Pagi itu, udara kota asal menyambut dengan embun tipis yang masih menempel di kaca-kaca jendela gerbong kereta. Setelah berbulan-bulan terpisah oleh jarak, jadwal kuliah, dan kesibukan dunia kampus yang melelahkan di kota metropolitan, akhirnya libur semester yang dinanti-nantikan tiba juga.
Stasiun kereta api kota asal mendadak menjadi tempat paling sakral ketika jadwal libur semester akhirnya mempertemukan kembali dua sahabat yang telah berbulan-bulan terpisah.
Suasana stasiun tampak sangat padat dan bising. Suara pengeras suara stasiun mengumumkan kedatangan kereta antar-kota secara berulang-ulang, berpadu dengan deru mesin lokomotif yang mendengus pekat. Di sela-sela hiruk-pikuk tersebut, aroma khas biji kopi roasted dari gerai kecil di sudut peron menguar di udara, bercampur dengan bau besi rel yang panas dan keringat para penumpang yang berdesakan.
Samaira melangkah keluar dari pintu gerbong kereta sambil menyeret koper roda kecilnya yang berdecit pelan di atas lantai beton peron. Matanya berbinar-binar memindai lautan manusia yang lalu-lalang di hadapannya. Rambut panjangnya yang kini dipotong sebahu tertiup angin pagi stasiun, membuat beberapa helainya menutupi wajah.
"Ramai sekali..." gumam Samaira pelan pada dirinya sendiri, merapikan syal rajut tipis yang melingkar di lehernya.
Ia menarik napas dalam-dalam, menghirup udara kota kelahirannya yang terasa begitu akrab. Rasanya baru kemarin ia dan Hok mengantar Arkan ke stasiun ini saat awal-awal masa kuliah dulu. Kini, setelah semester pertama yang melelahkan terlewati dengan tumpukan tugas makalah dan ujian akhir yang menguras otak, ia akhirnya bisa menginjakkan kaki kembali di tanah kelahiran.
"Samaira!"
Sebuah suara bariton yang lebih matang dari terakhir kali ia dengar memanggil namanya dari kejauhan. Langkah kaki Samaira seketika terhenti. Jantungnya berdegup kencang secara tiba-tiba, seolah ada alarm rindu yang selama ini disembunyikan di dalam dada akhirnya berbunyi nyaring.
Ia menoleh cepat, mencari arah datangnya suara tersebut di tengah kerumunan orang yang membawa tas ransel dan kardus-kardus besar.
❖ ❖ ❖
Di tengah riuhnya ribuan penumpang yang hilir mudik, pandangan Samaira langsung terkunci pada sosok tinggi berjaket gelap yang berdiri sabar di dekat pilar peron nomor tiga.
Arkan berdiri di sana dengan postur tubuh yang jauh lebih tegap dibandingkan masa SMA dulu. Jaket denim gelap yang ia kenakan membuatnya terlihat semakin dewasa, dan potongan rambut pendeknya tampak rapi. Di tangannya, ia tidak memegang apa pun kecuali sebuah termos kecil berisi kopi hangat yang sering ia bawa ke mana-mana.
Samaira terpaku di tempatnya. Kakinya seolah membatu di atas lantai peron. Ada rasa gugup yang mendadak merayap naik ke tenggorokannya. Selama berbulan-bulan mereka memang sering bertukar pesan singkat atau panggilan video di tengah malam, tetapi melihat Arkan berdiri secara langsung di hadapannya setelah sekian lama memberikan sensasi yang sama sekali berbeda.
"Kenapa diam saja di situ? Kakimu kesurupan?" tanya suara lain yang tiba-tiba muncul dari samping Samaira, membuat gadis itu berjengkit kaget.
Hok, yang ternyata turun dari gerbong tepat di belakang Samaira, menyenggol bahu sahabatnya sambil nyengir lebar. Hok membawa ransel besar di punggungnya dan menenteng kantong plastik berisi oleh-oleh khas kota rantau.
"Hok! Astaga, kamu mengagetkan saja!" protes Samaira sambil mengelus dadanya karena kaget.
Hok terkekeh renyah, lalu mengikuti arah pandangan Samaira ke dekat pilar peron. "Ah, pantesan dari tadi dipanggil tidak menyahut. Matanya sudah lengket ke arah sana rupanya. Sana, samperin. Kasihan calon pacarmu sudah berdiri kayak patung Pancoran dari tadi."
"Sembarangan kalau ngomong," balas Samaira dengan pipi yang langsung merona merah. Meskipun ia membantah, debar di dadanya semakin menjadi-jadi.
Arkan, yang menyadari bahwa Samaira dan Hok sudah turun dari kereta, mulai melangkah pelan membelah kerumunan orang. Senyum tipis yang sangat dikenal Samaira semenjak mereka kecil terukir di bibirnya, memberikan ketenangan di tengah riuhnya stasiun yang bising.