Hubungan antarkeluarga yang biasanya hangat kini berubah dingin; Arman dan Ammar bahkan menghindari kontak mata saat berpapasan di garasi rumah. Suasana di kompleks perumahan yang tenang itu mendadak terasa pengap, seolah ada dinding tak kasat mata yang dibangun di antara dua rumah yang selama ini menjadi tempat bertumbuh bagi Samaira dan Arkan. Pagi hari yang biasanya diisi dengan sapaan akrab, suara tawa ringan saat mencuci kendaraan, atau obrolan santai sambil menikmati secangkir kopi di teras, kini berganti menjadi keheningan yang kaku dan penuh ketegangan.
Arman tampak lebih sering menghabiskan waktunya di ruang kerja rumah dengan pintu tertutup rapat, sementara Ammar memilih berangkat lebih pagi ke tempat kerjanya demi menghindari pertemuan canggung di pekarangan depan. Tidak ada lagi gelak tawa di meja makan keluarga besar. Keputusan anak-anak mereka untuk melangkah lebih jauh dalam hubungan personal telah memicu riak besar yang mengguncang fondasi persahabatan puluhan tahun kedua kepala keluarga tersebut.
"Kenapa situasinya harus jadi serumit ini, Ibu?" lirih Samaira suatu sore, duduk di tepi tempat tidur sambil menatap pantulan dirinya di cermin meja rias.
Ibunya, yang berdiri di ambang pintu kamar dengan nampan berisi teh hangat, menghela napas panjang. Wajah wanita paruh baya itu menyuratkan kelelahan batin yang mendalam. "Bukan salah siapa-siapa, Air. Ayahmu dan Om Ammar hanya... merasa kaget. Perubahan dari hubungan persahabatan keluarga menjadi sesuatu yang lebih serius ternyata tidak semudah itu diterima dalam waktu singkat. Berikan mereka waktu."
"Tapi rasanya sesak melihat mereka seperti orang asing yang saling menghindar di rumah sendiri," balas Samaira dengan mata berkaca-kaca. Ia merasa memikul beban moral yang teramat berat. Keputusan hatinya untuk merajut kasih dengan Arkan, pemuda yang telah menemaninya sejak masa sekolah dasar, ternyata mendatangkan badai besar di dalam lingkaran keluarga terdekat mereka.
Di rumah sebelah, situasinya tidak jauh berbeda. Arkan mondar-mandir di dalam kamarnya dengan perasaan frustrasi yang memuncak. Ia tahu betul betapa besar harga yang harus dibayar demi memperjuangkan rasa yang selama ini mereka simpan rapat-rapat. Ketegangan antara ayahnya dan Om Arman bukanlah sesuatu yang bisa diselesaikan hanya dengan diam dan menunggu waktu berjalan. Sesuatu harus segera dilakukan sebelum jarak di antara kedua keluarga berubah menjadi jurang pemisah yang permanen. Namun, tekanan psikologis yang menghimpit membuat langkah mereka terasa begitu berat, seolah berjalan di atas pecahan kaca yang siap melukai kapan saja.
❖ ❖ ❖
Merasa menjadi penyebab utama keretakan tersebut, Samaira memutuskan untuk mengepak barang-barangnya dan berniat tinggal lebih lama di indekos kampus demi meredakan situasi.
Keputusan itu diambil setelah ia mendengar perdebatan kecil namun sengit antara Arman dan Ammar di ruang tengah semalam. Meskipun suara mereka diredam, nada bicara yang meninggi sudah cukup membuat hati Samaira hancur berkeping-keping. Ia tidak sanggup lagi menjadi duri dalam daging bagi keharmonisan dua keluarga yang selama ini hidup rukun bagaikan saudara kandung.
Pagi-pagi sekali, saat matahari baru saja menerobos celah jendela kamar, Samaira menarik koper hitam berukuran sedang dari atas lemari. Dengan gerakan tangan yang sedikit gemetar, ia mulai melipat pakaian, memasukkan beberapa buku catatan kuliah, serta bingkai foto kenangan masa kecil ke dalam lipatan koper tersebut. Air matanya menetes begitu saja, membasahi permukaan kain baju yang sedang ia rapikan. Rasanya begitu menyakitkan harus melarikan diri dari rumah sendiri demi menciptakan kedamaian artifisial bagi orang-orang dewasa di sekitarnya.
"Air... apa kamu yakin mau balik ke indekos sekarang? Kuliahmu kan masih libur akhir pekan," suara ibunya terdengar lembut dari balik pintu kamar yang terbuka setengah. Ibunya melangkah masuk, melihat koper hitam yang sudah tertutup rapat di lantai.
Samaira mendongak, menyeka air mata di pipinya dengan cepat. "Iya, Bu. Aku rasa ini jalan terbaik untuk sementara waktu. Biar suasananya di sini adem dulu. Kalau aku terus-terusan ada di sini, ketegangannya tidak akan pernah reda," ucap Samaira dengan suara parau menahan tangis.
"Tapi melarikan diri bukan berarti menyelesaikan masalah, sayang," nasihat ibunya sambil merangkul pundak Samaira penuh kasih sayang.
"Aku tidak melarikan diri, Bu. Aku cuma... ingin mengalah. Biar Ayah dan Om Ammar bisa berpikir jernih tanpa harus melihat aku di hadapan mereka setiap hari," jawab Samaira pasrah.
Setelah berpamitan singkat dan mencium tangan kedua orang tuanya dengan hati yang perih, Samaira menyeret koper hitamnya menuruni anak tangga menuju pintu depan. Udara pagi terasa begitu dingin di kulitnya. Langkah kakinya terasa sangat berat, seolah setiap jengkal tanah di halaman rumah itu menahannya untuk tetap tinggal. Namun, tekadnya sudah bulat. Ia harus pergi sebelum badai di rumah itu semakin menghancurkan segalanya.
❖ ❖ ❖
Saat Samaira menyeret koper hitamnya ke luar gerbang, Arkan mencegat langkahnya di tengah jalan setapak antarrumah dengan tatapan mata penuh determinasi.
Suara roda koper yang bergesekan dengan permukaan paving block terdengar nyaring di pagi yang sunyi itu. Baru saja Samaira melewati batas gerbang halaman rumahnya, sebuah bayangan tubuh tinggi besar tiba-tiba berdiri melintang di jalur setapak yang menghubungkan rumahnya dengan rumah Arkan. Samaira terperanjat kaget, menghentikan tarikan tangannya pada pegangan koper.
"Arkan? Sedang apa kamu di sini?" tanya Samaira dengan napas tertahan, mendapati pemuda itu berdiri dengan mengenakan kaos hitam polos dan celana training, napasnya sedikit memburu seolah baru saja berlari keluar rumah.
Arkan tidak langsung menjawab. Matanya menatap tajam ke arah koper hitam di sisi Samaira, lalu beralih menatap wajah gadis itu yang tampak pucat dan sembab akibat kurang tidur dan menangis.
"Mau kemana kamu bawa koper sebesar itu, Air?" tanya Arkan dengan suara berat, intonasinya terdengar tegas namun menyiratkan kepedihan yang mendalam.