang sama. Pola yang membuat aku mendirikan Cangkang Alpha saat melihat nama Alika di CV. Pola yang mendorong aku menyerang Kirana saat melihat tangan Arkan di pinggangnya. Pola di mana sesuatu yang tidak selesai di masa lalu mendapat trigger baru, lalu mesin di kepalaku mulai berputar.

Bedanya: kali ini aku sadar. Kali ini aku tidak mau masuk tanpa daftar.

Aku mulai mengetik.

Alasan menghubungi Sari:

1. Sari adalah anak yang sendirian di rumah laki-laki yang tidak layak.

Fakta. Zarimuddin menikah lagi. Istri baru, anak baru, prioritas baru. Sari adalah artefak dari pernikahan pertama yang gagal — keberadaannya jadi pengingat kegagalan yang tidak ingin Zarimuddin lihat setiap hari. Pola klasik: anak dari pernikahan pertama menjadi tidak terlihat.

2. Zarimuddin merepresentasikan semua yang aku benci di Papa — tapi versi lebih lemah dan lebih munafik.

Papa mengakuisisi lahan dan menghancurkan mata pencaharian orang, tapi setidaknya dia tidak pura-pura suci. Papa tahu dia predator dan tidak menyangkalnya. Zarimuddin? PNS Kabid yang merasa jabatannya adalah mahkota moral, yang mengkritik "pedagang Cina" di meja Lebaran tapi tidak punya uang cukup untuk membiayai psikolog anaknya sendiri. Munafik yang lebih menjijikkan dari kejujuran Papa yang transaksional.

3. Keluarga Zarimuddin selalu meremehkan keluarga Hartono. Membiayai anaknya adalah pembuktian yang tidak memerlukan kata-kata.

Ini dendam lama. Dendam klan. Ayah Zarimuddin — paman kandungku dari pihak Mama — adalah orang yang paling keras menentang pernikahan ibuku dengan Papa. Dialah yang memimpin "pembuangan" Mama dari keluarga besar. Dialah yang bilang "Anak kita bukan untuk dijual ke pedagang Cina," kalimat yang Mama ceritakan padaku satu kali — hanya satu kali — dengan suara yang begitu datar sampai aku tahu betapa besar bekas lukanya.

Dan Zarimuddin mewarisi keangkuhan itu. Komentar di meja Lebaran: "Enak ya keluarga Hartono, mau apa tinggal beli." Senyum birokrat yang menyiratkan superioritas moral yang tidak pernah dia peroleh.

Membiayai Sari — anak kandung Zarimuddin — dengan uang Hartono adalah kalimat yang tidak perlu diucapkan tapi artinya sangat jelas: anakmu sendiri lebih memilih tangan kami daripada pelukan PNS-mu.

4. ...

Lihat selengkapnya