Suasana di dalam ruangan VIP Restoran Senja Bahagia sore itu seharusnya menjadi arena mediasi yang kaku dan penuh ketegangan. Dua keluarga besar, Dirgantara dan Kirana, duduk mengelilingi meja makan bundar yang besar, dihadapkan pada sebuah pengadilan keluarga yang tak resmi namun mendesak. Di kepala meja, duduk Arman Dirgantara dengan wajah keras, menatap lurus kepada Arkan dan Samaira yang duduk berseberangan dengan bahu merosot. Sementara di sisi Arman, Ammar Kirana tampak pucat pasi, terus-menerus memijat pangkal hidungnya dengan tangan yang gemetar, menghindari tatapan mata putrinya sendiri.
Ketegangan ini adalah puncak dari konflik berkepanjangan tentang masa depan anak-anak mereka. Arman dan Ammar, sahabat karib sejak muda, telah merencanakan penyatuan dua keluarga ini melalui ikatan perjodohan antara Arkan dan Samaira. Namun, setelah masa perkuliahan usai, Arkan dan Samaira menolak keras rencana tersebut, menciptakan jurang pemisah yang lebar di antara kedua sahabat karib itu. Sore ini, dengan mediasi penuh tekanan dari Arman, adalah batas akhir bagi pemberontakan anak muda itu.
"Saya sudah lelah dengan drama ini, Arkan," suara Arman memecah keheningan, berat dan dingin. "Kalian sudah dewasa, seharusnya tahu mana yang terbaik untuk fondasi masa depan kalian dan persahabatan kedua keluarga ini. Bisnis kita di bidang properti dan konstruksi sudah besar, dan penyatuan kalian adalah jaminan keamanan segalanya. Jangan egois."
Arkan menatap ayahnya dengan mata yang menyala, siap untuk berdebat kembali. "Ayah, aku menyayangi Samaira, tapi tidak dengan cara seperti ini! Aku punya cita-citaku sendiri di bidang arsitektur hijau, dan Samaira punya mimpinya sendiri untuk menjadi psikolog anak. Ini hidup kami, bukan perusahaan properti yang bisa diwariskan begitu saja!"
Samaira menggenggam tangan Arkan di bawah meja, ikut bersuara meski suaranya sedikit bergetar. "Om Arman... tolong mengerti. Kami mencintai kalian seperti orang tua sendiri, tapi kami berhak memilih jalan kami. Paksaaan ini tidak akan pernah membuat kami bahagia."
Mendengar pembelaan mereka, Arman mendengus keras. Ia menoleh tajam ke arah Ammar yang duduk tertunduk. "Dengar itu, Ammar? Anakmu sudah besar dan merasa paling tahu segalanya. Sekarang, giliranmu yang bicara sebagai ayahnya. Tegaslah sedikit! Jangan biarkan mereka menginjak-injak rencana kita!"
Ammar Kirana mengangkat wajahnya perlahan. Wajahnya terlihat sangat lelah dan menyimpan penderitaan yang selama ini disembunyikan rapat-rapat di balik senyum palsunya di depan Arman. Ia menatap Samaira dalam-dalam, matanya berkaca-kaca. Bukan amarah yang terpancar di sana, melainkan rasa takut dan penyesalan yang mendalam.
"Arman... hentikan," bisik Ammar dengan suara serak, hampir tidak terdengar. Ia lalu menghela napas panjang dengan berat, seolah setiap helaan napasnya menyakitkan. "Arkan... Samaira... kalian pikir aku bahagia dengan memaksa kalian? Kalian pikir aku tidak ingin melihat kalian terbang mengejar mimpi-mimpi kalian sendiri?"
Samaira menatap ayahnya dengan bingung. Selama ini ayahnya bersikap diktator dan mendukung penuh keinginan Arman. "Kalau begitu kenapa, Yah? Kenapa Ayah terus menekanku untuk menikahi Arkan dan bekerja di perusahaan Om Arman?"
Ammar tidak langsung menjawab. Dengan tangan yang gemetar, ia membuka tas kerjanya yang ada di atas meja. Bukan berkas kontrak yang ia keluarkan, melainkan sebuah map berwarna cokelat yang sudah terlihat usang. Ia meletakkan map itu di hadapan Arkan dan Samaira dengan gerakan pelan yang menyiratkan kelemahan fisik yang luar biasa.
"Bacalah. Ini hal yang selama ini aku sembunyikan dari kalian berdua... dan juga dari kamu, Arman," ucap Ammar lirih, lalu kembali memalingkan wajahnya ke arah jendela besar restoran, membiarkan senja yang mulai kemerahan menyentuh pipinya yang basah.
❖ ❖ ❖
Samaira mengambil map cokelat itu dengan ragu, merasakan firasat buruk yang tiba-tiba menderas di sekujur tubuhnya. Jari-jemarinya gemetar saat membuka kaitan tali amplop tersebut. Ia menarik keluar tumpukan lembaran kertas putih yang tampak formal dengan kop surat sebuah rumah sakit besar di luar negeri dan beberapa hasil cetakan pemindaian medis berwarna abu-abu.
Arkan mendekat, ikut menunduk melihat lembaran yang dipegang Samaira. Keningnya berkerut, mencoba memahami istilah-istilah kedokteran yang asing baginya. Namun, satu baris kalimat diagnosa di halaman pertama lembar rekam medis itu membuat detak jantungnya berhenti sejenak, lalu berpacu kencang tanpa irama.
"Stroma Ovarii... Karsinoma Metastatik Stadium Akhir," bisik Arkan, membaca nama penyakit yang terdengar asing namun mengerikan itu. Matanya beralih ke tanggal pemeriksaan: tercetak jelas bahwa pemeriksaan itu dilakukan tiga tahun lalu, tepat saat Samaira baru masuk kuliah semester awal.
Samaira mematung di kursi. Lembar demi lembar rekam medis milik Om Ammar itu bukanlah sekadar kertas biasa, melainkan kronik penderitaan yang disembunyikan rapat-rapat. Ada hasil kemoterapi yang gagal, catatan rawat inap yang disamarkan dengan alasan perjalanan dinas, dan surat rujukan untuk perawatan paliatif di luar negeri yang tak pernah diambil oleh Ammar. Selama bertahun-tahun, di saat Samaira sibuk dengan masa remajanya dan pemberontakannya melawan perjodohan, ayahnya sedang berjuang sendirian melawan vonis mematikan itu.
"Ini... apa artinya, Yah?" Samaira bersuara, suaranya tercekat di tenggorokan. Ia mengangkat salah satu lembar foto Rontgen yang menunjukkan bayangan gelap di organ vital ayahnya. Air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya perlahan merembes keluar dari pelupuk matanya yang lebar, membasahi jilbab krem yang ia kenakan.