Langit sore itu tampak muram, diselimuti awan kelabu yang menggantung rendah di cakrawala, seolah hendak meluruhkan seluruh bebannya ke bumi. Di teras depan rumah yang bersebelahan—rumah tempat masa kecil Samaira dan Arkan dihabiskan dengan berlarian—suasana terasa sangat berbeda dari ingatan-ingatan masa SMA yang penuh tawa. Kini, keduanya telah menginjak usia dua puluh tahun, menapaki tahun kedua di bangku kuliah dengan segala hiruk-pikuk kedewasaan yang mulai menuntut perhatian. Kepulangan akhir pekan ini terasa istimewa sekaligus menyesakkan bagi Samaira. Ia baru saja kembali dari kampusnya yang berada di luar kota, membawa segunung kerinduan yang selama ini disimpannya rapat-rapat di balik kesibukan tugas-tugas kuliah yang tak kunjung usai.
Rintik hujan mulai turun, pertama kali jatuh sebagai tetesan kecil yang perlahan berubah menjadi guyuran lebat. Aroma petrikor—bau tanah yang dibasahi hujan—mulai menguar tajam, memenuhi udara dan masuk ke relung paru-paru Samaira. Ia duduk di kursi kayu tua yang cat cokelatnya sudah mulai mengelupas, ditemani oleh Arkan yang sedari tadi hanya terdiam, menatap butiran air yang membasahi jalanan aspal di depan rumah mereka. Arkan tampak sedikit lelah, mungkin ia baru saja pulang dari kegiatan organisasi kampusnya, terlihat dari kemeja yang sedikit berantakan.
"Kamu kelihatan capek banget, Sam," ujar Arkan tiba-tiba, memecah keheningan yang sejak tadi menyelimuti mereka. Suaranya serak, rendah, namun sangat menenangkan telinga Samaira.
Samaira menoleh, mendapati profil samping wajah Arkan yang kini tampak lebih dewasa, dengan garis rahang yang lebih tegas daripada yang ia ingat saat SMA. "Mungkin karena perjalanan panjang, Ar. Tugas semester ini benar-benar bikin otakku rasanya mau meledak. Kamu sendiri? Kelihatannya lebih sibuk dari biasanya."
Arkan tersenyum tipis, tangannya bergerak merapikan jaket denim yang ia kenakan. "Aku tahu rasanya. Tapi melihat kamu pulang, entah kenapa semua beban yang aku rasain selama seminggu ini kayak hilang gitu aja. Organisasi emang menyita waktu, tapi nggak seberat memikirkan apa yang terjadi di sini."
Samaira merasa pipinya memanas. "Gombal. Kamu pasti sering ngomong kayak gitu ke teman-teman mahasiswi di sana, kan? Jangan-jangan itu kalimat andalan buat menarik perhatian mereka?"
"Nggak pernah," jawab Arkan cepat, menatap langsung ke mata Samaira. "Aku cuma nunggu hari di mana kita bisa duduk tenang kayak gini lagi tanpa harus mikirin tugas, ujian, atau jarak yang memisahkan kita. Sejujurnya, aku jarang banget keluar sama orang lain kalau bukan buat urusan kampus."
Samaira menunduk, memainkan ujung jemarinya. Percakapan mereka tidak pernah lagi sesederhana masa SMA. Ada beban perasaan yang tak terucapkan, sebuah pengakuan yang tertahan di tenggorokan, menunggu waktu yang tepat untuk tumpah ruah. Di antara mereka, hanya ada suara hujan yang semakin menderu, seolah menjadi satu-satunya pendengar setia bagi obrolan canggung ini.
❖ ❖ ❖
Duduk berdampingan di kursi kayu tua teras rumah Samaira, aroma petrikor yang tajam berpadu dengan keheningan sore yang menenangkan. Suara hujan yang jatuh ke atap seng menciptakan irama konsisten yang seolah menutup dunia luar, menyisakan mereka berdua dalam gelembung waktu yang terpisah dari kenyataan. Samaira memperhatikan bagaimana Arkan sesekali menghela napas panjang, seolah sedang mengumpulkan keberanian untuk mengatakan sesuatu yang sudah lama ia simpan dalam lubuk hatinya.
"Sam," panggil Arkan lagi. Kali ini ia membalikkan tubuh sepenuhnya ke arah gadis itu. "Selama aku di seberang, ada banyak hal yang pengin aku ceritain. Tapi setiap kali aku mau nelepon, rasanya kata-kata itu selalu hilang. Aku takut kalau aku cerita, hubungan kita bakal berubah."
"Kenapa? Kamu kan biasanya lancar banget kalau cerita apa pun sama aku, bahkan hal-hal konyol sekalipun," balas Samaira, mencoba mencairkan suasana dengan nada bercanda, meski hatinya sendiri berdebar kencang, takut akan arah pembicaraan ini.
Arkan terkekeh kecil, namun sorot matanya tidak ikut tertawa. "Karena yang mau aku ceritain bukan tentang kegiatan kampus atau dosen yang nyebelin, Sam. Ini tentang kamu. Tentang aku yang selalu ngerasa kehilangan setengah bagian dari diriku setiap kali aku bangun pagi dan kamu nggak ada di sebelahku."
Samaira terdiam. Napasnya tercekat. Ia menatap tetesan air hujan yang mengalir di lantai teras dengan perasaan yang berkecamuk. "Ar, kita sudah sepakat buat jaga pertemanan ini, kan? Kamu sendiri yang bilang waktu kita lulus SMA dulu, kita harus fokus ke masa depan masing-masing dan nggak boleh terikat sama masa lalu."
"Iya, aku tahu," sahut Arkan cepat, memotong penjelasan Samaira. "Tapi semakin lama aku menjauh, aku semakin sadar kalau masa depanku itu sebenarnya nggak pernah pergi ke mana-mana. Masa depanku ada di sini, di sebelahku, sejak dulu. Masa depan itu bukan tentang karier, tapi tentang dengan siapa aku ingin menghabiskan sisa waktuku."
Samaira merasakan ketegangan di udara. Ia ingin membalas, ingin mengatakan bahwa ia pun merasakan hal yang sama selama ini, namun rasa takut akan kehilangan persahabatan yang telah mereka jalin selama belasan tahun selalu menjadi rem yang kuat. Ia takut jika nanti mereka gagal, ia tak akan lagi memiliki Arkan sebagai tempatnya bersandar.