Matahari sore menyemburkan bias jingga keemasan yang menembus kaca jendela ruang kelas enam Sekolah Dasar Nusantara. Debu-debu halus berterbangan, menari-nari dalam koridor cahaya yang hangat, menciptakan suasana tenang yang kontras dengan isi kepala Samaira yang kini tengah bergemuruh hebat. Di papan tulis hitam di depan kelas, tulisan tangan Pak Harun berderet panjang, padat, dan rumit. Rumus-rumus IPA mengenai sistem tata surya serta bagan rotasi planet digambar dengan kapur putih, memenuhi setiap jengkal ruang yang ada.
Samaira menggigit bibir bawahnya. Jemarinya yang memegang pensil mekanik tampak bergetar kecil di atas kertas buku tulis bergaris yang masih bersih. Sebagai seorang anak yang selalu menuntut kesempurnaan pada setiap detail pekerjaannya, ia tidak sanggup melihat catatannya berantakan atau ada bagian penjelasan guru yang terlewat. Namun, kecepatan menulis Pak Harun hari itu seolah berlomba dengan waktu.
"Aduh, cepat sekali..." gumam Samaira pelan, hampir tak terdengar di antara suara derit kursi kayu dan gesekan kapur di papan tulis.
Di bangku sebelah, sahabat sekaligus teman sebangkunya, Kirana, menghela napas panjang sambil meregangkan jemarinya yang kaku. "Sam, tanganku sudah hampir patah. Apakah kamu bisa membaca tulisan Pak Harun di sudut kanan atas itu? Mataku sudah berkunang-kunang."
Samaira melirik sekilas ke arah buku Kirana, lalu menggeleng pelan. "Tulisanmu masih lumayan, Kirana. Punya-ku malah tertinggal di bagian penjelasan tentang cincin Saturnus. Kalau catatan ini tidak lengkap, bagaimana aku bisa menghafalkannya untuk ujian akhir minggu depan? Nilaiku bisa turun, dan aku tidak boleh membiarkan itu terjadi."
Kirana terkekeh pelan, meski ada nada kelelahan dalam suaranya. "Kamu ini terlalu perfeksionis, Samaira. Sedikit saja ada yang kosong, duniamu rasanya mau runtuh. Tenang saja, besok pagi kita masih bisa meminjam buku catatan anak-anak lain atau menyalinnya saat istirahat."
"Tidak bisa begitu," sangkal Samaira dengan nada tegas namun lembut. Matanya kembali menatap papan tulis dengan sorot penuh tekad. "Catatan yang lengkap adalah kunci utama. Kalau menyalin dari orang lain, kadang gaya bahasanya tidak sesuai dengan pemahamanku saat guru menjelaskan."
Pak Harun di depan kelas tiba-tiba membalikkan badan, menghapus sisa kapur di tangannya dengan selembar kain lap. Suaranya yang berat menggema ke seluruh penjuru ruangan, memecah lamunan anak-anak.
"Baik anak-anak, materi tata surya untuk hari ini cukup sampai di sini. Ingat, bab ini akan menjadi salah satu komponen besar dalam ujian akhir semester kalian bulan depan. Pelajari dengan sungguh-sungguh, catat hal-hal penting, dan jangan mengandalkan hafalan sesaat. Waktu sudah habis, silakan kemasi barang-barang kalian dan bersiaplah untuk pulang."
Suara sorak-sorai gembira langsung bergemuruh di dalam kelas. Anak-anak dengan cepat memasukkan buku, pensil, dan penggaris ke dalam tas punggung masing-masing. Di barisan tengah, Arkan—seorang anak laki-laki pendiam yang duduk dua bangku di depan Samaira—tampak merapikan buku-bukunya dengan gerakan yang tenang dan teratur. Sesekali ia melirik ke belakang, ke arah meja Samaira yang tampak masih dipenuhi tumpukan buku catatan yang terbuka lebar.
Samaira tidak memperdulikan tatapan itu. Ia sibuk merapikan tasnya, memastikan tidak ada satu pun lembar kertas yang terlipat. Namun, di dalam hatinya, kecemasan mulai merayap naik. Waktu belajar malam ini terasa begitu krusial, dan persiapan harus segera dimulai tanpa ada hambatan.
❖ ❖ ❖
Langit sore berubah menjadi kelabu pekat dalam waktu singkat. Angin kencang berhembus membawa aroma tanah basah yang khas, menandakan badai besar siap menghantam kota kecil tempat tinggal mereka. Samaira berjalan terburu-buru menyusuri trotoar di dekat gerbang sekolah, langkah kakinya dipercepat seiring dengan rintik hujan pertama yang mulai jatuh menimpa payungnya.
Sesampainya di rumah, suasana terasa sepi karena kedua orang tuanya masih bekerja di kantor. Samaira langsung meletakkan tas punggungnya di atas meja belajar di kamarnya yang bernuansa pastel. Ia menarik napas dalam-dalam, bersiap untuk menjalani ritual belajarnya setiap sore: membuka buku catatan IPA, merangkum ulang poin-poin penting, dan mengerjakan soal latihan.
Ia membuka ritsleting tasnya, merogoh ke dalam untuk mencari buku catatan bersampul biru tua kesayangannya. Jemarinya meraba bagian dalam tas, namun yang ia temukan hanyalah kotak pensil dan beberapa buku pelajaran matematika.
Jantung Samaira mendadak berdegup kencang. Ia mengeluarkan seluruh isi tasnya ke atas meja, membongkar setiap sudut kain tas dengan panik. Buku catatan IPA miliknya tidak ada di sana.
"Tidak mungkin... di mana buku itu?" gumam Samaira dengan suara bergetar, napasnya mulai memburu.
Ia mencoba mengingat kembali kejadian di sekolah tadi. Ah, benar. Saat jam istirahat terakhir, ia sempat membawa buku itu ke perpustakaan untuk mencocokkan beberapa gambar galaksi, lalu meletakkannya di atas meja baca kayu di dekat jendela sudut perpustakaan. Karena terburu-buru merapikan barang saat bel pulang berbunyi, ia lupa memasukkannya kembali ke dalam tas.
Di luar, suara petir menggelegar hebat, disusul oleh derat air hujan yang turun semakin lebat, menghantam genteng rumah dengan suara gemuruh yang memekakkan telinga. Samaira mematung di depan meja belajarnya. Air matanya hampir tumpah seketika.