Restoran keluarga bergaya klasik dengan interior kayu jati tua itu tampak sangat lengang malam ini. Lampu gantung kristal memancarkan cahaya kekuningan yang temaram, menciptakan bayangan panjang di atas meja makan bundar berukuran besar di sudut ruangan. Suasana di dalam ruangan itu begitu berat, seolah udara di sekitar mereka telah berubah menjadi timah yang pekat. Dua orang pria paruh baya duduk berdampingan dengan postur tegap dan ekspresi wajah yang mengeras—Ammar dan Arman. Di seberang mereka, Samaira dan Arkan berdiri berdampingan, membawa beban ketegangan yang sudah menumpuk selama berbulan-bulan.
Di bawah tatapan tajam kedua ayah mereka, Samaira melangkah maju meletakkan sebuah map biru berisi seluruh lembar catatan masa kecil, tiket kereta, hingga surat-surat lama di atas meja.
"Apa arti semua ini, Samaira?" suara Ammar memecah keheningan dengan nada rendah namun penuh tekanan otoritas. Pria paruh baya itu melirik sekilas ke arah map biru tebal yang baru saja ditaruh di hadapannya.
Samaira menarik napas dalam-dalam, mencoba menstabilkan detak jantungnya yang bergemuruh hebat di dalam dada. Ia melirik Arkan sekilas sebelum kembali menatap mata sang ayah tanpa gentar. "Itu adalah bukti, Ayah. Semua memori, setiap langkah kecil perjalanan kami dari masa kanak-kanak hingga dewasa, tersimpan rapi di dalam sana."
Arman, ayah Arkan, mendengus pelan sambil melipat kedua tangan di depan dadanya. "Bukti untuk apa? Bukti bahwa kalian memang sudah ditakdirkan bersama sejak kecil? Kalau begitu, kalian seharusnya tidak perlu membuat keributan besar menentang keputusan keluarga."
"Bukan itu maksud kami, Om—maksudku, Ayah Arman," balas Samaira dengan suara yang mulai bergetar namun tetap tegas. Ia membuka tali pengikat map biru tersebut, memperlihatkan lembar demi lembar kenangan yang mereka susun dengan susah payah. "Map ini bukan bukti takdir perjodohan yang kalian inginkan. Ini adalah bukti bahwa persahabatan kami dibangun atas dasar ketulusan, bukan atas dasar dokumen formal atau kontrak bisnis yang kalian buat."
Arkan yang berdiri di samping Samaira ikut mengepalkan kedua tangannya di dalam saku celana. Ia menatap kedua orang tua mereka dengan pandangan tajam, siap melangkah lebih jauh untuk melindungi apa yang selama ini mereka pertahankan setengah mati.
"Kami datang ke sini bukan untuk berdebat kusir, Ayah," kata Samaira lirih namun menusuk. "Kami datang untuk menunjukkan bahwa kami ingin menentukan arah hidup kami sendiri."
❖ ❖ ❖
Dengan suara tegas, Arkan mengambil alih pembicaraan, menegaskan bahwa cinta di antara mereka bukanlah komoditas yang bisa diatur lewat tanda tangan kontrak antarkeluarga.
Melihat Samaira mulai kehabisan napas karena menahan emosi, Arkan melangkah setengah langkah ke depan, menempatkan dirinya sedikit di antara Samaira dan kedua orang tua mereka. Tatapan mata Arkan menyapu wajah Ammar dan Arman bergantian dengan sorot yang tidak kenal takut.
"Cukup, Ayah," ucap Arkan dengan nada suara yang rendah namun berwibawa, memotong ketegangan yang semakin memuncak di atas meja makan. "Jangan perlakukan Samaira seolah-olah dia anak kecil yang tidak mengerti apa-apa."
Arman menyipitkan matanya menatap sang putra sulung. "Arkan, jaga sikapmu! Kami melakukan semua ini demi kebaikan masa depan kalian berdua. Perjodohan ini adalah bentuk jaminan keamanan hidup kalian."
"Jaminan keamanan atau sekadar pelengkap ego antarkeluarga?" sergah Arkan cepat, suaranya sedikit meninggi memantul di dinding kayu restoran. "Kalian selalu membicarakan masa depan kami seolah-olah kami adalah pion catur di atas papan permainan kalian. Cinta, komitmen, dan hubungan kami bukanlah komoditas dagang yang bisa diatur lewat tanda tangan kontrak di atas meja!"
Ammar menggebrak meja pelan, membuat cangkir teh di hadapannya berderik nyaring. "Arkan! Kamu bicara pada orang tua yang sudah membesarkanmu!"
"Dan karena kami menghormati kalian sebagai orang tua, kami berdiri di sini untuk berbicara secara jujur!" balas Arkan tanpa gentar, dadanya naik turun mengatur napas. "Tapi ketahuilah satu hal: kalaupun suatu hari nanti aku dan Samaira memutuskan untuk hidup bersama, itu terjadi karena pilihan hati kami sendiri, bukan karena surat perjanjian konyol yang kalian teken di belakang kami!"
Samaira menoleh menatap Arkan, terkesan sekaligus terharu mendengarkan keberanian pemuda itu membela prinsip mereka di hadapan kedua ayah yang terkenal sangat keras kepala. Suasana di sudut restoran itu mendadak membeku; tidak ada lagi ruang untuk basa-basi atau perdebatan ringan. Benteng pertahanan argumen mereka tampak berada di ujung tanduk, siap dihantam oleh badai kenyataan yang lebih besar.