Waktu menuju hari "pertemuan keluarga" semakin menipis, sementara ketegangan di rumah Samaira dan Arkan mencapai titik didih tertinggi. Udara pagi di kota metropolitan terasa begitu pengap, membawa beban psikologis yang menghimpit dada kedua keluarga besar. Berita tentang rencana perjodohan silang antara Samaira dengan sepupu jauh keluarga yang dianggap sebagai "bibit unggul" bisnis keluarga besar mulai disosialisasikan secara sepihak oleh para orang tua. Pertemuan formal yang diagendakan akhir pekan depan bukan sekadar jamuan makan malam biasa, melainkan panggung pelamaran terselubung yang dirancang untuk mengunci masa depan Samaira tanpa meminta persetujuannya terlebih dahulu.
Di kamar tidurnya yang berantakan dengan tumpukan buku sketsa arsitektur dan catatan kuliah, Arkan mengepalkan tangan hingga buku-buku jarinya memutih. Layar ponselnya menampilkan pesan teks dari Samaira yang penuh dengan kecemasan mendalam. Hubungan yang baru saja mereka resmikan di kedai kopi beberapa waktu lalu kini harus menghadapi ujian terberat sebelum sempat mengakar dengan kuat.
"Kita tidak boleh tinggal diam dan membiarkan mereka mengatur hidup kita begitu saja, Ar. Aku tidak mau dijodohkan dengan orang yang bahkan belum pernah kutemui," begitu bunyi pesan terakhir Samaira yang terus berputar di kepala Arkan.
Pintu kamar Arkan diketuk pelan sebelum akhirnya Fathan—sahabat karib sekaligus rekan diskusi mereka di kampus—muncul dengan senyum penuh keyakinan di balik bingkai kacamata framelessnya. Fathan masuk tanpa diundang, membawa segelas kopi dingin dan sebuah map tebal berisi dokumen digital yang ia unduh melalui jaringan internal universitas.
"Jangan pasang wajah seperti orang mau kalah perang begitu, Arkan," ucap Fathan santai sambil melemparkan map tersebut ke atas meja belajar yang dipenuhi pena. "Kalau orang tua kalian menggunakan cara konvensional berupa tekanan keluarga dan tradisi kuno, maka kita harus menggunakan strategi modern berbasis birokrasi kampus yang tidak bisa mereka bantah dengan mudah."
Arkan mendongak, menatap Fathan dengan alis berkerut. "Maksudmu? Apa yang sudah kamu siapkan, Fathan?"
Fathan menarik kursi putar dan duduk tepat di hadapan Arkan. "Begini. Pertemuan keluarga itu dijadwalkan hari Sabtu sore, tepat di saat dekanat universitas sedang mengadakan evaluasi program riset unggulan mahasiswa. Jika kita bisa menciptakan alasan akademis yang bersifat wajib dan melibatkan instansi resmi luar kota, orang tua kalian tidak akan punya celah untuk memaksa kalian hadir."
"Itu terdengar gila dan terlalu berisiko," sanggah Arkan cepat. "Bagaimana kalau ibu atau ayahku mengecek langsung ke kampus?"
"Makanya aku yang mengatur semuanya dari balik layar," balas Fathan dengan seringai licik namun menenangkan. "Jaringanku di birokrasi akademik cukup luas untuk menerbitkan surat tugas resmi peninjauan tapak proyek riset arsitektur kolaborasi lintas kota. Semua legal secara administratif, ditandatangani secara elektronik, dan yang terpenting: tidak bisa ditolak oleh alasan keluarga tradisional."
Arkan terdiam sejenak. Ia tahu persis bahwa melibatkan birokrasi palsu atau rekayasa jadwal akademik adalah pelanggaran moral yang besar dalam hidupnya yang selalu lurus. Namun, pilihan di hadapannya sangat sempit: menempuh jalan manipulasi atau merelakan Samaira jatuh ke tangan pria pilihan keluarga besar yang arogan.
❖ ❖ ❖
Fathan menggunakan jaringannya di kampus untuk mengatur alasan akademis palsu namun mendesak, seolah-olah Arkan harus mengikuti olimpiade riset mendadak di luar kota. Di hadapan layar komputer lab teknik yang berpendar terang, jemari Fathan menari lincah di atas papan ketik, meretas celah kecil dalam sistem penjadwalan laboratorium pusat untuk menyisipkan nama Arkan sebagai ketua delegasi riset lapangan regional.
"Selesai," ujar Fathan puas sambil menekan tombol enter terakhir. "Dalam waktu dua jam, surat tugas resmi berstampel digital akan masuk ke email akademikmu dan secara otomatis terkirim tembusannya ke bagian administrasi kemahasiswaan rumah tangga kalian. Dengan begitu, secara hukum kampus, kamu tercatat sedang bertugas negara ke luar kota pada hari Sabtu sore."
Arkan menatap layar monitor dengan perasaan campur aduk antara kagum dan ngeri. "Fathan, kalau rekayasa ini terbongkar oleh bagian audit internal universitas, kita berdua bisa berurusan dengan Komite Etik Kampus. Skorsing menanti kita."
"Tenang saja, kawan. Audit internal baru akan berjalan bulan depan, dan saat itu terjadi, urusan perjodohan kalian sudah selesai atau setidaknya sudah digagalkan secara permanen," bela Fathan enteng, menepuk-nepuk bahu Arkan untuk mencairkan ketegangan. "Yang harus kamu khawatirkan sekarang bukan audit kampus, melainkan bagaimana cara meyakinkan ibumu di rumah bahwa tugas ini sangat mendesak dan tidak bisa diwakilkan."
Di sisi lain kota, strategi serupa sedang dijalankan dengan presisi tinggi oleh Varisha—sahabat karib Samaira yang juga mahasiswi tingkat akhir jurusan kedokteran forensik. Varisha memanfaatkan laboratorium patologi anatomi kampus yang terkenal steril dan ketat pengawasannya sebagai pangkalan alibi Samaira.
"Sam, dengarkan aku baik-baik," bisik Varisha di dalam ruang preparasi lab yang beraroma cairan formalin tajam. "Kita harus membuat bukti kehadiran fisik yang sah secara administratif. Aku akan memasukkan namamu ke dalam daftar asisten peneliti shift malam untuk analisis sampel forensik kasus lama yang datanya harus diinput ke server pusat."
Samaira memeluk erat map biru berisi catatan laboratorium, wajahnya tampak pucat pasi. "Tapi Varish, ibuku tahu persis jadwal kuliahku. Kalau beliau menelepon pengawas laboratorium atau datang langsung mencariku ke kampus saat acara keluarga itu berlangsung, bagaimana?"
"Makanya aku yang jadi pengawasnya!" potong Varisha tegas dengan mata berbinar penuh semangat revolusioner. "Selama kamu berada di dalam ruangan lab tertutup ini mengenakan jas laboratorium lengkap dengan masker dan sarung tangan medis, tidak ada satu pun anggota keluargamu yang diizinkan masuk karena alasan sterilisasi ketat SOP forensik. Paham? Ini benteng pertahanan terakhir kita."
Samaira menelan ludah susah payah. Rencana yang disusun oleh Fathan dan Varisha ini ibarat pisau bermata dua; di satu sisi menyelamatkan mereka dari cengkeraman perjodohan paksa, namun di sisi lain menuntut kebohongan berlapis-lapis kepada orang tua yang selama ini mendidik mereka dengan kejujuran mutlak.
"Apakah cara ini benar-benar satu-satunya jalan?" cicit Samaira pelan, menatap jam tangan biru laut di pergelangan tangannya yang terus berdetak tanpa henti, seolah menghitung mundur detik-detik menuju bencana keluarga.
"Kalau kamu punya cara lain yang lebih elegan tanpa harus membuat hatimu hancur berkeping-keping karena dinikahkan dengan anak rekan bisnis Ayahmu yang menyebalkan itu, silakan katakan sekarang," tantang Varisha lembut namun telak.
Samaira terdiam. Bayangan wajah pria asing calon suami pilihan keluarganya melintas di benaknya, menghapus segala keraguan yang sempat tersisa. Ia mengangguk perlahan, menyerahkan masa depannya malam itu ke dalam skenario berbahaya yang dirancang oleh para sahabat setianya.