Matahari sore di kota universitas menyisakan bias cahaya merah tembaga yang menembus jendela kamar indekos Samaira. Di atas kursi kayu belajar, tergantung sehelai jas putih laboratorium berukuran sedang yang baru saja dilepaskannya dengan gerakan lesu. Samaira menjatuhkan tubuhnya ke tepi tempat tidur, memijat pelipisnya yang berdenyut pelan akibat jam praktikum anatomi yang melelahkan seharian penuh.
Semester pertama di dunia perkuliahan memaksa Samaira untuk segera meninggalkan kebiasaan masa sekolahnya yang serba teratur. Kini, ritme hidupnya didikte oleh jadwal kuliah yang padat, tugas laporan praktikum yang menumpuk, serta suasana kampus yang menuntut kemandirian penuh. Namun, satu hal yang paling melekat dan seolah menjadi identitas barunya saat ini adalah aroma khas yang tertinggal di bajunya.
Samaira menunduk, mendekatkan kerah jas putihnya ke dekat hidung, lalu menghela napas panjang.
"Bau formalin ini lagi..." gumam Samaira pelan, suaranya terdengar serak dan lelah. "Rasanya aroma cairan pengawet ini sudah meresap ke dalam pori-pori kulitku, bahkan menempel di buku-buku catatanku."
Pintu kamar kos diketuk tiga kali dengan lembut, disusul oleh suara serak khas wanita paruh baya yang menjadi pengelola bangunan tersebut. "Samaira, nak? Ini ibu."
Samaira segera bangkit dari tempat tidur dan melangkah membuka pintu kayu kamarnya. Di hadapannya berdiri Bu Siti, pemilik indekos yang selalu ramah dengan senyuman hangat di wajahnya.
"Eh, Ibu. Ada apa, Bu?" tanya Samaira sambil merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.
"Ini ada titipan paket untukmu, Sam. Tadi diantar sama kurir ekspedisi kilat khusus ke meja resepsionis di lantai bawah," jawab Bu Siti sambil menyerahkan sebuah kardus kecil berwarna cokelat terang yang diikat rapi dengan tali rami. "Kelihatannya dari luar kota, ya? Pengirimnya menuliskan nama Arkan."
Mendengar nama tersebut, mata Samaira yang tadinya sayu seketika berbinar lebar. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat dari biasanya. "Arkan, Bu?"
"Iya, betul. Nak Arkan yang sering meneleponmu akhir pekan lalu, kan? Wah, perhatian sekali anak muda zaman sekarang, kirim-kirim paket pakai ekspedisi khusus segala," ucap Bu Siti sambil terkekeh pelan, menggoda Samaira yang pipinya mulai merona merah.
Samaira menerima kardus kecil itu dengan kedua tangannya, merasakan sedikit kehangatan merayap di telapak tangannya. "Terima kasih banyak ya, Bu. Repot-repot membawanya ke atas."
"Sama-sama, Nak Samaira. Silakan diteruskan istirahatnya, sepertinya kamu benar-benar kelelahan hari ini," balas Bu Siti sebelum akhirnya berbalik dan melangkah menuruni koridor indekos.
Samaira menutup pintu kamarnya kembali, menyandarkan punggungnya pada daun pintu sambil menatap tajam ke arah kardus di tangannya. Ruang kamar yang tadinya terasa pengap oleh aroma formalin kini mendadak terasa berbeda, dipenuhi oleh rasa penasaran yang manis.
❖ ❖ ❖
Di atas meja belajarnya yang dipenuhi tumpukan buku atlas anatomi tubuh manusia dan diktat kuliah setebal batu bata, Samaira meletakkan kardus kecil kiriman Arkan secara hati-hati. Suasana sore menjelang magrib di luar sana terasa begitu sunyi, hanya ditemani oleh suara kendaraan yang berlalu-lalang di jalan raya utama kota tempat kampusnya berada.
Samaira mengambil sebuah gunting kecil dari dalam laci meja, lalu mulai memotong selotip cokelat yang merekatkan tutup kardus tersebut. Jemarinya sedikit gemetar, bukan karena rasa takut, melainkan karena rasa rindu yang sudah menumpuk selama berbulan-bulan sejak mereka terpisah jarak akibat kuliah di kota yang berbeda.
"Kira-kira apa ya isi di dalam kardus sekecil ini?" gumam Samaira sendirian, berbicara pada ruangan kosong kamarnya.