Time Has Come - Sydney Has Fallen

Saparuddin Santa
Chapter #2

Part 2 - Misteri Kematian Nenek Pembawa Tas

Part 2 - Misteri Kematian Nenek Pembawa Tas

           Suara tumpahan air di kamar mandi, dan musik blues yang tak teratur, membangunkan Sabir pagi itu. Ia sudah tidak ingat jam berapa Ia tiba di flatnya tadi malam. Dari kamar mandi, nyayian Bob menentukan waktu. Bob, teman satu flat Sabir selalu konsisten dengan waktu. Dan tanpa melihat jam, sabir sudah tahu bahwa sekarang sudah pukul 6.30. Sabir dan Bob belum saling mengenal secara baik. Sabir menemukan nomor telpon Bob tertempel di sebuah tiang listrik 2 minggu yang lalu. Di Sydney, orang-orang mencari room mate untuk berhemat bayar flat atau rumah kost, adalah hal yang wajar. Meski Bob tidak banyak bicara, tapi Sabir bisa merasakan bahwa Bob orang baik. Bob adalah salah satu pengurus serikat pekerja di Sydney, dan Ia sangat peduli dan menjadi marah, ketika Sabir bercerita bahwa, sabir pernah bekerja selama 2 minggu sebagai Kitchen Helper tanpa di gaji di Oscar Bankstown Hotel Sydney.

           Sabir masih ingat, saat pertama datang ke Sydney, hanya butuh satu hari istirahat dari jetleg setelah perjalanan 7 jam dari Denpasar menuju Sydney, Ia langsung mencari tahu bagaimana cara untuk sampai ke Sydney Opera House. Salah satu bangnan indah yang Sabir hanya bisa lihat di kalender, di masa kecil Sabir. Sabir ingat masa kecilnya, sebagai anak buruh tani, setiap pergantian tahun, Ia selalu meminta kepada ayahnya untuk membeli kalender dengan gambar-gambar bangunan atau gedung terkenal di dunia. Dan setiap ia melihat gambar itu, Ia berjanji bahwa suatu hari akan berkunjung ke negara dimana gedung tiu berada. Itulah yang menginspirasinya untuk tepat berada di sisi Sydney Harbour, sehari setelah kakinya menginjakkan kaki di Sydney..         

           Disanalah Ia, di bawah cahaya matahari senja yang di buru semua turis, di antara hiruk pikuk pemain akrobat, dan nyanyian indah para pemusik jalanan Aborigin, Sabir bertemu Pharos, seorang pemuda Philipina yang mengaku manager hotel. Di negeri Sabir, Indonesia, mempercayai orang yang ramah adalah hal yang sangat lazim. Hampir semua orang Indonesia, mudah percaya pada sikap baik dan sopan santun, bahkan dari seorang penjahat sekalipun. Dan dua hari kemudian, Sabir mulai bekerja sebagai tukang cuci piring di hotel tempat Pharos menjadi manager. Meski setelah dua minggu bekerja, Sabir akhirnya tahu bahwa, Pharos hanya seorang waiters di restoran hotel tersebut.

Lihat selengkapnya