BAB 36 — Koffie Boon
Aku tiba di Koffie Boon dua belas menit lebih awal.
Kebiasaan lama. Orang yang datang duluan menguasai framing percakapan — siapa yang masuk ke ruang siapa, siapa yang menyambut, siapa yang menunggu. Detail kecil yang tidak terasa tapi bekerja di bawah sadar. Papa yang mengajarkan ini, tentu saja. Bukan lewat kata-kata, tapi lewat cara dia selalu ada di ruangan sebelum siapa pun.
Aku memilih meja pojok. Marmer bundar, dua kursi, jarak dari pintu cukup jauh untuk percakapan privat tapi cukup dekat untuk melihat siapa yang masuk. Americano — hitam, tanpa gula, sudah tiba sebelum aku duduk karena aku pesan lewat telepon saat di tempat parkir. Kecilnya detail kontrol yang terasa tidak perlu, tapi justru karena itu menenangkan.
Aku membuka laptop. Berpura-pura bekerja.
Tapi mataku ke pintu.
Ibuku bilang Sari sekarang tinggal di rumah yang salah. Kalimat tepatnya: "Keponakanmu itu, Din. Anak Zarimuddin. Kasihan. Ayahnya sudah nikah lagi. Anaknya baru lahir. Sari nggak punya siapa-siapa di sana."
Aku mendengarnya sambil menyetir, telepon tersambung lewat Bluetooth, mata di jalan tol menuju rumah Mama di kompleks lama. Aku tidak langsung menjawab. Aku menghitung.
Zarimuddin.
Nama itu punya rasa yang khas di belakang lidah. Bukan pahit. Pahit ada kandungan kompleksitasnya. Ini lebih sederhana — rasa sempit, rasa kecil, rasa laki-laki yang merasa hidupnya lebih penting dari semua orang di sekitarnya dan tidak pernah sadar bahwa ukurannya itu tidak sesuai klaim.
Aku ingat Zarimuddin di acara-acara keluarga besar. Cara dia menyebut bisnis Papa dengan nada yang pas-pasan, seperti mengakui tanpa benar-benar mengakui. Cara dia melihat ke sana-sini saat salam-salaman, sudah mencari orang yang lebih penting untuk diajak bicara sebelum percakapan ini selesai. PNS Kabid yang merasa jabatannnya adalah identitas, bukan sarana.
Dan Tika. Aku ingat Tika.
Dia hidup, pikirku dulu, waktu pertama kali bertemu Tika yang baru dibawa Zarimuddin ke acara keluarga. Wartawan muda, kritis, ada sesuatu yang bergerak di matanya waktu bicara. Jenis perempuan yang suka membuat ruangan lebih ramai dengan kehadirannya.
Lalu Zarimuddin pelan-pelan mematikan lampunya satu per satu.
Resign. Masak. Diam. Bertahan. Lalu pergi juga akhirnya — tapi perginya bukan dengan cahaya yang masih ada. Perginya dengan lampu yang sudah padam duluan.
Aku gagal menyelamatkan Tika. Itu fakta yang sudah aku terima dengan logika yang sama seperti menerima kerugian dalam proyeksi kuartal: disesalkan, dicatat, tidak diulang.
Tapi Zarimuddin sekarang punya anak lagi. Dan Sari ada di tengah-tengah itu.
Menarik, pikirku. Dan aku tidak terlalu berpikir lebih dari itu malam itu.
Tapi kemudian aku tidak bisa berhenti memikirkannya.
Bukan karena aku merindukan Tika. Bukan karena aku merasa bersalah pada Sari. Aku terlalu jujur pada diriku sendiri untuk memuja narasi yang lebih mulia dari kenyataannya.
Aku memikirkan Sari karena aku tahu aku pernah adalah dia.
Gadis muda yang cerdas — aku tahu Sari cerdas dari cerita-cerita serpihan yang sampai ke telingaku lewat keluarga besar. Gadis yang terjebak di rumah laki-laki yang salah, tanpa alat yang cukup untuk keluar atau melawan. Yang bedanya hanya satu: aku punya akses ke uang. Sari tidak.
Aku membuat daftar. Bukan karena sentimentil — aku tidak bisa lagi bekerja tanpa struktur, dan struktur membutuhkan daftar. Di kepala, waktu menyetir kembali ke Belitung untuk proyek Membalong tiga minggu kemudian:
Satu: Sari adalah anak yang sendirian di rumah yang tidak layak.
Dua: Zarimuddin adalah pengguna. Seperti ayahku. Tapi versi lebih lemah dan lebih munafik karena tidak punya resources yang setara untuk merasionalisasi posisinya.
Tiga: Keluarga Zarimuddin sudah terlalu lama merasa mereka di atas keluarga Hartono dalam hal moral. Membiayai anak Zarimuddin sendiri, dengan uang Hartono, adalah kalimat yang tidak perlu diucapkan tapi artinya sangat jelas.
Empat:
Nomor empat tidak aku tulis. Tidak di kepala, tidak di mana pun. Tapi aku tahu isinya.
Aku pernah menjadi Sari.