Tit Tak Sempurna

Amrullah Ibrahim
Chapter #23

Pertengkaran di Bawah Lampu Jalan

Matahari baru saja menenggelamkan diri di balik cakrawala kota, meninggalkan sisa-sisa bias jingga yang perlahan dikalahkan oleh pekatnya malam. Ketegangan yang sudah berhari-hari mengendap di dalam dada akhirnya memuncak keesokan harinya di bawah temaram lampu jalan sudut perumahan yang sunyi. Tempat ini biasanya menjadi saksi bisu tempat mereka melepas penat sepulang kuliah, berbagi cerita ringan sambil menikmati angin malam yang berhembus pelan. Namun, malam ini, tidak ada tawa ataupun gurauan hangat yang biasa mengisi bangku taman tersebut. Udara terasa begitu berat, dipenuhi oleh beban emosi yang siap meledak kapan saja.

Samaira berdiri dengan kedua tangan melipat di depan dada, mencoba menahan getaran hebat yang merambat dari jemarinya hingga ke bahunya. Pandangannya menerawang kosong ke arah aspal jalan yang memantulkan cahaya kuning kekuningan dari lampu sorot jalan.

"Kau benar-benar sudah memikirkan keputusan ini dengan matang, Arkan?" tanya Samaira, suaranya terdengar serak, menahan beban berat yang sudah lama menghimpit dadanya.

Arkan berdiri beberapa langkah di hadapannya, menundukkan kepala dengan kedua tangan yang mengepal erat di dalam saku jaketnya. "Aku sudah memikirkannya seribu kali, Samaira. Dan jawabanku tetap sama."

"Sama? Semudah itu kau berkata sama?" Samaira mendesis tajam, menatap lurus ke arah pemuda itu dengan sorot mata yang menyiratkan kekecewaan mendalam. "Kau menolak perjodohan itu tanpa sedikit pun mau melirik bagaimana perasaan orang tuamu, atau keluargamu yang sudah merencanakan semuanya jauh-jauh hari!"

"Orang tuaku tidak sedang merencanakan kebahagiaanku, Samaira! Mereka sedang mengatur transaksi yang mengatasnamakan bisnis keluarga!" balas Arkan dengan nada tinggi yang tertahan di tenggorokan.

"Tapi mereka orang tuamu, Arkan! Mereka yang merawat dan membesarkanmu!" seru Samaira, air matanya mulai mendesak keluar dari pelupuk matanya yang panas. "Bagaimana bisa kau mengabaikan harapan mereka begitu saja demi... demi kita?"

"Karena hidupku adalah milikku, bukan milik daftar keinginan mereka!" Arkan mendengus berat, dadanya naik turun menahan amarah yang bercampur dengan rasa frustrasi yang luar biasa.

Suasana di bawah lampu jalan itu semakin mencekam. Lampu pijar di atas kepala mereka berdengung pelan, menemani pertengkaran hebat yang sudah lama dihindari oleh keduanya, namun kini tak lagi mampu disembunyikan di balik senyuman pura-pura.

❖ ❖ ❖

Samaira sudah tidak sanggup lagi membendung bendungan air matanya. Isak tangis yang sedari tadi ia tahan akhirnya tumpah begitu saja membasahi pipinya. Dengan suara bergetar penuh kepedihan, ia meluapkan seluruh emosinya, menuduh Arkan terlalu egois dalam mengambil keputusan sebesar ini.

"Kau egois, Arkan!" ratap Samaira, suaranya pecah di antara keheningan malam perumahan. "Kau menolak perjodohan itu tanpa pernah mau memikirkan perasaan orang tua yang telanjur berharap banyak padamu! Mereka sudah mempermalukan diri di depan keluarga besar Rahardian, dan kau bertindak seolah-olah semua itu tidak ada artinya sama sekali!"

Arkan terpaku mendengjar tuduhan tajam yang meluncur dari bibir wanita yang paling dicintainya di dunia ini. Ia menatap Samaira dengan mata yang memerah, menahan rasa sakit yang jauh lebih menusuk daripada hujatan orang lain.

"Jadi, menurutmu aku harus menerima wanita pilihan mereka dan mengkhianati kita berdua? Begitu maksudmu, Samaira?" tanya Arkan dengan suara dingin yang mencerminkan kerapuhan di baliknya.

"Bukan begitu maksudku!" Samaira menggelengkan kepalanya dengan cepat, rambutnya berantakan diterpa angin malam. "Tapi ada cara yang lebih baik daripada membangkang secara terang-terangan dan membuat keluargamu hancur berantakan! Kita bisa membicarakan ini baik-baik tanpa harus menghancurkan semuanya!"

"Tidak ada cara baik-baik untuk sebuah penjara, Samaira!" sangkal Arkan cepat. "Jika aku menuruti mereka hari ini, maka besok dan seterusnya aku bukan lagi diriku sendiri. Aku hanya akan menjadi boneka bernyawa yang hidup di atas kebohongan!"

Lihat selengkapnya