TINTA HITAM

Rizki Mubarok
Chapter #3

Jika Nanti

Jika suatu hari jasadku singgah di berandamu, aku hanya ingin satu hal—senyummu. Senyum yang hangat, yang menyambutku tanpa ragu, seolah-olah waktu tak pernah memisahkan kita. Dalam diam, aku berharap kehadiranku meski sekilas, cukup untuk menghadirkan kebahagiaan di sudut hatimu.

Andai suaraku memudar, tergerus oleh waktu yang tak kenal ampun, aku ingin celotehanmu tetap menggema. Biarlah suaramu memenuhi angkasa, menghidupkan kembali kenangan yang perlahan mulai pudar. Dalam tiap kata yang kau ucapkan, aku menemukan jejak-jejak diriku yang mungkin telah hilang di perjalanan.

Jika suatu saat namaku kembali terbit di bola matamu, aku berharap hatiku tenggelam jauh di balik jiwamu. Aku ingin menjadi bagian dari duniamu, bukan sekadar ingatan yang melintas sesaat, melainkan sesuatu yang tetap ada—mengakar di sanubari.

Dan jika harapanku pada dunia ini lenyap tanpa jejak, aku hanya memohon satu hal. Bukan kemewahan atau janji-janji yang muluk. Yang kupinta hanyalah dirimu—sederhana, utuh, dan nyata—menjadi alasan di balik setiap doa yang kupanjatkan dalam sepi.


Lihat selengkapnya