Tit Tak Sempurna

Amrullah Ibrahim
Chapter #4

Seragam Putih Merah

Pagi itu, udara di halaman Sekolah Dasar Negeri Tunas Bangsa terasa begitu bergeming, dipenuhi aroma kapur tulis baru, halaman beraspal panas, dan debu halus yang beterbangan disapu angin subuh. Gerbang besi tinggi bercat hijau lumut berdiri megah, menyambut gelombang kecil anak-anak manusia yang baru saja menanggalkan masa balita mereka. Di antara kerumunan itu, Samaira dan Arkan berjalan berdampingan, melangkah mantap memasuki halaman sekolah yang terasa bagaikan sebuah benua asing yang baru.

Seragam putih merah yang melekat di tubuh mereka terasa jauh lebih besar dari ukuran sebenarnya. Kain katun putih itu kaku dan berbau detergen murah, sementara rok dan celana merah menyala tampak begitu cerah di bawah terik matahari pagi. Samaira beberapa kali menarik ujung kerahnya yang terasa gatal di leher, sementara Arkan terus membenahi letak tas punggung bergambar pahlawan super yang merosot di bahu kecilnya.

"Kamu grogi enggak, Ar?" bisik Samaira, matanya menatap nanar ke arah kerumunan anak-anak asing yang berlarian di koridor.

Arkan menggeleng, meski jemarinya sendiri tak henti meremas tali tasnya dengan erat. "Enggaklah. Kan ada kamu," jawabnya singkat, meski suaranya sedikit bergetar menahan gugup.

"Tapi mereka semua kelihatan tinggi-tinggi, Ar. Gimana kalau kita nanti salah masuk kelas?" tanya Samaira lagi, nada cemasnya tak bisa disembunyikan.

"Enggak bakal salah. Ibu guru kan sudah bilang, kelas kita di lantai dua ujung dekat pohon mangga," balas Arkan menenangkan, mencoba berdiri sedikit lebih tegak untuk meyakinkan sahabat kecilnya itu.

Bagi mereka, perpindahan dari taman kanak-kanak ke sekolah dasar bukan sekadar naik tingkat usia, melainkan sebuah lompatan besar menuju kedewasaan semu. Seragam putih merah itu membuat mereka merasa seperti orang dewasa kecil yang siap menaklukkan dunia baru, meski di dalam hati, sisa-sisa aroma rumah dan pelukan ibu masih begitu lekat mengiringi langkah. Mereka menaiki tangga demi tangga semen yang kasar, suara sepatu pantofel hitam baru beradu nyaring dengan lantai keramik putih.

"Anak-anak, silakan cari meja kalian masing-masing sesuai nama yang tertempel di atas kayu," suara lembut Bu Lestari, wali kelas satu mereka, mengalun dari depan kelas yang luas dan beraroma cat dinding baru.

Samaira menarik napas dalam-dalam, bersiap melangkah masuk ke dalam ruangan yang dipenuhi deretan meja kayu cokelat muda yang mengilap terkena pantulan cahaya jendela. Di ruangan inilah lembaran baru kehidupan mereka resmi dimulai, terpisah dari dunia permainan bebas masa TK, menyambut aturan dan bel sekolah yang sebentar lagi akan mengubah segalanya.

❖ ❖ ❖

Suasana kelas satu mendadak riuh rendah oleh suara gesekan kursi dan gelak tawa anak-anak yang berebut tempat duduk. Di tengah kebisingan itu, Bu Lestari kembali menegakkan lembaran kertas daftar hadir di tangannya, lalu mulai membacakan nama-nama murid satu per satu untuk menentukan formasi kelompok belajar pertama mereka semester ini.

"Arkananta Dirgantara, duduk di meja nomor dua barisan tengah," panggil Bu Lestari tegas.

Arkan langsung beranjak, melangkah dengan pasti menuju meja yang ditunjuk, meletakkan tasnya di kursi kayu yang keras. Ia menoleh ke belakang, berharap Samaira akan dipanggil tepat di sebelah atau di belakangnya.

"Samaira Kirana, duduk di meja nomor delapan barisan paling ujung dekat jendela perpustakaan," lanjut Bu Lestari tanpa keraguan.

Seketika itu juga, dunia kecil mereka terasa berhenti berputar selama beberapa detik. Samaira mematung di tempatnya berdiri, matanya mengerjap cepat, menatap meja nomor delapan yang berada di sudut paling jauh dari tempat Arkan berdiri. Jarak di antara meja mereka terbentang begitu luas, dipisahkan oleh empat baris bangku dan puluhan pasang mata anak-anak lain yang tidak mereka kenal.

"Ar..." panggil Samaira pelan, suaranya hampir tenggelam di antara keriuhan isi kelas.

Arkan menatap meja Samaira, lalu menatap meja miliknya sendiri. Ada rasa canggung yang tiba-tiba menyergap dada mereka, rasa hampa yang asing setelah bertahun-tahun selalu duduk sebangku, berbagi pensil warna, dan saling meminjam penghapus wangi sejak zaman TK.

"Nggak apa-apa, Mai. Cuman beda meja doang," ucap Arkan, mencoba tersenyum walau bibirnya terasa kaku.

Samaira mengangguk kecil, berjalan pelan menyeret tasnya menuju sudut kelas yang ditunjuk. Ia duduk di kursi kayunya yang terasa dingin, sementara Arkan di sana, terpaku di barisan tengah. Untuk pertama kalinya dalam hidup mereka, ada sekat tak kasat mata yang memisahkan hari-hari sekolah mereka.

❖ ❖ ❖

Lihat selengkapnya