Terik matahari Senin pagi membakar lapangan upacara, membuat sebagian besar anak-anak kelas lima mulai merasa pusing dan lemas. Udara di halaman sekolah terasa berat, dipenuhi oleh uap panas yang menguap dari aspal lapangan yang baru saja disiram cahaya surya tanpa ampun. Suara pengeras suara yang berdengung keras memantul di dinding-dinding gedung sekolah, menyiarkan amanat pembina upacara yang terdengar panjang dan membosankan di telinga anak-anak yang sudah berdiri hampir satu jam lamanya.
"Duh, panas banget..." bisik seorang anak laki-laki di barisan belakang sambil mengibas-ngibaskan dasi merah putihnya ke udara, mencoba menciptakan angin palsu yang sia-sia.
"Diam, jangan banyak bergerak! Nanti dipantau sama guru disiplin," balas temannya dengan suara berbisik, matanya melirik gugup ke arah barisan guru yang berdiri tegak di bawah tenda kehormatan.
Di barisan kelas lima, suasana tidak jauh berbeda. Keringat bercucuran membasahi pelipis dan tengkuk anak-anak. Langit di atas tampak sangat biru tanpa sehelai pun awan yang berbaik hati menutupi sengatan sang surya. Pakaian putih yang dikenakan para siswa tampak mulai lepek, menempel di kulit akibat kelembapan udara yang tinggi.
"Arkan, kamu tidak merasa pusing?" tanya seorang anak bertubuh tinggi yang berdiri tepat di sebelah kiri Arkan, menyenggol pelan lengan temannya itu.
Arkan menggelengkan kepala, meskipun matanya sendiri harus menyipit tajam menahan silau yang luar biasa. "Lumayan gerah, tapi masih tahan. Kamu gimana, Gilang?" tanyanya balik tanpa mengalihkan pandangan dari mimbar upacara di depan sana.
"Kepalaku udah mulai berputar-putar sedikit. Kayaknya aku kurang tidur semalam," keluh Gilang dengan suara tertahan, wajahnya tampak pucat pasi menahan kantuk bercampur lelah.
"Tahan sebentar lagi. Sebentar lagi kan doa, biasanya habis itu langsung bubar," hibur Arkan dengan nada tenang, berusaha memberikan dukungan mental bagi temannya yang nyaris tumbang itu.
Di barisan paling depan, di mana deretan siswi berdiri dengan postur tegap, situasi justru memburuk lebih cepat. Samaira, yang dikenal sebagai salah satu siswi paling rajin dan selalu bersemangat dalam setiap kegiatan sekolah, hari ini tampak berbeda. Wajahnya yang biasanya cerah dan penuh bimbang kini kehilangan seluruh warna rona merah mudanya.
❖ ❖ ❖
Samaira yang berdiri di barisan depan mulai terlihat pucat dan limbung, sementara ketua kelas melarang siapa pun keluar barisan sebelum upacara selesai. Kakinya terasa bagaikan terbuat dari timah, sangat berat untuk digerakkan. Pandangan di depannya mulai kabur, berubah menjadi bayangan buram berwarna abu-abu yang berputar-putar tanpa bentuk yang jelas. Suara pidato kepala sekolah yang tadinya terdengar jelas kini berubah menjadi dengungan samar seperti suara lebah di dalam tempurung kelapa.
"Samaira, kamu kenapa? Wajahmu pucat banget," bisik sahabat di sebelah kanannya dengan nada cemas, melirik sekilas ke arah guru yang berdiri tidak jauh dari tempat mereka.
"Aku... aku pusing sekali," jawab Samaira dengan suara yang nyaris tak terdengar, bibirnya bergetar hebat menahan rasa mual yang mendadak menyerang perutnya.
"Ketua... ketua kelas..." panggil siswi tersebut dengan panik, mencoba menarik perhatian ketua kelas yang berdiri di ujung barisan dengan posisi dada membusung bangga menjalankan tugasnya.
Ketua kelas, seorang anak laki-laki bernama Bima yang sangat kaku dalam menegakkan peraturan, menoleh dengan pandangan tajam penuh wibawa buatan. Ia melangkah mendekati barisan depan tempat Samaira berdiri.
"Ada apa? Jangan bikin gaduh saat upacara sedang berlangsung!" bisik Bima setengah membentak, berusaha menjaga agar suaranya tidak terdengar oleh guru piket di seberang lapangan.
"Samaira mau pingsan, Bima. Boleh dia izin ke UKS sekarang?" pinta teman Samaira memohon dengan mata berkaca-kaca.
Bima menggelengkan kepala dengan tegas. "Tidak boleh! Peraturan sekolah itu jelas. Tidak boleh ada yang meninggalkan barisan sebelum upacara selesai dan penghormatan terakhir dibubarkan. Sebentar lagi juga selesai, tahan saja dulu!" tukas Bima tanpa sedikit pun rasa empati, menganggap keluhan itu hanya bentuk kelemahan biasa.
Samaira menggigit bibir bawahnya hingga pucat. Tubuhnya semakin condong ke depan. Lututnya melemas, kehilangan seluruh tenaga penopangnya. Ia tahu, jika ia bertahan sepuluh detik lagi saja, ia pasti akan jatuh tersungkur di atas paving block lapangan upacara yang panas membara itu. Namun, teguran Bima membuat anak-anak lain di sekitarnya tidak berani berbuat apa-apa selain menatap dengan cemas tanpa ada yang berani melangkah keluar barisan.
❖ ❖ ❖
Melihat kondisi Samaira, Arkan tanpa ragu melangkah keluar dari barisannya sendiri dan berdiri di depan Samaira untuk menjadi perisai tubuh yang menghalanginya dari sorotan matahari langsung.