Matahari pagi bersinar cerah menerobos tirai jendela kamar Samaira, menandakan lembaran baru dalam hidup mereka yang tidak lagi terhalang oleh jarak dan rasa canggung. Sinar keemasan itu memantul lembut di atas meja belajar yang kini tertata rapi, menyapu bersih sisa-sisa malam yang panjang dan melelahkan. Udara pagi membawa kesejukan yang menyegarkan, mengusung aroma embun yang menempel pada dedaunan di halaman rumah. Setelah bertahun-tahun bergelut dengan hari-hari penuh ketidakpastian, penantian panjang, serta jarak geografis yang memisahkan langkah mereka, hari ini semesta seolah sepakat untuk memberikan kedamaian yang seutuhnya.
Samaira membuka matanya perlahan, mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam retinanya. Ia meregangkan otot-otot tubuhnya yang terasa ringan, tanpa ada beban tugas akhir atau tumpukan jadwal kuliah yang mengejar tenggat waktu.
"Alhamdulillah," bisik Samaira pelan, menyeka sisa kantuk di wajahnya dengan punggung tangan.
Ia bangkit dari tempat tidur, berjalan menuju cermin besar di sudut kamarnya. Refleksi di cermin memperlihatkan seorang gadis dengan senyum tulus yang sudah lama tidak menghiasi wajahnya. Tidak ada lagi lingkaran hitam di bawah mata akibat begadang menyusun skripsi, tidak ada lagi rasa cemas berlebihan memikirkan zona waktu yang berbeda. Semuanya terasa begitu pas, seolah roda kehidupan akhirnya berputar pada poros yang benar.
Ia melangkah mendekati jendela kamarnya yang menghadap langsung ke arah pekarangan rumah di sebelah. Di sana, rumah Arkan berdiri tenang dengan pagar kayu putih yang dicat ulang minggu lalu. Ingatannya melayang sejenak pada masa-masa sulit ketika mereka harus bertegur sapa lewat layar ponsel yang kadang terhalang sinyal buruk atau perbedaan jam kuliah yang ekstrem.
"Pagi yang berbeda," ucap Samaira pada dirinya sendiri, menarik napas dalam-dalam untuk meresap keharuman udara pagi yang bersih.
Ia berjalan ke arah meja, merapikan beberapa buku catatan lama yang berserakan. Buku-buku harian semasa mereka terpisah jarak kini tersimpan rapi di dalam kotak kayu di lemari. Lembaran-lembaran kertas itu menjadi saksi bisu betapa air mata dan doa-doa sunyi di sepertiga malam telah mengantarkan mereka pada titik ini. Sebuah babak baru yang bersih dari rasa ragu.
"Mai, sudah bangun?" suara lembut dari balik pintu kamarnya memecah lamunan.
"Sudah, Bu! Sebentar lagi turun," balas Samaira dengan nada ceria.
Ibunya tersenyum dari balik pintu yang terbuka sedikit, lalu berlalu menuju dapur. Samaira kembali memandang keluar jendela, merasakan debar hangat yang menenangkan di dadanya. Hari ini adalah hari pertama di mana mereka tidak perlu lagi menghitung hari untuk bisa bertemu.
❖ ❖ ❖
Dari jendela kamar sebelah, ketukan pelan terdengar tiga kali—kode rahasia masa kecil yang masih mereka pelihara hingga hari dewasa ini. Tok, tok, tok. Iramanya begitu khas, lambat namun tegas, sebuah tanda pengenal yang langsung dikenali Samaira di luar kepala sejak mereka masih duduk di bangku sekolah dasar.
Samaira langsung menoleh ke arah sumber suara dengan mata yang berbinar-binar. Senyumnya terkembang semakin lebar. Kebiasaan masa kecil itu ternyata tidak lekang oleh waktu, bahkan setelah mereka melewati fase pendewasaan yang penuh liku di kota yang berbeda.
"Kebiasaan banget," gumam Samaira sambil tertawa kecil, menggelengkan kepalanya pelan.
Ia segera melangkah cepat menuju jendela kamarnya, mendorong daun jendela kayu tersebut hingga terbuka lebar. Angin pagi langsung menyergap wajahnya, membawa kesejukan yang seketika mendistraksi pikirannya dari hal-hal lain. Di seberang halaman, sosok yang sangat ia kenal sudah berdiri tegak di atas rumput hijau yang masih basah oleh embun.
"Lama banget bukanya, tuan putri," panggil Arkan dari halaman sambil mengangkat sebelah alisnya dengan ekspresi jenaka.
"Baru juga bangun, Arkan. Jangan protes," sahut Samaira setengah berteriak, berusaha menutupi rasa salah tingkah yang selalu berhasil ditimbulkan oleh pemuda itu.