Tit Tak Sempurna

Amrullah Ibrahim
Chapter #9

Debu Kapur Putih dan Seragam Abu-Abu

Bau khas debu kapur putih yang menguar dari papan tulis selalu menjadi penanda paling otentik bagi Samaira bahwa masa-masa sekolah menengah atas bukanlah sekadar tempat menuntut ilmu, melainkan sebuah teater emosi yang berjalan begitu cepat. Deru kipas angin kelas sebelas berputar lesu, berusaha mengusir gerah yang merayap di balik kemeja seragam abu-abu yang melekat pas di badan. Lorong sekolah hari itu riuh rendah oleh suara sepatu pantofel yang beradu dengan lantai keramik, diselingi gelak tawa renyah dan gosip-gosip hangat antarkelas yang menguar di setiap sudut koridor. Samaira berdiri di dekat loker kayu bercat hijau lumut, jemarinya sibuk merapikan buku paket matematika yang sampul plastiknya mulai mengelupas di bagian sudut.

"Sam! Kamu dengar gosip tentang anak kelas sebelah yang hampir diskors karena bawa komik dewasa minggu lalu?" tanya Viona, sahabat karib Samaira, sambil setengah berlari menghampiri dengan napas memburu dan mata berbinar-binar penuh antusiasme.

Samaira menutup pintu lokernya dengan bunyi dentum pelan. Ia menoleh, menatap Viona yang sedang membenahi letak dasi abu-abunya yang miring ke kiri. "Belum dengar, Vi. Emangnya siapa yang bawa? Jangan bilang si Galang lagi yang hobi bikin masalah."

"Bukan Galang, tapi si Reyhan dari kelas XI IPS dua! Katanya disita langsung sama Pak Badri sewaktu razia mendadak jam pertama tadi," jawab Viona bersemangat, mendekatkan wajahnya agar tidak terdengar oleh siswa lain yang berlalu-lalang. "Untung banget kelas kita aman hari ini. Kalau nggak, habis sudah nasib aku gara-gara bawa novel roman saku di dalam tas."

Samaira menggelengkan kepala pelan, tersenyum kecil melihat tingkah sahabatnya itu. "Makanya, jangan suka sembarangan bawa buku bacaan terlarang ke sekolah. Kalau ketahuan lagi, aku nggak bakal mau bantuin kamu ngerjain PR biologi."

"Iya, ampun deh, Ibu Guru Samaira yang budiman," gerutu Viona sambil mencolek lengan Samaira dengan gemas. "Oh ya, omong-omong soal cowok, tadi pagi aku lihat Arkan jalan bareng geng basketnya di lapangan. Duh, sumpah ya, dia makin hari makin keliatan kayak pemeran utama drama korea. Tinggi, pendiam, tapi auranya itu lho, bikin salah tingkah sendiri."

Mendengar nama Arkan disebut, Samaira merasakan debar kecil yang asing di rongga dadanya, meski ia berusaha keras memasang ekspresi sedingin mungkin. "Arkan kan emang dari dulu begitu, Vi. Biasa aja perasaan."

"Biasa aja dari mananya? Kamu tuh ya, punya sahabat cowok yang satu sekolah naksir setengah mati tapi gayanya lempeng banget kayak setrikaan," sungut Viona dengan mata menyipit menyelidiki. "Coba kalau dia bukan sahabat masa kecilmu, pasti kamu udah ikutan histeris kayak anak-anak kelas sebelah."

"Udah, ah. Jangan ngawur," sahut Samaira cepat, meraba tali ranselnya untuk menyembunyikan salah tingkah. "Kita harus cepet-cepet ke kelas sekarang sebelum bel masuk berbunyi dan Bu Siska ngamuk di depan pintu."

Viona terkikik geli, namun ia menuruti langkah Samaira yang mulai berjalan menyusuri koridor panjang berlantai dua tersebut. Udara pagi terasa hangat, membawa aroma khas halaman sekolah yang baru saja disiram oleh petugas kebersihan. Di tengah perjalanan, pikiran Samaira melayang pada sosok Arkan—sahabat yang telah mengisi separuh lembar hidupnya sejak mereka duduk di bangku sekolah dasar. Hubungan yang terjalin di antara mereka begitu erat, namun di saat yang sama, batasan-batasan tak kasat mata mulai terbentuk seiring pertambahan usia dan perubahan emosi yang kerap kali sulit dikendalikan.

❖ ❖ ❖

Suasana pagi yang tadinya berjalan normal mendadak berubah menjadi ujian ketangkasan yang menegangkan ketika bel masuk sekolah berdering nyaring menggema di seluruh penjuru gedung. Samaira yang menyadari bahwa ia sudah terlambat lima menit untuk pelajaran sejarah peminatan langsung mempercepat langkah kakinya. Langkahnya berubah menjadi lari kecil menaiki anak tangga utama gedung utara yang terkenal curam dan selalu padat oleh siswa-siswi yang berebut masuk kelas.

"Sam, tungguin aku! Jangan ngebut-ngebut, nanti kamu jatuh!" seru Viona dari belakang, terengah-engah membawa setumpuk buku tugas di pelukannya.

"Kita udah terlambat, Vi! Kalau Bu Siska kunci pintu dari dalam, tamat riwayat nilai kita semester ini!" balas Samaira tanpa menoleh ke belakang, matanya fokus menatap anak tangga demi anak tangga yang harus ia taklukkan secepat kilat.

Nahas, di tengah keterburu-buruan itu, ujung sepatu pantofel Samaira yang bagian talinya sudah mulai longgar mendadak menginjak lipatan rok abu-abunya sendiri. Keseimbangannya langsung hilang seketika. Tubuhnya terhuyung ke depan dengan posisi yang sangat tidak menguntungkan, tepat di hadapan gerombolan anak-anak populer sekolah—kelompok siswa elit yang dipimpin oleh Kevin dan geng basketnya yang terkenal suka mencemooh murid lain.

"Eh, ada calon peragawati jatuh dari panggung!" teriak Kevin dengan nada suara mengejek yang sengaja dikeraskan agar seluruh lorong tangga mendengarnya.

Beberapa siswa perempuan berpenampilan modis yang berdiri di samping Kevin langsung menutup mulut mereka sambil tertawa cekikikan melihat insiden kecil yang memalukan itu. Samaira memejamkan matanya rapat-rapat, bersiap merasakan sakitnya benturan keras di lantai keramik kasar serta rasa malu luar biasa yang pasti akan membakar pipinya di hadapan puluhan pasang mata yang sedang menatapnya penuh minat.

Lihat selengkapnya