Tit Tak Sempurna

Amrullah Ibrahim
Chapter #18

Malam Minggu di Kedai Kopi Sudut Kota

Suasana kedai kopi lokal tempat mereka biasa menghabiskan masa remaja kini terasa berbeda dengan obrolan yang beralih pada filosofi hidup, masa depan, dan mimpi-mimpi besar. Kedai bernama Kopi Kenangan Senja itu dipenuhi aroma biji kopi robusta yang disangrai segar, berpadu dengan alunan musik akustik pelan dari sudut ruangan. Meja kayu bundar tempat Samaira dan Arkan duduk terletak persis di dekat jendela besar yang menghadap langsung ke jalanan kota yang mulai basah karena sisa gerimis sore.

"Kamu serius mau mengambil jurusan arsitektur di universitas luar kota tahun depan, Arkan?" tanya Samaira, menyandarkan dagunya di atas kedua tangan yang bertumpu di atas meja. Matanya menatap lekat-lekat sosok pemuda di hadapannya yang kini telah tumbuh menjadi seorang pria muda dengan sorot mata penuh ketegasan.

Arkan mengaduk pelan minuman caffe latte di cangkirnya menggunakan sendok kecil. Bunyi dentingan halus terdengar bersahutan dengan suara bising kendaraan di luar. "Iya, Sam. Aku rasa itu jalur yang paling tepat untuk mewujudkan mimpiku mendesain bangunan publik yang ramah lingkungan. Kalau kamu sendiri, bagaimana dengan mimpimu menulis buku antologi puisi?"

Samaira tersenyum tipis, merapikan helai rambutnya yang sedikit berantakan. "Naskahku sudah hampir rampung separuhnya. Tinggal mencari penerbit yang cocok dan merapikan beberapa sajak tentang perjalanan hidup kita selama beberapa tahun terakhir ini."

"Tentang kita?" Arkan mengangkat sebelah alisnya, menatap Samaira dengan tatapan penuh selidik yang menyiratkan rasa ingin tahu. "Apakah di dalamnya ada puisi khusus yang menceritakan tentang jam tangan biru waktu ulang tahun kelima belas dulu?"

Pipi Samaira seketika merona merah mendengar pertanyaan itu. "Mana ada! Puisi-puisiku kebanyakan membahas tentang angin, senja, dan kerinduan yang abstrak. Jangan GR dulu, Tuan Arkan."

Arkan terkekeh kecil—sebuah tawa renyah yang jarang ia tunjukkan pada orang lain selain Samaira. Hubungan mereka memang telah melewati berbagai fase transisi yang panjang. Dari masa-masa canggung di sekolah menengah, obrolan rahasia di teras rumah, hingga kini menginjak usia dewasa muda di mana masing-masing dari mereka mulai memikirkan arah hidup yang sebenarnya. Tidak ada lagi keheningan canggung di antara mereka; setiap detik diisi oleh percakapan bermakna tentang realitas kehidupan, ketakutan akan masa depan, dan harapan-harapan besar yang ingin dicapai bersama-sama.

"Bagaimana pun juga, aku bersyukur kita masih bisa duduk bersama di sini setelah sekian banyak badai ujian sekolah dan kesibukan kuliah persiapan," ucap Arkan tulus, menghentikan adukan kopinya dan menatap lurus ke dalam bola mata Samaira.

"Aku juga, Arkan. Terkadang aku merasa waktu berjalan terlalu cepat. Rasanya baru kemarin kita berebut kue ulang tahun, sekarang kita malah berdiskusi soal masa depan profesional," balas Samaira sambil menyeruput cokelat panasnya yang mengepulkan uap tipis.

Obrolan santai dan hangat itu terus mengalir, menciptakan benteng kenyamanan tersendiri di tengah keramaian kafe akhir pekan yang dipenuhi oleh gerombolan anak muda dan pasangan kekasih yang sedang menikmati malam minggu mereka.

❖ ❖ ❖

Di tengah perbincangan hangat, seorang teman lama SMA tak sengaja lewat dan menggoda mereka dengan pertanyaan tajam, "Kalian ini sebenarnya sahabat atau sepasang kekasih yang lupa diresmikan?"

Suara itu datang tiba-tiba dari arah pintu masuk kafe. Adit, mantan ketua OSIS sekaligus teman seangkatan mereka semasa SMA, muncul dengan jaket bomber hitam dan senyum lebar penuh arti. Ia menepuk pelan bahu Arkan sebelum menarik kursi kosong di dekat meja mereka tanpa diundang, sementara seorang gadis yang berjalan di sampingnya tersenyum ramah kepada Samaira.

"Wah, tidak disangka bisa ketemu kalian berdua di sini. Kupikir kalian cuma pacaran di lingkungan rumah saja, ternyata sudah merambah ke kafe hits sudut kota," celetuk Adit dengan nada menggoda khas anak muda yang suka usil.

Samaira terbatuk kecil, hampir tersedak minuman cokelat panasnya. Ia buru-buru meraih tisu untuk membersihkan sudut bibirnya, sementara wajahnya berubah menjadi merah padam menahan rasa salah tingkah yang teramat sangat.

"Eh, Adit. Lama tidak ketemu. Kamu sama siapa ke sini?" tanya Samaira mengalihkan pembicaraan dengan cepat, mencoba menutupi kegugupannya.

Adit tertawa pelan. "Aku sama pacarku, tuh lagi memesan makanan di kasir. Tapi fokusku bukan ke situ, Sam. Fokusku ke kalian berdua. Sudah bertahun-tahun kalian selalu terlihat bersama kemana-mana, dari mulai jam istirahat sekolah dulu sampai sekarang kuliah, tapi statusnya masih 'sahabat setia'. Agak mencurigakan, bukan?"

Arkan tidak langsung merespon. Pemuda itu tetap duduk tenang dengan posisi bersandar pada kursi, menatap Adit dengan tatapan datar namun penuh perhitungan. Cangkir kopi di tangan Arkan diletakkan perlahan ke atas meja tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Suasana di sekitar meja mereka mendadak terasa sedikit menegang, kontras dengan keriuhan musik akustik yang melantun lembut di sudut ruangan.

"Kami hanya menikmati waktu bersama sebagai teman dekat, Dit," jawab Arkan dengan nada tenang, namun ada ketegasan yang terselip di balik setiap suku kata yang ia ucapkan.

"Teman dekat? Ah, teman dekat mana yang saling menatap penuh makna seperti kalian tadi sebelum aku datang?" balas Adit tidak mau kalah, menaikkan alisnya berulang kali menggoda pasangan di depannya. "Jujur saja, seluruh anak angkatan kita dulu sudah bertaruh kapan kalian berdua akan meresmikan hubungan itu."

Samaira semakin menunduk, pura-pura fokus mengaduk cangkirnya yang kini sudah kosong. Jantungnya berdegup kencang bukan main. Pertanyaan Adit bukanlah hal baru—beberapa teman dekat mereka memang sering melontarkan candaan serupa, namun mendengarnya di malam minggu di sebuah kafe terbuka membuat situasinya terasa jauh berbeda dan jauh lebih mendebarkan.

Lihat selengkapnya