Tit Tak Sempurna

Amrullah Ibrahim
Chapter #15

Kota Baru dan Layar Ponsel yang Menyala

Deru kendaraan ibu kota dan hamparan kampus baru yang megah menyambut Samaira di hari pertamanya kuliah kedokteran, jauh dari zona nyaman yang biasa ia kenal. Udara pagi kota metropolitan terasa begitu pekat, bercampur antara asap knalpot kendaraan bermotor dan debu jalanan yang mengepul tebal di bawah langit abu-abu. Kampus kedokteran tempatnya menimba ilmu berdiri megah dengan arsitektur modern berkolom tinggi, dikelilingi oleh lalu-lalang mahasiswa senior yang mengenakan jas laboratorium putih bersih berkalung stetoskop di leher mereka.

Samaira berdiri terpaku di depan gerbang utama, meremas tali ransel hitamnya dengan jemari yang terasa dingin. Kakinya terasa kaku, seolah enggan melangkah lebih jauh ke dalam dunia baru yang menuntut kedisiplinan tingkat tinggi dan tekanan mental luar biasa.

"Hei, kamu mahasiswi baru program studi kedokteran juga?" sapa seorang gadis berambut sebahu yang tiba-tiba muncul di sampingnya, membawa setumpuk buku tebal bersampul keras.

Samaira mengerjap pelan, lalu mengangguk kaku. "Iya, benar. Aku Samaira," jawabnya dengan suara yang terdengar sedikit gugup.

"Kenalkan, aku Nindia. Asli dari Bandung. Wah, wajahmu pucat banget, Air. Jangan bilang kamu sudah stres sebelum kuliah perdana dimulai?" gurau Nindia renyah, mencoba mencairkan ketegangan yang terlihat jelas di wajah Samaira.

"Bukan stres, cuma masih merasa asing saja dengan suasana di sini. Semuanya terasa begitu cepat dan besar," aku Samaira jujur, melirik ke arah gedung-gedung tinggi pencakar langit yang mengapit kawasan kampus.

"Wajar kok. Aku juga merasakannya. Tapi tenang saja, kita hadapi ini sama-sama," kata Nindia menepuk bahu Samaira pelan sebelum mereka berdua melangkah beriringan memasuki auditorium besar yang sudah dipadati ratusan mahasiswa baru.

Hari-hari berikutnya berlalu dalam kecepatan kilat yang melelahkan. Kuliah pengantar anatomi, biokimia dasar, dan histologi langsung menghantam Samaira tanpa ampun sejak minggu pertama. Tumpukan modul setebal kamus kedokteran memenuhi meja belajarnya di kamar indekos yang berukuran sempit. Tidak ada lagi suara tawa ibunya di dapur rumah, atau sapaan usil dari lingkungan masa kecil yang akrab. Yang ada hanyalah kesunyian kamar sewa berukuran tiga kali tiga meter, ditemani lampu meja belajar berwarna kuning temaram dan deru kipas angin tua yang berputar monoton menembus malam yang semakin larut.

❖ ❖ ❖

Tepat tengah malam, di tengah tumpukan buku anatomi yang menyesakkan dada, layar ponsel Samaira menyala menampilkan panggilan video dari Arkan yang juga baru saja merampungkan praktikum pertamanya di pulau seberang.

Cahaya terang dari layar gawai tersebut memecah kepekatan sudut kamar Samaira yang hanya diterangi satu lampu tidur. Di atas meja, buku-buku teks kedokteran terbuka lebar menampilkan ilustrasi otot dan persendian manusia yang rumit. Samaira menghela napas panjang, merapikan helai rambutnya yang berantakan sebelum menyentuh tombol hijau di layar sentuh ponselnya.

"Halo..." sapa Samaira dengan suara parau khas orang yang kelelahan luar biasa.

Wajah Arkan langsung memenuhi layar ponsel. Di latar belakang gambar, terlihat sebuah ruangan asrama mahasiswa teknik dengan rak-rak besi tempat bergelantungannya kabel, perkakas mesin, serta helm proyek berwarna kuning terang. Arkan sendiri tampak mengenakan kaos polos berwarna abu-abu gelap dengan noda oli tipis di bagian lengan kirinya—bukti nyata dari kerasnya praktikum permesinan dan konstruksi yang baru saja ia jalani di universitas teknik tempatnya kuliah.

"Belum tidur, Air? Ini sudah pukul dua belas lewat sepuluh di zona waktumu," ucap Arkan langsung membuka percetakan dengan nada cemas yang kentara.

Samaira tersenyum lemah, menyandarkan punggungnya pada kursi plastik keras di balik meja belajar. "Mana sempat tidur kalau bacaan anatomi ini rasanya tidak ada habisnya. Baru halaman sepuluh saja kepalaku sudah mau meledak, Ark. Kamu sendiri kenapa belum istirahat? Bukannya besok pagi harus masuk kelas jam tujuh?" tanya Samaira balik, matanya memperhatikan lingkaran hitam samar di bawah mata pemuda itu.

Arkan mengusap wajahnya dengan kedua tangan, lalu tertawa kecil. "Aku baru saja selesai merakit kerangka mesin penggerak untuk tugas kelompok bengkel. Asisten dosennya benar-benar disiplin tingkat dewa, salah pasang sedikit langsung dibongkar ulang dari awal," keluh Arkan dengan nada pasrah namun tetap jenaka.

"Makanya, jangan suka meremehkan teknik mesin. Kukira kuliah kedokteran saja yang paling berat, ternyata teknik juga sama tersiksanya," balas Samaira menggelengkan kepala pelan.

"Beda rasanya, Air. Kalau kedokteran menghafal nama latin bagian tubuh manusia, kalau teknik menghitung beban patah material baja yang bikin kepala mau copot," timpal Arkan cepat, membuat Samaira akhirnya melepaskan tawa tulus pertama kalinya setelah seharian penuh berkutat dengan buku-buku tebal.

❖ ❖ ❖

Selama dua jam penuh tanpa jeda, mereka saling berbagi lelah, keluh kesah tentang dosen killer, hingga tawa kecil yang mencairkan dinginnya kamar indekos masing-masing.

Lihat selengkapnya