Tit Tak Sempurna

Amrullah Ibrahim
Chapter #29

Air Mata Varisha di Stasiun Kereta

Stasiun Gambir sore itu terasa lebih pengap dari biasanya. Langit Jakarta yang kelabu sejak siang menumpahkan sisa-sisa air matanya, menciptakan gerimis yang menyelimuti peron stasiun dengan kabut tipis dan aroma basah yang khas. Di tengah kerumunan penumpang yang sibuk berlalu-lalang, Samaira berdiri mematung di dekat pintu masuk zona boarding, langkahnya terasa berat seperti dibebani jangkar. Tangannya yang dingin mencerat erat pegangan koper berwarna navy, buku-buku jarinya memutih karena menahan gejolak emosi yang berkecamuk di dalam dada. Di hadapannya, berdiri sosok pria paruh baya yang tampak sepuluh tahun lebih tua dalam semalam. Ayah Samaira, Pak Hartono, menatapnya dengan tatapan yang menghancurkan hati putrinya—sebuah campuran antara keputusasaan, kekecewaan mendalam, dan kesedihan yang tak terperi.

"Ayah mohon, Sam... jangan pergi," bisik Pak Hartono, suaranya parau, nyaris tak terdengar di tengah bisingnya pengeras suara stasiun yang mengumumkan kedatangan kereta Argo Parahyangan. Bahunya yang dulu tegap kini merosot, menanggung beban moral yang tak sanggup lagi ia pikul sendirian.

Samaira menggigit bibir bawahnya hingga terasa asin darah, berusaha menahan isak tangis yang sudah mendesak di tenggorokan. Melihat air mata menetes perlahan di pipi keriput ayahnya, pertahanan Samaira runtuh seketika. Rasa takut akan perjodohan paksa yang direncanakan oleh keluarganya demi kepentingan bisnis—menikah dengan pria arogan bernama Dirga—seketika menguap, digantikan oleh rasa bersalah yang luar biasa menyiksa karena telah membuat ayahnya sedih.

"Ayah... aku..." Samaira tergagap, tubuhnya bergetar hebat. Ia melepaskan pegangan kopernya, berniat menjatuhkan diri dalam pelukan ayahnya dan membatalkan seluruh rencana pelarian nekat ini. "Maafin aku, Yah. Aku... aku nggak jadi pergi. Aku akan kembali ke rumah."

Pak Hartono menghela napas lega, air matanya semakin deras mengalir. Ia merentangkan tangannya, bersiap menyambut putri satu-satunya yang akhirnya memilih untuk berbakti meskipun dengan hati yang terluka. Namun, sebelum tangan Samaira berhasil menyentuh lengan ayahnya, sebuah cengkeraman kuat dan mendadak menahan lengannya dari belakang, menghentikan langkahnya sepenuhnya.

❖ ❖ ❖

Samaira menoleh dengan sentakan kasar, mendapati Varisha—sahabat karibnya sejak masa sekolah—telah berdiri di sana dengan tatapan mata tajam setajam silet. Wajah Varisha memerah padam, bukan karena lelah mengejar, melainkan karena amarah yang meluap-luap melihat sikap labil Samaira di saat-saat krusial seperti ini. Varisha mengabaikan keberadaan Pak Hartono yang tampak terkejut melihat kehadiran pihak ketiga yang begitu agresif. Varisha dengan sengaja memosisikan tubuhnya sebagai perisai di antara Samaira dan ayahnya.

"Varisha, lepasin! Gue nggak bisa!" Samaira berontak lemah, mencoba menarik lengannya kembali, namun cengkeraman Varisha justru semakin menguat.

"Lo waras, Sam?!" hardik Varisha, suaranya meninggi, terdengar putus asa namun penuh ketegasan. "Lo udah berencana sejauh ini, Fathan sama Arkan udah pertaruhkan segalanya buat siapin persembunyian lo, dan sekarang lo mau menyerah cuma karena satu tetes air mata Ayah lo?! Lo pikir perjodohan sialan itu nggak bakal menghancurkan hidup lo selamanya nanti?"

Samaira menggelengkan kepalanya putus asa, air matanya tumpah membasahi wajahnya. "Tapi gue nggak tega, Varisha! Gue anak durhaka kalau ninggalin Ayah dalam keadaan kayak gini. Dia kecewa banget sama gue."

"Kecewa karena apa? Karena lo menolak dijual untuk melunasi hutang perusahaan keluarganya?" Varisha mencekal lengan Samaira lebih keras di depan pintu gerbong kereta yang terbuka, peron stasiun yang riuh rendah mendadak terasa sunyi bagi mereka berdua. Di sudut matanya, Varisha melihat kondektur kereta sudah bersiap memberikan aba-aba terakhir. "Sam, sadar! Sikap labil lo yang hampir menyerah pada tekanan mental keluarga itu cuma bakal bikin pengorbanan orang-orang yang sayang sama lo jadi sia-sia belaka. Fathan udah habisin tabungannya buat sewa kontrakan aman di Bandung, Arkan udah cuti kerja demi urus logistik, dan lo mau buang itu semua ke tempat sampah?"

Pak Hartono yang berdiri beberapa langkah di belakang mereka tampak syok mendengar tuduhan Varisha. Varisha melepaskan cengkeraman di lengan Samaira, namun tatapan matanya masih menghunjam dalam-dalam ke manik mata sahabatnya yang penuh ketakutan.

"Sam, ini bukan tentang durhaka atau tidak," lanjut Varisha dengan nada suara yang lebih terkontrol namun masih bergetar oleh emosi. "Ini tentang bertahan hidup sebagai manusia, bukan sebagai barang dagangan. Kalau lo menikah dengan Dirga karena terpaksa, lo bukan cuma mengkhianati diri lo sendiri dan membunuh mimpi lo untuk jadi penulis hebat, tapi lo juga—" Varisha menarik napas panjang, suaranya bergetar hebat saat mengucurkan kata-kata berikutnya.

❖ ❖ ❖

Lihat selengkapnya