Tit Tak Sempurna

Amrullah Ibrahim
Chapter #22

Dinginnya Angin Malam di Taman Belakang

Usai makan malam yang mendadak hancur berantakan, Samaira dan Arkan melangkah keluar menuju bangku taman pembatas rumah mereka yang basah oleh embun.

Suasana malam itu terasa jauh lebih dingin dari biasanya. Angin berhembus pelan membawa serta aroma tanah basah seusai hujan sore tadi. Di dalam rumah utama, suara benturan piring keramik dan nada suara orang tua yang meninggi masih menyisakan gaung ketegangan yang menyesakkan. Tanpa perlu saling bertukar kata, keputusan bulat telah diambil oleh kedua kaki mereka untuk melarikan diri dari ruang makan yang penuh dengan api ketidaksepakatan.

Samaira berjalan lebih dulu dengan langkah cepat, membungkus tubuhnya dengan jaket rajut tebal berwarna abu-abu. Rambut panjangnya tergerai bebas, tertiup angin malam yang mulai menusuk kulit. Di belakangnya, Arkan mengikuti dalam diam, kedua tangannya dibenamkan ke dalam kantong jaket, sementara tatapannya terpaku pada punggung sahabat kecilnya yang tampak tegang.

"Duduklah di sini, Arkan. Udaranya lumayan dingin, tapi jauh lebih baik daripada harus bernapas di dalam rumah yang penuh dengan kepura-puraan itu," bisik Samaira lirih saat mereka tiba di bangku kayu panjang yang terletak tepat di garis batas halaman antara rumah pertama dan rumah kedua.

Arkan mengangguk pelan, lalu mendudukkan dirinya di samping Samaira. Bangku taman itu menjadi saksi bisu perjalanan hidup mereka—dari tempat mereka berbagi rahasia masa kecil, tempat mereka menangis karena nilai ujian yang jelek, hingga kini, tempat di mana mereka harus menghadapi kenyataan pahit dunia orang dewasa.

"Aku tidak menyangka malam Minggu ini akan berakhir seperti ini," kata Arkan memulai percaraian, suaranya terdengar datar namun menyimpan bara kemarahan yang tertahan. "Semua persiapan kita, semua usaha kita untuk menjaga hubungan ini tetap berjalan wajar, mendadak dirusak hanya dalam hitungan menit."

Samaira menoleh sekilas ke arah Arkan. Di bawah temaram lampu taman yang berpendar kuning redup, wajah pemuda itu tampak kaku. Makan malam bersama keluarga besar yang awalnya direncanakan untuk merayakan kelulusan universitas berubah menjadi arena diskusi perjodohan kolot. Orang tua mereka dengan santainya membahas rencana penyatuan dua keluarga lewat ikatan pernikahan formal, seolah-olah perasaan cinta adalah dokumen bisnis yang bisa ditandatangani di atas meja makan.

"Mereka tidak mengerti, Arkan," ucap Samaira pelan, napasnya mengepulkan uap tipis di udara malam. "Mereka pikir karena kita sudah bersama sejak kecil, otomatis hati kita bisa diatur semau mereka tanpa memikirkan bagaimana rasanya berada di posisi kita."

❖ ❖ ❖

Untuk pertama kalinya dalam sejarah persahabatan mereka, keheningan di antara keduanya terasa begitu pekat dan menyesakkan dada.

Kebiasaan lama mereka biasanya diisi dengan gelak tawa, perdebatan kecil soal hal-hal sepele, atau lemparan candaan untuk mencairkan suasana. Namun malam ini, keheningan menyelimuti bangku taman itu dengan cara yang sama sekali berbeda. Keheningan itu bukan lagi bentuk kenyamanan dari dua orang yang sudah saling memahami tanpa kata, melainkan sebuah dinding transparan yang berat dan mematikan.

Samaira menatap kosong ke arah deretan pot bunga mawar ibunya yang tertutup embun malam. Pikirannya berkecamuk, memutar ulang setiap kalimat yang diucapkan oleh ayah dan ibu mereka di ruang makan beberapa menit yang lalu. Kata-kata seperti 'ikatan keluarga', 'sudah takdir sejak kecil', dan 'tinggal menunggu waktu yang tepat' berputar-putar di dalam kepalanya bagaikan gema yang memekakkan telinga.

Di sampingnya, Arkan menarik napas panjang, lalu menghembuskannya dengan kasar. Ia menundukkan kepala, memandangi ujung sepatunya yang basah terkena rumput.

"Kamu diam saja, Samaira. Apa yang sedang kamu pikirkan sekarang?" tanya Arkan akhirnya, memecah keheningan pekat yang sempat mendera selama beberapa menit.

Samaira mengerjap, perlahan menoleh ke arah sahabat di sampingnya. Ada guratan kelelahan yang teramat sangat di wajah Arkan. "Aku sedang berpikir... apakah selama ini semua kenangan kita bersama di masa lalu sudah kehilangan makna aslinya?"

"Maksudmu?" tanya Arkan dengan alis bertaut, nada suaranya sedikit meninggi.

"Maksudku, apakah persahabatan kita ini dari dulu memang sudah dirancang sebagai sebuah skenario panjang oleh orang tua kita? Sehingga apa pun yang kita lakukan, ujung-ujungnya tetap akan dipaksa masuk ke dalam kotak perjodohan ini?" jawab Samaira, suaranya bergetar hebat menahan emosi yang mendesak naik ke tenggorokannya.

Arkan tertegun mendengar pertanyaan itu. Kalimat tersebut menghantam bagian paling rapuh dari pertahanan mentalnya. Ia mengepalkan tangan kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Bagi Arkan, perasaan yang ia miliki untuk Samaira tumbuh secara alami, mengakar kuat seiring bertambahnya usia, bukan karena hasil rekayasa atau perjodohan orang tua.

❖ ❖ ❖

Lihat selengkapnya