Tit Tak Sempurna

Amrullah Ibrahim
Chapter #30

Chapter tanpa judul #30

Hari yang dinanti-nantikan oleh dua keluarga besar itu akhirnya tiba, membawa serta aroma kemewahan dan ketegangan yang kental. Langit Jakarta sore itu mendung, seolah mencerminkan suasana hati yang tidak menentu dari dua insan yang menjadi pusat perhatian malam ini, Samaira dan Arkan. Namun, di dalam ballroom restoran mewah yang telah dipesan khusus, segalanya tampak berkilau. Lampu kristal gantung memancarkan cahaya hangat, menerangi meja panjang yang dihias indah dengan rangkaian bunga lili putih dan mawar merah muda, lilin-lilin aromaterapi menyala redup, menciptakan atmosfer romantis yang agung.

Ini bukan sekadar makan malam biasa. Ini adalah "pertemuan keluarga" yang megah, sebuah eufemisme halus dari para orang tua untuk menyebut acara pertunangan yang dipaksakan. Pelayan berseragam rapi hilir mudik memastikan segala detail sempurna, mulai dari penempatan alat makan perak hingga suhu ruangan yang sejuk. Di sudut ruangan, sebuah string quartet memainkan musik klasik instrumental dengan lembut, menambah kesan elitis acara tersebut.

Arman, ayah Samaira, berdiri di dekat pintu masuk, mengenakan setelan jas navy custom yang tampak mahal, rambutnya disisir rapi ke belakang. Ia menyambut setiap kerabat yang datang dengan senyum lebar yang dipaksakan, sorot matanya memancarkan kebanggaan semu. Di sampingnya, ibunya Samaira, tampak anggun dalam balutan kebaya modern berwarna senada, sibuk berbasa-basi dengan istri-istri kolega bisnis suaminya. Mereka bertindak seolah-olah ini adalah hari bahagia putri mereka, tanpa pernah benar-benar bertanya apa yang diinginkan putri mereka.

Sementara itu, di meja utama, Ammar, ayah Arkan, duduk dengan postur tegap dan angkuh. Ia juga mengenakan setelan jas berwarna hitam legam, penampilannya menyiratkan kekuasaan dan kontrol. Di sebelahnya, istri Ammar terlihat gelisah, matanya sesekali melirik arloji berlian di pergelangan tangannya, lalu menatap suaminya dengan tatapan cemas. Ammar menyambut beberapa kerabat dekat mereka dengan jabatan tangan yang kuat, namun rahangnya tampak mengeras. Meskipun mereka berusaha menampilkan wajah bangga di depan umum, ketegangan di udara begitu nyata, sebuah badai yang siap meledak kapan saja.

Restoran mewah tersebut berangsur-angsur penuh. Puluhan kursi telah terisi oleh kerabat dekat, kolega bisnis, dan teman-teman dari kedua keluarga besar. Gelak tawa dan percakapan basa-basi terdengar memenuhi ruangan, namun ada satu detail yang mencolok: dua kursi di ujung meja panjang, kursi yang seharusnya diduduki oleh dua tokoh utama malam itu, masih kosong melompong, menanti kehadiran Samaira dan Arkan. Keheningan kecil mulai menyusup di tengah keramaian, sebuah pertanyaan yang belum terucap: Di mana kedua calon mempelai itu?

❖ ❖ ❖

Arman dan Ammar kini duduk berdampingan di kursi kehormatan, wajah mereka yang tadinya bangga kini perlahan berubah menjadi topeng kekesalan. Jamuan makan malam seharusnya sudah dimulai lima belas menit yang lalu, dan hidangan pembuka telah siap disajikan, namun kursi di ujung meja masih kosong. Para tamu undangan mulai saling berbisik satu sama lain, menatap ke arah pintu masuk restoran setiap kali ada pelayan yang melewatinya.

"Ke mana anak itu?" desis Arman kepada istrinya, suaranya rendah namun tajam. "Sudah jam delapan lewat lima belas menit. Ini tidak sopan, membuat malu keluarga di depan relasi bisnis penting." Ia melirik arloji mahalnya dengan tidak sabar, lalu menoleh ke arah Ammar yang tampak lebih marah lagi.

Ammar sedang sibuk menggenggam ponselnya erat-erat, jari-jarinya menari-nari di atas layar, mencoba menghubungi Arkan untuk kesepuluh kalinya malam ini. Setiap panggilannya hanya berujung pada voicemail yang dingin. "Arkan, angkat teleponnya!" gumam Ammar antara gigi terkatup, wajahnya mulai memerah padam menahan amarah yang meletup-letup. Ia membanting ponselnya ke meja restoran dengan keras, dentingannya menarik perhatian beberapa tamu di meja terdekat.

"Mungkin mereka terjebak macet, Pak Arman, Bu Ammar," Varisha, kakak ipar Samaira, mencoba mencairkan suasana yang membeku, suaranya terdengar gugup. Ia duduk di tengah-tengah kerabat yang mulai tidak nyaman. "Jakarta sore ini memang luar biasa padatnya, apalagi di daerah Sudirman."

"Macet tidak bisa menjadi alasan untuk keterlambatan satu jam penuh, Varisha," potong Ammar tajam, matanya menatap tajam menantu Arman itu. "Mereka tahu betapa pentingnya acara malam ini bagi kedua keluarga. Ini adalah masalah komitmen dan rasa hormat."

Suasana di ruangan itu kini benar-benar tegang. Percakapan di meja-meja tamu perlahan mereda, digantikan oleh keheningan canggung yang hanya diisi oleh musik instrumental latar yang kini terdengar menyedihkan. Para pelayan terlihat bingung, tidak tahu apakah harus menyajikan makanan atau menunggu lebih lama lagi. Arman dan Ammar duduk kaku, tidak lagi berbasa-basi dengan tamu, melainkan melempar pandangan tidak sabar ke arah pintu masuk. Mereka merasa dipermalukan, reputasi mereka sebagai kepala keluarga yang disiplin dan dihormati kini dipertaruhkan.

Waktu kedatangan yang dijanjikan telah lewat satu jam penuh, dan malam pertunangan megah itu berubah menjadi pertemuan keluarga yang canggung tanpa kehadiran pengantinnya.

❖ ❖ ❖

Di tengah keheningan yang menekan di restoran mewah tersebut, ponsel Arman dan Ammar berdering serentak, nada dering standar dari aplikasi pesan instan memecah kesunyian, membuat kedua pria itu tersentak kaget. Semua mata di ruangan itu tertuju pada mereka. Arman dengan gemetar mengambil ponselnya, sementara Ammar meraih ponselnya dengan gerakan kasar.

Lihat selengkapnya