Tit Tak Sempurna

Amrullah Ibrahim
Chapter #24

Surat Terbuka untuk Dua Ayah

Pagi hari menyapa kediaman keluarga besar Dirgantara dan keluarga Kirana dengan suasana yang terasa begitu asing, kaku, dan menyimpan ketegangan yang pekat di udara. Tidak ada lagi suara ketukan jendela sebanyak tiga kali yang dulu selalu menjadi penanda fajar bagi Samaira dan Arkan. Tidak ada lagi sapaan ceria di balik pagar pembatas kayu rendah yang menghubungkan halaman depan rumah mereka. Pagar yang biasanya menjadi saksi bisu obrolan ringan sarapan pagi kini tampak dingin, tertutup rapat, seolah memisahkan dua dunia yang terisolasi oleh dinding kemarahan orang dewasa.

Di rumah keluarga Arkan, Arman duduk termenung di kursi meja makan dengan secangkir kopi hitam yang mengepulkan uap tipis. Matanya menatap kosong ke arah halaman luar yang sepi. Tidak ada suara langkah kaki riang atau derap sepatu sekolah seperti tahun-tahun sebelumnya. Suasana rumah terasa hampa, menyisakan keheningan yang menekan dada siapa saja yang mendengarnya.

"Mas, kopinya sudah dingin. Kenapa dari tadi tidak disentuh?" suara lembut istrinya memecah lamunan Arman, pelan namun penuh kehati-hatian.

Arman menggeleng perlahan, meletakkan cangkirnya ke atas piring kecil dengan bunyi dentingan keramik yang nyaring. "Aku hanya memikirkan anak itu, Bu. Bagaimana bisa Arkan mengambil keputusan sebesar itu tanpa mendiskusikannya terlebih dahulu dengan kita? Seolah-olah semua rencana yang sudah kita susun selama belasan tahun runtuh begitu saja dalam semalam," ucap Arman dengan nada suara berat, menyembunyikan kekecewaan mendalam di balik kerutan keningnya.

Sementara itu, di rumah sebelah yang berjarak hanya beberapa meter saja, situasi serupa tengah mencengkeram suasana pagi. Ammar berdiri di dekat jendela ruang makan, melipat kedua tangannya di dada sambil menatap lurus ke arah halaman rumah Arman. Kilatan amarah dan rasa tidak percaya masih terpancar jelas di wajah pria paruh baya itu. Bagi Arman dan Ammar, persahabatan yang telah mereka jalin sejak masa muda seharusnya menjadi fondasi terkuat untuk menyatukan masa depan keluarga mereka. Namun, situasi pagi ini membuktikan bahwa benteng yang mereka bangun dengan susah payah mulai retak dari dalam.

"Mereka sudah berani membangkang, Pak," ucap istri Ammar lirih sambil merapikan piring-piring sarapan yang nyaris tersentuh. "Samaira menyerahkan surat itu semalam, dan sejak saat itu rumah ini serasa kehilangan benderanya."

Ammar menghela napas panjang, rahangnya mengeras menahan emosi. "Bukan sekadar membangkang, Bu. Ini soal harga diri dua kepala keluarga. Selama ini arah hidup mereka sudah kita gariskan dengan jelas agar tidak tersesat. Kalau dibiarkan, mereka akan menghancurkan segalanya."

❖ ❖ ❖

Di atas meja makan masing-masing keluarga yang diselimuti keheningan pagi, sebuah benda asing mendadak menarik perhatian. Sebuah amplop putih bersih tergeletak begitu saja di tengah meja, tanpa ada nama pengirim di bagian luarnya, namun bentuk tulisan tangan di sampulnya langsung mengenalkan siapa pemilik rahasia di balik amplop tersebut.

Arman adalah orang pertama yang meraih amplop itu di rumahnya. Dengan jemari yang sedikit bergetar menahan rasa penasaran bercampur curiga, ia merobek bagian atas amplop kertas tersebut. Dari dalam sana, ia menarik keluar beberapa lembar kertas bergaris yang dipenuhi tulisan tangan rapi namun tergesa-gesa—sebuah surat panjang yang dibuat bersama semalam suntuk oleh anak-anak mereka di balik kamar yang terkunci rapat.

"Apa itu, Ayah?" tanya Arkan—yang kebetulan baru saja melangkah turun dari tangga, mendapati ayahnya sedang membaca lembaran surat tersebut dengan tatapan mata yang menajam.

Arman tidak langsung menjawab. Ia mengangkat wajahnya, menatap putranya dengan sorot mata penuh tuntutan. "Surat ini... kalian yang menulisnya semalam?" tanya Arman dingin, suaranya menggelegar di ruang makan yang sempit.

Di sisi lain, di rumah keluarga Kirana, pemandangan yang sama persis sedang terjadi. Ammar memegang lembaran kertas serupa, membaca setiap bait kalimat yang ditulis oleh tangan Samaira. Kertas itu terasa begitu berat di tangan Ammar, seolah setiap kata yang tertera di sana adalah sebuah hantaman telak bagi otoritas kebapakan yang selama ini ia pegang teguh.

Samaira yang berdiri di ambang pintu dapur menelan ludah dengan susah payah, merasakan sekujur tubuhnya mendadak dingin melihat ayahnya membaca curahan hati paling jujur yang ia susun bersama Arkan hingga larut malam.

"Ayah... tolong dibaca sampai selesai dulu," cicit Samaira pelan, mencoba mempertahankan keberaniannya meski suaranya hampir tak terdengar.

Lihat selengkapnya