Timah Cair Dinda

Muhammad Sapril
Chapter #42

EPILOG — C' est La Vie

# EPILOG — C' est La Vie

Kalau kau sudah sampai di sini, kau sudah tahu siapa aku.

Bukan gadis naif yang jatuh cinta pada anak nelayan di lapangan upacara SMA. Bukan mahasiswi PKL yang percaya POKDARWIS bisa menyelamatkan pulau dari tangan keluarganya sendiri. Bukan pacar setia yang datang ke dermaga dengan satu ransel dan hati yang utuh, lalu pulang dengan keduanya kosong.

Semua itu memang pernah jadi aku. Tapi aku tidak tinggal di sana.

Namaku Dinda Maharani Hartono. Cucu Kong Kong yang mualaf demi cinta, anak Mama yang dibuang keluarganya demi cinta, dan pewaris Papa yang menghancurkan pulau demi angka.

Campuran Hakka dan Melayu. Cucunya kuli tambang Guangdong dan cucunya camat berdarah birokrat. Islam di KTP, pragmatis di spreadsheet, dan entah apa di hati — kalau masih tersisa.

Aku mewarisi timah.

Cair saat dipanaskan.

Keras saat mendingin.

Dan bisa dicetak jadi apa saja.

Terkadang, di antara rapat direksi dan conference call dengan investor, aku membuka laci meja. Mencabut kartu nama POKDARWIS yang sudah menguning dari balik kartu Centurion.

Aku membaca nama yang tercetak di sana. Arkan Mahesa Malim. Ketua.

Dan untuk beberapa detik — tidak lebih — aku mengizinkan diriku kembali ke sore itu di kebun lada. Ke tangan yang menyelipkan bunga kecil ke jariku. Ke bau garam dan amis ikan yang menempel di leher laki-laki yang mencintai pulaunya lebih dari apa pun, termasuk lebih dari aku.

Lalu aku memasukkan kartu itu kembali. Menutup laci. Dan kembali ke layar monitor.

Orang-orang di cerita ini masing-masing punya versi mereka tentang siapa Dinda Maharani Hartono.

Papa bilang aku pewaris yang akhirnya pulang.

Mama bilang aku anak perempuannya yang terlalu cepat dewasa.

Kong Kong bilang aku mirip kakek buyut — nekat dan pragmatis.

Arkan pernah bilang aku lada hitam yang dibungkus gula.

Asro mungkin masih bilang aku cewek kota.

Lihat selengkapnya