Timah Cair Dinda

Muhammad Sapril
Chapter #41

Rekening yang Sama

BAB 37 — Rekening yang Sama

Jakarta. SCBD. Lantai lima belas. Dua hari setelah Koffie Boon.

Aku duduk di kursi kantor yang sudah kupakai selama dua tahun. Kursi ergonomis yang harganya bisa membayar uang saku Sari selama enam bulan. Di depanku, tiga layar monitor menyala.

Layar pertama: dashboard Membalong Resort. Occupancy rate 78%. Revenue Q3 naik 12%. Grafik yang naik ke kanan — arah yang di dunia bisnis selalu berarti keberhasilan, meskipun di balik grafik itu ada dua keluarga yang masih menyimpan surat protes di laci mereka.

Layar kedua: laporan Cangkang Alpha. Pengguna aktif platform menembus dua ribu. Alika baru saja menyelesaikan proyek digitalisasi pasar ikan di tiga kecamatan pesisir. Reza mengirim update: "Alika minta izin cuti tiga hari, mau pulang ke Suak Gual. Katanya abangnya mau nikah."

Aku membaca kalimat itu dua kali.

Abangnya mau nikah.

Arkan. Menikah. Dengan Kirana, tentu. Dengan gadis yang datang ke Kafe Batuan dan tidak runtuh. Dengan perempuan yang mencintainya tanpa agenda.

Aku menatap kalimat itu selama sepuluh detik. Menghitung denyut nadi. Tujuh puluh empat. Stabil.

Tidak ada tsunami. Tidak ada gempa. Hanya riak kecil di permukaan laut yang sudah lama berhenti berombak besar.

C' est la vie, Arkan.

Aku mengetik balasan ke Reza: "Approve cutinya. Kirimkan parcel dari perusahaan — jangan yang berlebihan, sesuai standar karyawan saja."

Parcel pernikahan. Dari perusahaan. Standar. Tidak ada kartu ucapan pribadi. Tidak ada pesan tersembunyi. Hanya sebuah parcel yang akan sampai ke rumah keluarga Malim di Suak Gual, dibuka oleh tangan-tangan yang berbau garam, dan diterima sebagai kebaikan dari "perusahaan tempat Alika kerja" — tanpa ada yang tahu bahwa di balik logo PT Meridian Nusa Digital, ada seorang perempuan yang pernah berdiri di dermaga itu dan meninggalkan separuh jiwanya di sana.

Send.

Layar ketiga: spreadsheet baru. Judul yang baru kuketik dua hari lalu, di penerbangan pulang dari Belitung:

Sari — Fase 1.

Kolom-kolomnya masih sebagian besar kosong. Baru ada beberapa entri.

Pertama: Kartu debit dan kebutuhan harian. Statusnya aktif, diisi otomatis per bulan.

Kedua: Psikolog atau terapis. Masih berstatus pending, menunggu dicarikan referensi yang bagus di Pangkalpinang atau Jakarta.

Ketiga: Bimbingan belajar dan les privat. Juga masih pending, dengan prioritas mata pelajaran Matematika dan Bahasa Inggris.

Lihat selengkapnya