Tit Tak Sempurna

Amrullah Ibrahim
Chapter #21

Makan Malam Keluarga yang Terlalu Manis

Jamuan makan malam mingguan di teras rumah Arman dipenuhi aroma soto hangat dan gelak tawa riang dua keluarga yang sudah melekat erat seperti saudara kandung.

"Aduh, kuah soto buatanmu ini benar-benar juara, Man. Kalau tiap malam aku makan ke sini, dijamin timbangan badanku bakal naik sepuluh kilo dalam sebulan," ujar Ammar di sela-sela kunyahannya, tertawa renyah sambil menambahkan sesendok sambal hijau ke dalam mangkuk porselennya.

Arman, yang duduk di seberang meja kayu jati tua di teras belakang rumah, tersenyum lebar mendengar pujian sahabat karibnya itu. Suasana malam itu terasa begitu nyaman. Lampu-lampu kuning kecil yang digantung melintang di atas teras memancarkan pendar hangat, menyinari meja makan yang dipenuhi berbagai hidangan rumahan—mulai dari perkedel kentang, sate telur puyuh, hingga mangkuk besar soto ayam beruap mengepul.

Bagi Arman dan Ammar, makan malam mingguan sudah menjadi tradisi wajib sejak belasan tahun terakhir, sejak anak-anak mereka masih ingusan dan pertama kali bergandengan tangan di gerbang TK Harapan Bangsa.

Di sisi meja, Samaira dan Arkan duduk berdampingan, persis seperti kebiasaan mereka sejak kecil. Samaira tampak asyik memisahkan potongan seledri dari mangkuknya, sementara Arkan dengan sigap menyingkirkan irisan kol yang tidak disukai gadis itu, menggantinya dengan tambahan perkedel ekstra ke piring Samaira tanpa perlu diminta.

"Kebiasaan dari TK nggak pernah berubah ya," bisik Arkan pelan kepada Samaira, melirik sekilas dengan senyum tipis di ujung bibirnya.

Samaira mendongak, balas tersenyum kecil. "Biarin. Kalau bukan kamu yang ngambilin, nanti nasiku keburu dingin keburu aku pilihin sendiri."

"Iya, terserah tuan putri saja," balas Arkan lembut, meneguk es teh manis di gelasnya.

Di ujung meja, Ammar dan Arman memperhatikan interaksi kedua anak mereka dengan binar mata penuh kehangatan. Tidak ada sekat di antara dua keluarga ini. Hubungan profesional di kantor kontraktor terbawa hingga ke kehidupan pribadi, melebur menjadi ikatan kekeluargaan yang begitu kokoh. Arkan kini telah tumbuh menjadi pemuda tinggi tegap berprestasi, sementara Samaira menjadi mahasiswi cerdas yang selalu bisa diandalkan. Melihat keakraban mereka yang tidak pernah luntur dimakan usia, sebuah gagasan besar yang sudah lama dirancang berdua mulai bersemi di kepala kedua ayah tersebut.

❖ ❖ ❖

Di tengah suapan makanan, Ammar dan Arman saling melempar senyum penuh rahasia sebelum akhirnya meletakkan sendok mereka secara bersamaan.

Suara dentingan sendok yang menyentuh pinggir mangkuk keramik mendadak menghentikan obrolan ringan di meja makan. Ammar meletakkan alat makannya secara perlahan, menyeka bibirnya dengan serbet kain putih, lalu menoleh ke arah Arman yang duduk di sebelah kanannya.

Arman mengangguk kecil, memberikan isyarat seolah waktu yang dinanti-nantikan selama beberapa bulan terakhir akhirnya tiba malam ini. Senyum penuh arti tersungging di bibir kedua pria paruh baya itu, menciptakan atmosfer yang mendadak berubah dari santai menjadi sarat akan misteri.

Samaira yang sedang menyeruput kuah soto menghentikan gerakannya. Ia memandang sang ayah dan om Ammar bergantian dengan kening berkerut tipis. Ada gelagat aneh yang tertangkap oleh instingnya. Biasanya, jamuan makan malam mingguan dipenuhi canda tawa lepas tanpa ada jeda formal seperti ini.

"Ada apa, Ayah? Kok tiba-tiba berhenti makan? Makanan kurang asin atau sambalnya kurang pedas?" tanya Samaira penasaran, meletakkan sendoknya ke atas piring.

Arkan di sebelah Samaira ikut menatap ayahnya dengan pandangan menyelidik. Sebagai kapten tim yang terbiasa membaca situasi secara cepat, ia melihat ada skenario yang sedang disiapkan oleh orang tua mereka.

Ammar terkekeh pelan, memperbaiki posisi duduknya agar tegap menghadap kedua anak muda di hadapannya. Ia merangkul bahu Arman sekilas sebelum kembali memandang anak tunggalnya, Arkan.

"Bukan masalah makanan, Samaira. Makanan buatan ayahmu ini selalu pas di lidah," jawab Ammar dengan suara berwibawa namun diiringi binar mata penuh antusias. "Justru, malam ini kami berdua ingin membahas sesuatu yang jauh lebih penting daripada urusan mangkuk dan sendok."

Arman ikut tersenyum, menyambung perkataan sahabatnya. "Betul sekali. Kami berdua sudah memikirkan hal ini matang-matang sejak lama, bahkan jauh sebelum kalian masuk bangku kuliah."

Jantung Samaira mendadak berdegup sedikit lebih kencang. Ia melirik Arkan, mendapati pemuda itu juga sedang menatap kedua ayahnya dengan sorot mata yang menyiratkan kewaspadaan tinggi.

❖ ❖ ❖

Lihat selengkapnya