Tit Tak Sempurna

Amrullah Ibrahim
Chapter #27

Rapat Darurat di Kedai Kopi Kampus

Sore itu, langit di atas kampus teknik tampak muram, seolah mencerminkan suasana hati Arkan dan Samaira yang duduk berhadapan di sebuah kedai kopi kecil di sudut jalan. Biasanya, tempat ini menjadi saksi bisu diskusi tugas kuliah mereka yang santai, ditemani aroma biji kopi panggang yang menenangkan. Namun hari ini, aroma kopi tercium hambar, tertutup oleh ketegangan yang menyelimuti meja mereka.

Arkan menatap layar ponselnya dengan gelisah, sementara Samaira mengaduk-aduk latte-nya yang sudah dingin tanpa niat meminumnya. Keheningan di antara mereka terasa menyiksa, padahal mereka baru saja keluar dari "interogasi" keluarga di rumah Arkan yang berakhir dengan ultimatum mengerikan: perjodohan antara dua sahabat karib sejak masa kanak-kanak.

Beberapa menit kemudian, pintu kedai berdenting pelan, menandakan kedatangan dua sosok yang mereka tunggu. Varisha, dengan rambut panjang yang diikat tinggi dan tatapan mata yang tajam, serta Fathan yang bertubuh tinggi besar namun tampak santai, melangkah masuk. Mereka adalah sahabat terdekat Arkan dan Samaira sejak awal masa perkuliahan.

"Gila, macetnya Jakarta sore ini minta ampun," keluh Fathan sambil menarik kursi kayu di samping Arkan, menjatuhkan tubuhnya dengan lelah. "Kalian kelihatan pucat banget. Ada apa? Arkan, kamu sakit?"

Varisha duduk di seberang Fathan, di samping Samaira, dan langsung menyadari atmosfer yang berat di meja itu. Ia mengamati wajah tegang Arkan dan mata Samaira yang tampak sembab. "Ada sesuatu yang serius, kan? Bukan sekadar masalah skripsi atau dosen pembimbing killer, kan?"

Arkan menghela napas panjang, suaranya terdengar berat saat menjawab, "Lebih buruk dari itu, Var. Jauh lebih buruk." Ia menoleh sekilas ke arah Samaira, meminta persetujuan diam-diam untuk menceritakan masalah ini. Samaira mengangguk pelan, matanya menunduk, tidak sanggup menatap kedua sahabat mereka.

Aroma biji kopi panggang menemani pertemuan tegang di sudut kedai kampus, tempat Varisha dan Fathan mendengarkan seluruh cerita pelik tentang perjodohan paksa tersebut.

"Perjodohan paksa?" seru Varisha nyaris memekik, membuat beberapa pengunjung kedai menoleh ke arah mereka. Ia segera menutup mulutnya dengan tangan, terkejut, lalu mencondongkan tubuhnya ke depan. "Maksud kalian, orang tua kalian mau menjodohkan kalian berdua? Seperti di drama-drama kolosal tahun 90-an?"

"Ini bukan drama, Var," kata Samaira getir, akhirnya mengangkat wajahnya. "Papa dan Om Arman—Ayah Arkan—sudah sepakat. Mereka menganggap ini cara terbaik untuk menyatukan dua keluarga dan... yah, entahlah, menjamin masa depan bisnis mereka."

Arkan menambahkan dengan nada frustrasi, "Mereka bahkan sudah membicarakan tanggal pertunangan. Bulan depan. Saat libur semester nanti."

Fathan yang biasanya ceria dan selalu punya bahan lelucon, terdiam seribu bahasa. Ia menyilangkan kedua lengannya di depan dada, otaknya bekerja keras mencerna informasi yang tidak masuk akal ini. Arkan dan Samaira bagaikan saudara bagi mereka; memikirkan mereka harus menikah karena paksaan orang tua adalah hal yang asing sekaligus menggelikan.

❖ ❖ ❖

Fathan, sahabat setia Arkan sejak awal kuliah, mengerutkan kening tajam setelah mendengar bagaimana dua om-om paruh baya—sebutan akrabnya untuk Arman dan Ammar—bisa sepihak mengatur takdir cinta anak-anak mereka.

"Serius, nih? Pak Arman yang kelihatan bijak itu dan Pak Ammar yang... err, agak kaku itu?" tanya Fathan memastikan, alisnya bertaut. "Mereka pikir kita hidup di abad berapa? Mengatur pernikahan anak-anak mereka di era modern ini? Ini benar-benar gila."

"Kami tahu, Fat," desah Arkan, memijat pelipisnya yang berdenyut. "Tapi kamu tahu sendiri bagaimana keras kepalanya Papa. Kalau sudah punya ide, tidak ada yang bisa membantahnya. Apalagi kalau sudah menyangkut bisnis dan persahabatan lamanya dengan Om Arman."

"Dan Mamaku juga sudah termakan omongan Papa," tambah Samaira lemah. "Aku tidak pernah melihat Mama seantusias ini. Dia sudah membayangkan gaun pengantin, dekorasi, undangan... rasanya aku terjebak dalam mimpi buruk."

"Tidak bisa dibiarkan," tukas Fathan, nada suaranya naik satu oktaf. "Kalian harus melawan. Kalian punya hak atas hidup kalian sendiri. Ini bukan zaman Siti Nurbaya, di mana anak gadis harus pasrah dijodohkan."

Arkan menggeleng putus asa. "Melawan bagaimana, Fat? Kalau aku melawan secara terang-terangan, Papa bisa kena serangan jantung. Dia punya riwayat hipertensi. Aku tidak mau menjadi anak durhaka yang menyebabkan orang tuanya celaka."

"Sama," sahut Samaira. "Kalau aku menolak, Mama pasti akan menangis histeris dan menganggap aku tidak menghargai pengorbanannya selama ini. Posisi kami sangat sulit. Kami terjepit di antara keinginan kami sendiri dan kebahagiaan orang tua kami."

Varisha mendengarkan dengan ekspresi campur aduk antara simpati dan kegeraman. Ia membenci ketidakadilan, dan pemaksaan kehendak orang tua adalah salah satu hal yang paling tidak bisa diterimanya. Otaknya yang cerdik dan licik mulai bekerja, merumuskan sebuah ide yang mungkin tampak radikal, namun menurutnya, adalah satu-satunya cara untuk memberikan pelajaran kepada kedua orang tua yang keras kepala itu.

"Ini adalah situasi darurat yang membutuhkan tindakan drastis," ujar Varisha dengan seringai tipis, matanya mulai berbinar-binar penuh provokasi. "Orang tua kalian telah membuat rencana sepihak tanpa memikirkan perasaan kalian. Maka, kita harus membuat rencana balasan. Sebuah rencana yang akan membuat mereka panik setengah mati dan menyadari kesalahan fatal mereka."

❖ ❖ ❖

Varisha dengan mata menyala-nyala langsung menyusun rencana provokatif: membuat Samaira dan Arkan "menghilang" sementara waktu pada hari H acara keluarga demi memberi efek jera.

Lihat selengkapnya