Musim hujan mulai menyapa kota kecil itu dengan ritme yang konstan, mengubah pelataran Taman Kanak-Kanak Matahari pagi menjadi arena kubangan air kecil yang memantulkan langit kelabu. Di antara deru angin basah dan aroma tanah yang menguap, dua anak kecil berlarian ke sana ke mari tanpa memperdulikan seragam mereka yang mulai terciprat noda lumpur. Bagi Samaira dan Arkan, halaman sekolah yang basah ini bukanlah sebuah gangguan, melainkan sebuah panggung petualangan paling seru yang pernah diciptakan semesta. Tawa mereka berderai renyah, memecah kesunyian sore yang mendung.
"Kejar aku kalau bisa, Arkan!" teriak Samaira sembari berlari kecil, ujung rok seragamnya bergesekan dengan rumput basah.
Arkan terkekeh geli, kaki kecilnya menghentak genangan air hingga menciptakan cipratan yang membasahi kaos kaki putihnya. "Hei, tunggu! Jangan curang, Samaira! Langkahmu terlalu panjang!" balas Arkan dengan napas yang memburu karena kelelahan, namun senyum di wajahnya tidak pernah luntur.
Mereka berdua adalah sepasang sahabat yang hampir tidak pernah terpisahkan sejak hari pertama masuk sekolah. Di saat anak-anak lain masih menangis mencari pelukan ibu mereka di balik pagar, Samaira dan Arkan justru duduk berdampingan di sudut kelas, berbagi kotak pensil bergambar tokoh kartun kesukaan mereka. Hari-hari di taman kanak-kanak diisi dengan cerita-cerita sederhana, mulai dari perebutan crayon merah hingga pertengkaran kecil soal siapa yang berhak duduk di kursi dekat jendela.
"Ibu bilang, kalau hujan turun seperti ini, bumi sedang menangis karena rindu pada matahari," kata Samaira tiba-tiba, langkahnya melambat ketika mereka berdua tiba di bawah naungan emperan kelas yang teduh.
Arkan mengerutkan keningnya, menatap lurus ke arah langit kelabu yang menggantung rendah di atas atap seng sekolah. "Benarkah? Kalau begitu, matahari sangat jahat karena membuat bumi menunggu terlalu lama," ucap Arkan polos, jemarinya sibuk merapikan lipatan kertas origami di dalam saku rompinya yang sudah sedikit basah.
"Bukan jahat, Arkan. Matahari hanya sedang bersembunyi untuk menyiapkan pelangi yang lebih indah," sahut Samaira bijak, meniru gaya bicara Bu Guru Ani saat mendongeng di depan kelas.
Arkan tersenyum lebar mendengar jawaban itu. Ia sangat menyukai cara Samaira memandang dunia selalu penuh dengan warna, bahkan di hari-hari yang paling suram sekalipun. Di dalam saku bajunya, sebuah origami burung kertas berwarna biru muda tersimpan rapi, hasil kerja keras mereka selama jam istirahat tadi. Kertas itu adalah karya terakhir dari rangkaian proyek seni yang diajarkan oleh guru mereka sebelum libur panjang akhir semester tiba.
Suara deru angin kembali menderu, membawa butiran-butiran air hujan yang lebih rapat dan dingin. Suasana di sekitar halaman sekolah berangsur-angsur menjadi sepi karena sebagian besar anak-anak telah dijemput oleh orang tua mereka masing-masing. Hanya tinggal tersisa beberapa payung warna-warni yang hilir mudik di gerbang depan, menciptakan pemandangan yang remang-remang di bawah temaram lampu jalan yang mulai menyala lebih awal.
"Sepertinya jemputan kita sebentar lagi datang," bisik Arkan sambil melirik ke arah gerbang utama.
"Iya, tapi aku belum ingin pulang, Arkan. Aku masih ingin bermain perahu kertas di genangan air itu," tunjuk Samaira ke sebuah aliran kecil di dekat tiang bendera.
"Nanti bajumu basah kuyup, dan ibumu pasti akan marah besar," peringat Arkan dengan nada sok tua, meskipun matanya sendiri melirik genangan air tersebut dengan penuh minat.
"Tidak akan ketahuan kalau kita berhati-hati!" balas Samaira sambil tertawa kecil, memperlihatkan deretan giginya yang rapi.
❖ ❖ ❖
Di bawah payung besar berwarna merah yang sama, langkah kaki mereka terhenti tepat di tepi genangan air yang mengalir jernih di dekat saluran pembuangan sekolah. Angin bertiup cukup kencang, membuat payung yang dipegang berdua itu bergetar hebat menahan terjangan udara dingin. Tanpa sengaja, tangan Arkan tersenggol oleh ujung payung, membuat origami burung kertas biru muda yang tadi ia pegang terlepas dari genggamannya.
Plum!
Burung kertas itu meluncur mulus dan jatuh tepat ke tengah genangan air yang mengalir deras menuju selokan.