Sepotong hati luruh di sudut matanya, mengendap dalam kesedihan yang tak terucap. Lamunannya melayang jauh, membawanya ke singgasana tanpa suara—sebuah tempat di mana kata-kata seharusnya berkuasa, tetapi kenyataan justru membungkamnya. Di sana, Republik Kata bangkit dengan berani, mendobrak lencana kebesaran, dan meruntuhkan ego para penguasa yang selama ini tak tersentuh.
Di tengah keheningan, ada kehangatan samar yang menyusup perlahan, mengalir bersama melodi yang tak pernah benar-benar sirna. Cahaya di sekelilingnya mulai redup, namun ia tetap bertahan, menyimpan seberkas senyuman sebagai bentuk perlawanan terakhir.
Namun, Republik Kata yang dulu menjadi perlindungan kini berubah menjadi ancaman. Ia diusir tanpa belas kasihan, didorong jauh hingga mencapai tepian jurang yang menganga. Meski demikian, di saku celananya, ia menyelipkan sejumput harapan—kecil, namun cukup berarti untuk membawanya bertahan. Ketika akhirnya ia jatuh, ia melakukannya dengan sempurna, membawa serta keyakinan bahwa kata-kata, sekali dilahirkan, tak akan pernah benar-benar mati.