Tit Tak Sempurna

Amrullah Ibrahim
Chapter #13

Hujan Deras dan Payung di Halte Lama

Langit kota mendadak berubah gelap gulita ketika jarum jam menunjuk pukul tiga sore, mengubah siang yang tadinya benderang menjadi remang-remang layaknya senja. Tanpa ada tanda-tanda peringatan atau angin sepoi-sepoi yang biasanya mendahului, hujan badai yang sangat deras mengguyur seluruh sudut kota tepat saat jam kepulangan sekolah akhir pekan berbunyi. Suara gemuruh petir mengguncang udara, disusul oleh tumpahan air dari langit yang begitu lebat hingga membuat jarak pandang hanya tersisa beberapa meter saja. Genangan air langsung merendam trotoar dalam hitungan detik, melumpuhkan seluruh kendaraan umum yang biasa berjejer di halte depan sekolah menengah atas.

"Astaga, badai macam apa ini?" gumam Samaira cemas, berdiri terpaku di bawah atap halte tua yang sudah mulai bocor di beberapa titik.

Para siswa yang tadinya berkerumun riuh di depan gerbang kini berlarian menyelamatkan diri mencari tempat berteduh terdekat. Suara kendaraan bermotor yang mogok menambah keriuhan suasana sore itu. Samaira merapatkan jaket rajutnya yang mulai terasa lembap oleh cipratan air hujan yang terbawa angin kencang. Ia menatap nanar ke arah jalan raya yang berubah menjadi aliran sungai kecil, membuat bus kota langganannya mustahil bisa melintas dalam waktu dekat.

"Busnya pasti terjebak macet total di simpang jalan utama," kata seorang siswi di sebelah Samaira dengan nada putus asa, sibuk menutupi kepalanya dengan tas sekolah.

"Iya, semoga saja hujan ini cepat reda sebelum hari benar-benar gelap," balas Samaira mencoba tenang, meskipun dalam hatinya ia mulai diselimuti rasa panik yang merayap pelan.

Keadaan di halte itu semakin lama semakin sepi karena satu persatu anak-anak mulai dijemput oleh orang tua mereka menggunakan mobil pribadi. Sementara Samaira masih harus berdiri seorang diri, menatap layar ponselnya yang mendadak mati total tanpa sisa daya.

❖ ❖ ❖

Samaira terjebak seorang diri tanpa payung di halte yang mulai kosong, sementara baterai ponselnya habis total di tengah udara dingin yang menusuk hingga ke tulang sumsum. Ia menekan-nekan tombol daya ponselnya berulang kali dengan penuh harapan, namun layar benda pipih itu tetap membisu dalam kegelapan. Tidak ada cara bagi Samaira untuk menghubungi rumah atau memesan taksi online di tengah situasi yang semakin kacau ini. Angin malam yang dingin mulai bertiup kencang, membawa bulir-bulir air hujan yang menembus batas atap halte dan membasahi sisi lengan seragamnya.

"Sial, kenapa harus mati sekarang sih?" gerutu Samaira pelan, menggosok-gosok kedua telapak tangannya yang mulai terasa kaku dan mati rasa karena suhu yang drastis menurun.

Ia melirik ke kanan dan ke kiri, mendapati jalanan di depan sekolah sudah hampir lengang dari aktivitas pejalan kaki. Hanya terdengar suara deru air hujan yang menghantam aspal dan genting bangunan dengan brutal. Rasa kesepian dan rasa terasing tiba-tiba menghimpit dadanya dengan kuat. Di tengah cuaca yang ekstrem ini, ia merasa menjadi orang paling malang di muka bumi.

"Ibu pasti sedang cemas setengah mati di rumah karena aku belum juga sampai," batin Samaira semakin gelisah, langkah kakinya mondar-mandir kecil di lantai halte yang licin untuk menghangatkan tubuhnya yang mulai menggigil.

❖ ❖ ❖

Dari kejauhan, di balik tirai air hujan yang begitu lebat, sesosok tubuh tinggi berjaket hitam berlari kencang membelah genangan air. Sosok itu membawa sebuah payung biru laut yang warnanya tampak begitu familier di mata Samaira, sangat mirip dengan warna jam tangan pemberian lima tahun lalu yang selalu ia simpan rapi di laci mejanya. Langkah kaki orang itu begitu cepat, menerjang cipratan air tanpa ragu, seolah ada sesuatu yang sangat penting dan mendesak di ujung penantian ini.

Lihat selengkapnya