Restoran mewah dengan pencahayaan temaram itu mendadak terasa seperti ruang pengadilan militer bagi Arman dan Ammar yang duduk berdampingan dengan wajah tegang.
"Sudah jam berapa ini, Ammar?" tanya Arman untuk kesekian kalinya, suaranya tercekat di tenggorokan. Ia melirik jam tangan mewahnya yang menunjukkan pukul 19.45 WIB, lima belas menit lewat dari waktu yang dijadwalkan untuk makan malam keluarga besar yang sakral ini.
Ammar, sahabat karibnya yang kini tampak seperti terdakwa di kursi pesakitan, tidak menjawab. Ia hanya menyeka keringat dingin yang menetes di pelipisnya dengan serbet kain. Pria paruh baya itu terus memutar-mutar cincin kawin di jari manisnya, sebuah kebiasaan yang ia lakukan saat dilanda kecemasan tingkat tinggi.
Mereka berada di ruang VIP restoran fine dining paling eksklusif di Jakarta Pusat. Interior ruangan bergaya Art Deco dengan lampu gantung kristal yang memancarkan cahaya hangat keemasan seharusnya menciptakan suasana romantis dan elegan. Namun, malam ini, kemewahan itu justru terasa mencekik. Meja makan panjang berkapasitas dua puluh orang yang tertata rapi dengan porselen impor dan lilin aromaterapi di tengahnya, tampak kosong melompong di bagian utama.
Hanya Arman dan Ammar yang duduk di sisi kanan meja, berdampingan seperti dua orang yang sedang menunggu vonis hakim. Di seberang mereka, kursi-kursi kayu jati yang diukir halus masih kosong, menanti kehadiran dua sosok yang paling ditunggu malam ini: Samaira dan Arkan.
Di sudut ruangan, sebuah string quartet bersiap memainkan musik pengantar makan malam. Mereka menyadari ketegangan yang menguar di udara, sehingga memilih untuk tetap diam, menyetem biola dengan gerakan pelan tanpa suara.
"Anak-anakmu itu benar-benar..." Arman tidak melanjutkan kalimatnya. Ia menghela napas panjang, mencoba meredakan gejolak amarah yang mulai merambat naik di dadanya. Selama dua puluh tahun bersahabat dengan Ammar, membangun bisnis kontraktor dari nol hingga sukses seperti sekarang, ini adalah kali pertama Arman merasa begitu dipermalukan oleh situasi yang diciptakan oleh anak mereka sendiri.
"Sabar, Man. Mungkin mereka terjebak macet parah. Jakarta kan tidak bisa diprediksi," bela Ammar lemah, suaranya bergetar. Ia sendiri tidak mempercayai kata-katanya sendiri. Ia tahu persis karakter putranya, Arkan. Arkan adalah tipe pria yang sangat menghargai waktu, terutama untuk janji penting seperti makan malam perjodohan yang telah diatur oleh kedua keluarga ini.
"Macet? Ini hari Minggu malam, Ammar. Dan kita bicara soal Samaira dan Arkan. Mereka tahu betapa pentingnya acara ini bagi kita semua," Arman menatap tajam sahabatnya itu.
"Aku sudah mencoba menghubungi Arkan puluhan kali, tapi ponselnya tidak aktif. Asistennya bilang dia sudah keluar kantor sejak jam lima sore," Ammar menundukkan kepala, memandang kosong pada piring porselen di hadapannya.
"Dan Samaira? Ponselnya juga tidak bisa dihubungi sejak siang tadi," timpal Arman, frustrasi. Ia menyandarkan punggungnya pada kursi, memijat pelipisnya yang berdenyut puyeng.
Ketegangan di antara mereka semakin memuncak seiring berjalannya detik. Suara denting alat makan dari luar ruangan VIP terdengar samar, menjadi pengingat kejam bahwa dunia di luar sana terus berjalan normal, sementara waktu di dalam ruangan ini seolah berhenti dalam penantian yang menyakitkan.
❖ ❖ ❖
Kursi kosong di seberang meja yang seharusnya diisi oleh Samaira dan Arkan terus menganga lebar, menjadi pusat perhatian seluruh kerabat keluarga besar yang hadir.
Pintu ruang VIP kembali terbuka, kali ini menampilkan pelayan restoran yang masuk dengan sopan membawa nampan berisi minuman pembuka. Suara langkah kaki pelayan yang mengenakan seragam rapi berwarna cream terdengar begitu nyaring di tengah keheningan ruangan.
Arman dan Ammar menegakkan punggung mereka, berharap melihat sosok Samaira dan Arkan di belakang pelayan tersebut. Namun, harapan itu pupus seketika saat pelayan meletakkan dua gelas sampanye dan dua gelas jus jeruk di depan kursi kosong di seberang mereka, lalu mundur perlahan dengan senyum canggung.
"Baik, Tuan-Tuan. Pesanan minumannya sudah siap. Apakah hidangan pembuka bisa segera disajikan?" tanya pelayan dengan suara lembut yang terdengar seperti bisikan di telinga kedua ayah yang sedang gelisah itu.
Arman melirik jam tangannya kembali. Pukul 20.10 WIB. Sudah empat puluh menit lewat dari jadwal. Di luar, deru mesin mobil di jalan raya Jakarta terdengar samar, seolah mengejek ketidakpastian nasib acara malam ini.
Ammar menelan ludah, suaranya terdengar kering saat menjawab, "Bisa ditunggu sebentar lagi, Mbak? Keluarga kami belum lengkap."
Pelayan mengangguk patuh lalu keluar dari ruangan, menutup pintu kayu jati dengan pelan, menyisakan kembali Arman dan Ammar dalam kurungan kecemasan.
Meja makan panjang yang didekorasi dengan bunga Hydrangea berwarna biru lembut dan putih itu kini terasa seperti saksi bisu kegagalan. Kursi-kursi kosong di seberang meja seolah memiliki mata yang menatap tajam ke arah mereka berdua, menghakimi ketidakmampuan mereka mengontrol anak-anak sendiri.