Tit Tak Sempurna

Amrullah Ibrahim
Chapter #10

Sajadah Panjang di Ruang Musik

Langit sore di atas kompleks Sekolah Menengah Atas Pelita Bangsa membentang jingga keemasan, dihiasi gumpalan awan tipis yang berarak perlahan. Namun, suasana di dalam gedung sekolah tidaklah setenang pemandangan di luar. Lorong-lorong lantai dua bergemuruh oleh suara sepatu, gelak tawa, dan teriakan anak-anak ekskul yang bersiap menghadapi pekan ujian semester. Di sudut paling ujung gedung, ruang musik menjadi pusat dari segala kebisingan tersebut. Suara petikan gitar bass yang disetel terlalu keras, dentuman drum yang konstan, dan suara tawa para anggota band berpadu menciptakan atmosfer yang melelahkan.

Di tengah riuhnya ruangan yang berantakan dengan kabel jack dan lembaran partitur yang berserakan, Hok berdiri sambil melipat tangan di depan dada. Napasnya terengah-engah setelah hampir satu jam penuh mengatur tata letak panggung untuk pentas seni akhir tahun. Ia menyeka peluh di keningnya dengan punggung tangan, lalu melirik arloji digital di pergelangan tangannya. Pukul 15.15 WIB. Waktu Ashar sudah berjalan cukup jauh, dan deru aktivitas ekstrakurikuler yang tiada henti ini sering kali membuat kewajiban spiritual terabaikan di tengah hiruk-pikuk persiapan ujian.

"Hok! Sini sebentar, bantu aku cek mikrofon ini!" panggil seorang anggota band dari sudut ruangan.

Hok mendengus pelan, menepis sejenak kecemasan di hatinya tentang waktu sholat yang terus berjalan. "Sebentar!" balasnya setengah berteriak menembus suara bising amplifikator.

Ia melangkah mendekati meja mixing, menggeser beberapa tombol fader untuk meredam dengung suara yang mengganggu. Tatapannya kemudian menyapu seluruh ruangan, mencari keberadaan Samaira, gadis yang sejak tadi siang bertanggung jawab penuh atas penataan aransemen lagu utama band mereka. Samaira dikenal sebagai siswi yang perfeksionis, namun ketekunannya sering kali mengorbankan batas-batas fisiknya sendiri. Di tengah tekanan ujian semester yang menghimpit dan tuntutan latihan yang padat, beban itu tampak jelas membebani pundak kecilnya.

"Mana Samaira?" tanya Hok pada salah satu pemain gitar yang sedang duduk selonjoran di lantai.

"Tadi dia bilang pusing, terus duduk di pojokan dekat tumpukan partitur lama. Mungkin ketiduran saking capeknya," jawab anak itu tanpa beban, lalu kembali memetik senar gitarnya sembarangan.

Hok mengangguk kaku. Ia tahu persis betapa kerasnya Samaira bekerja selama seminggu terakhir. Gadis itu bahkan tidak pulang ke rumah sejak kemarin malam demi merampungkan seluruh partitur orkestra mini yang diminta oleh pihak sekolah. Hok memutuskan untuk membiarkan anak-anak band melanjutkan latihan mereka dengan volume yang sedikit dikurangi, sementara ia sendiri melangkah pelan menuju sudut ruangan tempat Samaira berada.

❖ ❖ ❖

Langkah kaki Hok terhenti tepat di depan tumpukan lembaran partitur yang berserakan di dekat rak instrumen. Di sana, di balik bayang-bayang piano grand yang tertutup kain bludru hitam, Samaira terbaring lemah. Tubuhnya meringkuk di atas lantai berkarpet tebal, dengan kepala yang beralaskan jaket fleece kebesaran miliknya. Napas gadis itu terdengar teratur, namun terlihat begitu rapuh. Di samping tangan kanannya yang terkulai lemas, sebuah pensil mekanik masih tergenggam erat, seolah-olah ia tertidur di tengah-tengah coretan nada terakhirnya.

Hok berjongkok perlahan, berusaha tidak menimbulkan suara gaduh yang bisa mengejutkan Samaira. Ia melirik sekilas ke arah jendela besar di samping mereka. Semburat jingga senja kini mulai memudar, bergantikan warna kelabu keunguan yang menandakan bahwa senja tidak akan bertahan lama. Pukul 15.45 WIB. Batas akhir waktu sholat Ashar hampir habis, menyisakan tidak lebih dari lima belas menit sebelum matahari benar-benar tenggelam di balik gedung-gedung tinggi perkotaan.

"Mai..." bisik Hok pelan, mencoba membangunkan gadis itu dengan sentuhan ringan di ujung bahunya.

Tidak ada respons. Samaira hanya menggeliat kecil, menarik napas lebih dalam, lalu kembali tenggelam dalam lelapnya. Kelelahan yang luar biasa telah merenggut kesadarannya begitu dalam. Wajahnya tampak pucat, dengan bayangan hitam tipis melingkar di bawah kelopak matanya yang terpejam rapat.

Hok meremas jemarinya sendiri. Rasa bersalah tiba-tiba mencuat di dadanya. Sebagai ketua panitia, ia terlalu memforsir tenaga semua orang, termasuk Samaira, tanpa mengingat batasan waktu ibadah yang seharusnya menjadi prioritas utama. Suara bising dari anak-anak band di sisi lain ruangan tiba-tiba terasa begitu jauh dan hampa. Yang ada di dalam benaknya saat ini bukanlah tentang pentas seni atau nilai ujian semester, melainkan sebuah kewajiban agung yang hampir terlewatkan oleh sahabatnya ini.

Lihat selengkapnya