Tit Tak Sempurna

Amrullah Ibrahim
Chapter #33

Plot Twist di Balik Perjodohan

Suasana di ruang kerja pribadi Arman di kediaman keluarga Wijaya terasa begitu pengap, seolah seluruh oksigen telah tersedot keluar dan digantikan oleh ketegangan yang mencekam. Di atas meja mahoni yang kokoh, terbentang sebuah map manila berwarna cokelat yang terlihat biasa saja, namun isinya mampu menghancurkan dunianya dalam sekejap. Arkan berdiri mematung di depan meja ayahnya, tatapannya terpaku pada surat keterangan medis dari rumah sakit jantung terkemuka di ibukota yang baru saja diserahkan kepadanya.

"Apa... apa ini, Ayah?" suara Arkan bergetar hebat, jemarinya mencengkeram kertas putih yang memperlihatkan vonis mengerikan tersebut. Baris demi baris tulisan dokter itu terbaca jelas di matanya: Ammar Hadikusuma. Diagnosa: Gagal Jantung Stadium Awal (Initial Stage Heart Failure).

Arman, ayah Arkan, duduk di kursi kerjanya dengan postur tubuh yang tidak seperti biasanya—biasanya tegak dan penuh wibawa, kini tampak begitu lesu, seolah menanggung beban dunia di pundaknya. Ia menghela napas panjang, sebuah helaan napas yang terdengar seperti sebuah kekalahan yang pahit.

"Itu adalah alasan kenapa aku dan Paman Ammar memaksakan pertunangan ini, Arkan," jawab Arman pelan, suaranya terdengar serak dan nyaris tidak terdengar.

Dunia Arkan seolah berputar. Selama berminggu-minggu, ia dan Samaira—putri dari Ammar—telah mengutuk rencana perjodohan kolot ini. Mereka menganggap kedua orang tua mereka egois, kolot, dan tidak mempedulikan perasaan anak-anaknya yang sudah dewasa dan memiliki impian sendiri. Arkan bahkan sudah merencanakan untuk membawa Samaira kabur ke luar kota malam ini, tepat setelah acara pertunangan paksa tersebut selesai. Ia merasa diperlakukan sebagai pion dalam permainan bisnis dan kekuasaan orang tua. Namun sekarang, kenyataan pahit ini menghantam kesadarannya dengan telak.

"Gagal jantung... stadium awal? Sejak kapan, Ayah? Kenapa aku baru tahu sekarang?" Arkan menuntut jawaban, suaranya meninggi karena kepanikan yang meluap. Pertahanan dirinya runtuh seketika, digantikan oleh gelombang rasa bersalah yang menghantam batinnya.

Arman bangkit dari kursinya dan berjalan pelan menuju jendela besar yang menampakkan pemandangan halaman belakang yang gelap. "Paman Ammar merahasiakannya dari kita semua, bahkan dari Samaira. Dia baru memberitahuku minggu lalu, setelah hasil check-up terakhirnya."

Arkan terduduk lemas di kursi di seberang meja ayahnya, kepalanya tertunduk dalam kedua telapak tangannya. Bayangan masa lalunya bersama Ammar, sosok paman yang selalu ceria dan baik hati, berkelebat di benaknya. Bagaimana bisa pria sekuat dan seramah Ammar menyembunyikan penyakit mematikan seperti itu?

❖ ❖ ❖

Arman berbalik dan menatap putranya dengan tatapan penuh duka dan penyesalan. Ia berjalan kembali ke meja dan duduk di hadapan Arkan, meletakkan tangannya di atas tangan putranya yang terkepal. Sebuah pengakuan berat yang sudah lama ia pendam akhirnya terucap.

"Dokter bilang..." Arman memulai kalimatnya dengan ragu-ragu, suaranya bergetar, "dengan kondisinya saat ini, dan tanpa tindakan medis yang drastis... usia sahabat baikku itu tidak lagi lama. Mungkin hanya tinggal beberapa bulan saja."

Napas Arkan tercekat hebat. Vonis itu seolah menghancurkan tulang-tulang di dalam tubuhnya. Ia menatap ayahnya dengan mata yang mulai memerah dan berkaca-kaca, menolak mempercayai kenyataan pahit yang baru saja didengarnya. Paman Ammar sudah seperti ayah kedua baginya, dan Samaira adalah bagian dari hidupnya—sahabat kecilnya sejak mereka masih di taman kanak-kanak.

"Beberapa bulan...?" bisik Arkan, suaranya nyaris tak terdengar. "Kenapa... kenapa Ayah tidak memberitahuku lebih awal? Kalau aku tahu, aku... kami tidak akan pernah membantah sekeras itu."

"Paman Ammar memohon padaku, Arkan. Dia tidak ingin siapapun mengasihaninya, terutama Samaira. Dia ingin menjalani sisa hidupnya dengan normal, dan yang terpenting..." Arman berhenti sejenak, menahan emosi yang meluap di dadanya, "dia memiliki satu permintaan terakhir sebelum dia menutup mata untuk selamanya."

Arkan menatap ayahnya dengan penuh tanya, hatinya mencelos. Ada firasat buruk yang merayap dalam benaknya.

"Dia ingin melihat putrinya, Samaira..." Arman melanjutkan dengan berat hati, "berada dalam dekapan pelindung terbaik yang bisa dia percayai. Dan tidak ada orang lain yang dia inginkan selain dirimu, Arkan."

Lihat selengkapnya