Pagi pertama di TK Harapan Bangsa selalu riuh oleh tangisan anak-anak yang enggan dilepas orang tuanya, tetapi tidak bagi Samaira yang justru langsung berlari ke arah ayunan dengan senyum lebar.
"Ayah, cepat! Ayunannya keburu diambil orang!" seru Samaira sambil melambaikan tangan kecilnya, rambut kuncir kudanya berayun mengikuti setiap langkah penuh semangat di atas rumput hijau yang masih basah oleh embun pagi.
Arman, sang ayah, tertawa kecil sambil mempercepat langkahnya membawa tas ransel bergambar kelinci milik putrinya. Ia merapikan kerah kemejanya yang sedikit kusut akibat terburu-buru.
"Jangan terlalu cepat, Samaira! Nanti kamu jatuh," balas Arman dengan nada lembut, berusaha menyeimbangi energi putrinya yang seolah tidak ada habisnya.
Suasana halaman sekolah pagi itu benar-benar mirip pasar malam mini. Di sudut kiri, seorang anak laki-laki berbaju seragam baru tampak memeluk kaki ibunya erat-erat sambil meraung keras, menolak masuk ke dalam kelas. Di sudut kanan, seorang ibu kewalahan membujuk anaknya agar mau mengenakan topi sekolah. Bau minyak kayu putih, aroma jajanan pasar dari pedagang keliling di luar gerbang, dan suara derit ayunan berpadu menjadi satu menciptakan simfoni khas hari pertama sekolah.
Samaira tidak peduli dengan keributan di sekitarnya. Setibanya di dekat tiang ayunan berwarna merah muda, ia langsung mendudukkan diri dengan sigap. Tangannya yang mungil mencengkeram rantai besi yang terasa dingin di kulit.
"Ayah, dorong pelan-pelan ya! Jangan kencang-kencang!" pinta Samaira menoleh ke belakang dengan mata berbinar-binar penuh harap.
"Siap, Bos kecil. Pegangan yang kuat," ujar Arman. Ia berdiri tepat di belakang ayunan, lalu memberikan dorongan pertama yang lembut.
Ayunan pun meluncur ke depan, membawa Samaira terbang rendah menyambut angin pagi yang sejuk. Tawa renyah berderai lepas dari bibir kecilnya, menciptakan kebahagiaan sederhana yang seketika melunturkan rasa lelah Arman setelah semalaman lembur menyelesaikan laporan kantor.
Bagi Arman, melihat putrinya tumbuh dengan keberanian seperti ini adalah sebuah pencapaian terbesar. Samaira bukan tipe anak yang penakut. Sejak ibunya harus pergi untuk selama-lamanya dua tahun lalu, Arman mendidik Samaira untuk menjadi anak yang mandiri, ceria, dan tidak mudah menyerah pada keadaan.
"Sudah, Ayah! Rasanya aku bisa terbang sampai awan!" teriak Samaira kegirangan saat ayunannya mencapai titik tertinggi.
Arman tersenyum lebar. "Iya, tapi awannya jangan diambil semua, sisakan buat Ayah di rumah."
❖ ❖ ❖
Di tengah keriuhan itu, Samaira melihat seorang anak laki-laki berdiam diri di sudut halaman, memegang kotak bekalnya erat-erat tanpa berani bergabung dengan yang lain.
Anak itu berdiri kaku di bawah naungan pohon ketapang besar, mengenakan seragam yang tampak jauh lebih rapi dibanding anak-anak lain, seolah setiap lipatannya disetrika dengan sangat hati-hati. Tas ransel biru tua tergantung di satu bahunya, sementara kedua tangan kecilnya memeluk sebuah kotak bekal berwarna hijau terang seolah benda itu adalah perisai pelindung dari dunia luar.
Samaira yang tadinya asyik menikmati ayunan perlahan menghentikan laju mainannya dengan menurunkan kedua kakinya ke tanah, menyeret sepatu hitamnya hingga tercipta gesekan kecil pada pasir.
"Ayah, lihat anak itu," bisik Samaira sambil menunjuk ke arah sudut halaman dengan dagunya.
Arman mengalihkan pandangannya mengikuti arah telunjuk putrinya. Ia melihat sosok bocah laki-laki berambut rapi dengan mata besar yang memandang sekeliling dengan penuh kewaspadaan dan kecemasan mendalam.
"Kenapa dia tidak ikut bermain bersama teman-teman yang lain, Ayah?" tanya Samaira, ada rasa penasaran sekaligus empati yang tulus terpancar dari bola matanya yang jernih.
"Mungkin dia masih merasa asing, Nak. Ini kan hari pertama sekolah, tidak semua anak seberani kamu yang langsung lari ke ayunan," jawab Arman sambil berjongkok menyamakan tinggi badan dengan putrinya.
Samaira terdiam sejenak, memperhatikan bagaimana bocah itu sesekali menelan ludah, menarik napas panjang, lalu kembali menatap lantai paving block dengan bahu yang sedikit membungkuk. Ada kesepian yang pekat mengelilingi anak itu, kontras dengan keriuhan halaman sekolah yang penuh warna.
"Kasihan sekali, Ayah. Sendirian terus dari tadi," gumam Samaira pelan.
"Kalau kamu kasihan, kenapa tidak coba disapa?" usul Arman dengan senyum penuh dukungan, memberikan kebebasan bagi putrinya untuk belajar berinteraksi sosial secara langsung.
Samaira menggigit bibir bawahnya sebentar. Keraguan sempat hinggap di benak kecilnya, tetapi sifat ramah yang diwarisi dari ayahnya jauh lebih dominan. Ia mengangguk pelan, melepaskan pegangannya dari rantai ayunan, lalu melangkah pasti meninggalkan ayahnya yang berdiri mengawasi dari jarak beberapa meter.