Malam puncak ujian nasional kian mendekat, membuat rumah mereka yang saling berdampingan tampak terang benderang hingga larut malam.
Di kamar Samaira, tumpukan buku cetak, modul latihan soal tebal, dan kertas coret-coretan memenuhi setiap jengkal meja belajarnya. Cahaya lampu meja berwarna putih benderang menyorot tajam ke arah buku latihan fisika yang terbuka lebar. Di luar sana, angin malam berhembus pelan, menerbangkan dedaunan kering yang jatuh di halaman samping rumah. Namun, keheningan malam sama sekali tidak terasa menenangkan; sebaliknya, suasana itu terasa mencekam bagi siapa saja yang tengah berjuang menghadapi masa depan akademik mereka.
Samaira mendesah berat, melepaskan pulpen dari genggamannya lalu memijat pelipisnya yang berdenyut-denyut. Waktu di sudut kanan bawah laptopnya sudah menunjukkan pukul sebelas lewat seperempat malam.
"Kenapa soal-soal ini rasanya semakin tidak masuk akal setiap kali aku membacanya?" gumam Samaira pelan, menatap nanar deretan rumus rumit di hadapannya.
Di sisi lain, tepat di seberang halaman kecil yang memisahkan kedua rumah mereka, jendela kamar Arkan juga memancarkan cahaya kuning hangat. Dari tempat Samaira duduk, siluet Arkan tampak sibuk membolak-balik halaman buku tebal sambil mencatat sesuatu dengan penuh konsentrasi. Rumah mereka yang dibangun berdampingan sejak kepindahan keluarga bertahun-tahun lalu kini menjadi benteng pertahanan bersama dalam menghadapi badai ujian akhir sekolah menengah.
Samaira kembali meraih pulpennya, mencoba menuliskan rumus baru di atas kertas buram. Namun, pikirannya sudah terlalu lelah untuk berpikir jernih. Angka-angka dan simbol variabel itu berputar-putar di dalam kepalanya bagaikan labirin tanpa ujung.
Ia melirik sekilas ke arah jendela kamar Arkan yang tirainya tersingkap setengah. Terlihat jelas betapa seriusnya sahabat masa kecilnya itu dalam mempersiapkan diri. Pemandangan itu sesungguhnya memberikan dorongan semangat, tetapi malam ini, tekanan ujian nasional terasa jauh lebih berat daripada beban mental yang sanggup ia tanggung sendirian.
❖ ❖ ❖
Samaira merasa frustrasi menghadapi soal fisika kuantum yang rumit, hingga air mata kecil hampir menetes di lembar kertas latihannya.
"Ini benar-benar tidak masuk akal!" gerutu Samaira dengan nada suara tertahan, takut membangunkan orang tuanya yang sudah tidur lelap di kamar sebelah.
Ia kembali membaca sebuah soal cerita mengenai gelombang elektromagnetik dan teori kuantum modern. Sudah lima kali ia mencoba memasukkan angka-angka ke dalam rumus yang tertera di buku panduan, tetapi hasil akhirnya selalu melenceng jauh dari pilihan jawaban ganda yang tersedia. Semakin ia mencoba mencari letak kesalahannya, semakin buntu pula jalan pikirannya.
"Kalau aku tidak bisa melewati ujian fisika ini, bagaimana aku bisa masuk universitas impianku?" bisik Samaira lirih, suaranya mulai bergetar.
Ketegangan yang menumpuk selama berhari-hari—kurang tidur, tekanan batin, dan ekspektasi yang tinggi—akhirnya mencapai titik didih. Sebuah bulir air mata yang hangat lolos dari sudut matanya, menetes tepat di atas kertas coret-coretan rumus fisika kuantum hingga tinta pulpennya sedikit luntur.
Samaira menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Bahunya bergetar pelan. Rasa putus asa mendadak merayap masuk, menggerogoti sisa-sisa kepercayaan dirinya. Di masa remaja seperti ini, segala sesuatunya terasa begitu besar dan menentukan, seolah satu kesalahan kecil pada lembar jawaban ujian akan menghancurkan seluruh masa depannya.
"Kenapa harus ada fisika di dunia ini..." erang Samaira pelan ke dalam kedua telapak tangannya, membiarkan keheningan malam meredam isak tangis kecilnya yang tertahan oleh bantal kursi belajar.
❖ ❖ ❖
Ketukan pelan di kaca jendela kamarnya membuyarkan kekesalan itu; Arkan muncul dengan membawa secangkir cokelat hangat dan buku catatan rumus lengkap buatannya.
Tok... tok... tok.
Samaira mengangkat kepalanya seketika, mengusap kasar sisa air mata di pipinya dengan punggung tangan. Ia menoleh ke arah sumber suara. Di balik kaca jendela kamarnya yang menghadap langsung ke arah rumah Arkan, sosok pemuda itu tampak berdiri di atas undakan kecil luar jendela dengan senyuman tipis yang menenangkan.