Tit Tak Sempurna

Amrullah Ibrahim
Chapter #11

Riuhnya Kantin, Cemburu yang Tertahan

Popularitas Arkan sebagai kapten tim basket dan siswa berprestasi mendatangkan banyak penggemar rahasia dari kelas lain yang kerap mendekatinya di kantin.

"Arkan, ini roti isi buatan mamaku. Katanya kamu suka yang rasa keju cokelat," ujar seorang siswi berambut panjang dengan pita merah muda sambil menyodorkan sekotak wadah plastik bernuansa pastel di atas meja kantin.

Arkan, yang baru saja duduk setelah lelah melakoni latihan fisik bersama tim basket sekolah, mendongak pelan. Napasnya masih sedikit terengah-engah, peluh tipis menghiasi pelipisnya. Ia menatap kotak itu sekilas tanpa sedikit pun berniat untuk meraihnya.

"Terima kasih, tapi simpan saja untuk kamu sendiri. Aku sudah bawa bekal dari rumah," jawab Arkan dengan nada datar namun tetap sopan, lalu kembali meneguk botol air mineral di tangannya.

Gadis ber-pita merah muda itu tampak menggigit bibir bawahnya, kecewa namun tidak langsung menyerah. Ia berdiri cukup lama di dekat meja pojok itu sebelum akhirnya berjalan pergi dengan langkah tertahan. Kejadian seperti ini bukanlah pemandangan baru di SMA Harapan Bangsa. Sejak Arkan didapuk menjadi kapten tim basket sekaligus peraih medali emas olimpiade sains nasional, meja makannya di kantin selalu berubah menjadi pusat perhatian, mirip magnet yang menarik perhatian para siswi dari berbagai penjuru tingkat kelas.

Di meja seberang, tidak jauh dari kerumunan kecil para pengagum rahasia itu, Samaira duduk tenang sambil menikmati seporsi siomay hangat favoritnya. Kuah kacang yang kental berpadu sempurna dengan potongan tahu dan siomay kukus, menciptakan cita rasa gurih yang selalu berhasil mengembalikan mood-nya setelah jam pelajaran matematika peminatan yang melelahkan.

"Parah banget, Arkan. Kamu ini kantin apa pameran toko kue sih? Tiap istirahat pasti ada aja yang ngasih sesajen," komentar Siska, teman sebangku Samaira, sambil terkikik geli menyenggol lengan sahabatnya itu.

Samaira hanya tersenyum tipis, menelan kunyahannya perlahan. "Biarin saja. Risiko jadi orang terkenal. Lagian Arkan kan cuma fokus latihan basket dan belajar, mana peduli sama hal-hal begitu."

"Yakin cuma fokus basket? Coba lihat tuh, si Celine dari kelas sepuluh bahasa keliatan banget ngeliatin kamu sinis dari tadi," bisik Siska sambil melirik tajam ke arah meja lain di sudut ruangan kantin yang penuh sesak oleh aroma bakso dan soto ayam.

Samaira menghentikan garpunya. Ia menoleh sekilas, mendapati Celine—siswi terkenal yang dikenal ambisius dan gemar mencari perhatian—sedang menatapnya dengan pandangan tidak suka. Ada sorot permusuhan yang kentara dari cara Celine memandangnya, seolah kehadiran Samaira di dekat Arkan adalah sebuah kesalahan besar yang tidak bisa dimaafkan.

"Sudahlah, Siska. Jangan dibahas. Aku cuma mau makan tenang hari ini," kata Samaira mengabaikan rasa tidak nyaman yang mulai merayap di dadanya.

❖ ❖ ❖

Saat Samaira sedang menikmati siomay pesanannya, seorang siswi kelas sepuluh dengan sengaja menumpahkan es teh hingga membasahi seragam bagian lengan Samaira.

Suasana kantin yang bising oleh suara dentingan sendok dan gelak tawa siswa-siswi mendadak terasa pecah ketika sebuah insiden kecil terjadi di dekat jalur jalan utama kantin. Celine, yang berjalan melewati meja Samaira dengan membawa segelas plastik besar es teh manis, tiba-tiba kehilangan keseimbangan tepat di sebelah kursi Samaira.

Prang! Pluk!

Gelas plastik itu terjatuh ke lantai, namun sebelum benar-benar membentur keramik, cairan teh manis dingin berwarna cokelat pekat telanjur tumpah deras. Sebagian besar air es itu menyiram tepat di atas meja, meluncur bebas, dan merendam lengan kanan kemeja putih bersih milik Samaira hingga basah kuyup.

"Aduh! Ya ampun, maaf banget! Aku nggak sengaja!" seru Celine dengan nada suara yang terdengar sangat dibuat-buat, sama sekali tidak mencerminkan rasa bersalah yang sesungguhnya.

Samaira tersentak kaget. Ia langsung berdiri dari kursinya, menepis bagian lengan baju seragamnya yang kini basah dan menempel erat di kulit tangannya. Noda kecokelatan akibat teh manis langsung meresap ke dalam kain putih tersebut, membuat penampilannya terlihat berantakan seketika.

"Eh... basah semua, Lin. Kenapa jalan nggak hati-hati?" ucap Siska geram, langsung mengambil tisu dari atas meja untuk membantu mengeringkan lengan Samaira.

Celine mendengus pelan, melipat tangan di dada dengan ekspresi meremehkan yang ditutupi senyuman tipis. "Kan sudah kubilang aku nggak sengaja, Siska. Lagian, jalur jalannya kan sempit, makanya kalau duduk jangan terlalu menjorok ke tengah jalan."

Samaira menatap kemejanya yang kotor dengan perasaan campur aduk antara kesal, malu, dan sesak di dada. Ia tahu persis bahwa lorong di samping mejanya sangat luas dan tidak mungkin membuat seseorang terpeleset jika berjalan dengan normal. Jelas sekali bahwa tindakan itu disengajakan oleh Celine karena rasa cemburu yang membara.

"Jalur jalannya luas, Celine. Kamu bisa lihat sendiri kalau kamu tadi sengaja memiringkan gelasmu ke arahku," balas Samaira dengan suara tenang namun tegas, berusaha menjaga harga dirinya di hadapan ratusan pasang mata siswa yang kini mulai menghentikan aktivitas makan mereka dan beralih memperhatikan insiden tersebut.

Wajah Celine sedikit memerah karena kedoknya langsung dibongkar. Ia mendongakkan dagunya, mencoba melawan balik dengan nada tinggi. "Wah, jadi sekarang kamu mau menuduhku sengaja? Hebat banget ya jadi anak kesayangan kapten basket, ngomong sembarangan tanpa bukti!"

Lihat selengkapnya