Tit Tak Sempurna

Amrullah Ibrahim
Chapter #35

Suara Serak di Balik Secangkir Teh Hangat

Suasana rumah keluarga Ammar malam itu terasa begitu hening, hanya ditemani deru angin malam yang menyelinap lewat celah ventilasi. Lampu ruang tengah sengaja diredupkan, memancarkan cahaya kuning temaram yang jatuh di atas permadani tebal. Di luar rumah, kegelapan malam menyelimuti kompleks perumahan yang tenang, seolah ikut meresapi sisa-sisa ketegangan emosional yang baru saja mereda setelah kejadian di restoran siang tadi. Tidak ada suara televisi yang biasanya menyala nyaring, tidak pula ada gelak tawa yang biasa memenuhi sudut-sudut ruangan. Yang terdengar hanyalah detak jam dinding antik berbandul kayu dan tarikan napas berat yang berulang kali dihela oleh Ammar.

"Minumlah dulu tehnya, Mar. Masih hangat," ucap Arman dengan suara pelan, menyodorkan sebuah cangkir keramik berisi teh melati ke hadapan sahabat karibnya itu.

Ammar mengangguk pelan. Tangan rentanya yang gemetar terulur menerima cangkir tersebut. Ia menggenggam gagangnya erat-erat, seolah mencari kehangatan di tengah dinginnya malam yang merayap masuk ke dalam tulang-tulang tuanya. Di sekitarnya, anggota keluarga duduk melingkar dalam keheningan yang sarat makna. Samaira duduk bersimpuh di dekat lutut ayahnya, sementara Arkan berdiri bersandar di dinding dengan pandangan tertunduk dalam.

"Terima kasih, Arman," suara Ammar terdengar serak, nyaris tenggelam oleh desau angin malam.

"Jangan sungkan, kita sudah seperti saudara sendiri dari dulu," balas Arman menepuk pundak Ammar penuh pengertian.

Kejadian di restoran tadi siang telah membuka lembaran baru yang selama ini terkunci rapat. Rahasia besar tentang kondisi kesehatan Ammar yang memburuk tidak lagi menjadi beban tersembunyi yang harus ia pikul sendirian. Namun, keterbukaan itu justru meninggalkan rasa bersalah yang teramat dalam di hati anak-anak mereka. Samaira dan Arkan menyadari betapa naifnya tindakan mereka selama ini. Pertengkaran, pemberontakan, dan protes keras yang mereka lancarkan beberapa minggu ke belakang terasa begitu kekanak-kanakan di hadapan kenyataan hidup dan mati yang sedang dihadapi oleh sang kepala keluarga.

"Ayah... apa malam ini kita harus membahasnya lagi? Ayah butuh istirahat," ujar Arkan dengan nada cemas, menatap wajah ayahnya yang tampak pucat pasi di bawah cahaya lampu redup.

Ammar menggeleng pelan. Ia meletakkan cangkir tehnya kembali ke atas meja kecil di depannya dengan gerakan yang sangat berhati-hati. "Tidak, Nak. Justru malam ini, mumpung semua rahasia sudah terbuka terang-terangan di hadapan kita, Ayah ingin meluruskan semuanya. Ayah tidak mau ada ganjalan lagi di antara kita sebelum semuanya terlambat."

❖ ❖ ❖

Ammar duduk di sofa ruang tengah sambil menggenggam cangkir teh hangat, tarikan napasnya terdengar berat setiap kali ia mencoba merangkai kalimat.

Udara di dalam ruangan terasa semakin pekat oleh rasa haru dan penyesalan. Ammar menarik napas panjang, mengumpulkan sisa-sisa tenaga di dalam tubuhnya yang kian melemah. Penyakit jantung kronis yang menggerogoti tubuhnya selama lima tahun terakhir bukan sekadar angka di atas kertas rekam medis, melainkan beban fisik nyata yang membuat setiap tarikan napasnya terasa seperti menelan serpihan kaca.

"Duduklah yang benar, Arkan. Jangan berdiri seperti orang bersalah begitu," perintah Ammar lembut, menepuk ruang kosong di sofa sebelah kanannya.

Arkan menurut. Ia melangkah mendekat dan mendudukkan dirinya di samping sang ayah, sementara Samaira merapat lebih dekat, memegang erat ujung kain baju Ammar dengan jemari yang bergetar halus.

"Ayah tahu," mulai Ammar dengan suara parau yang bergetar halus. "Selama ini kalian merasa Ayah dan Om Arman bersikap keras kepala. Kalian mengira perjodohan itu adalah bentuk kekuasaan orang tua yang ingin mengatur masa depan anak-anaknya tanpa memikirkan perasaan kalian."

Ammar berhenti sejenak, terbatuk kecil, lalu menyeka sudut bibirnya dengan sehelai tisu.

"Maafkan kami," lanjut Ammar menatap lurus ke depan. "Mungkin cara kami menyampaikan niat memang salah. Kami menggunakan otoritas, kami menggunakan aturan, dan kami gagal berkomunikasi dengan baik pada kalian. Tapi percayalah, tidak ada satu detik pun dalam hidup Ayah yang tidak memikirkan keselamatan masa depan kalian."

Samaira menunduk dalam-dalam, air matanya kembali menetes membasahi permukaan permadani. "Bukan salah Om... eh, salah Ayah," ralat Samaira dengan suara tercekat, memanggil Ammar dengan sebutan baru yang terasa begitu sakral malam ini. "Kami yang terlalu egois. Kami sibuk menuntut kebebasan tanpa pernah mau melihat ke dalam rumah dan mencari tahu apa yang sebenarnya sedang Ayah hadapi."

"Ssst... sudah, Air. Jangan menyalahkan diri sendiri," sahut Arman dari kursi seberang, tersenyum hangat menenangkan gadis itu. "Kalian masih muda. Wajar kalau kalian tidak tahu. Tugas orang tua memang menanggung beban di balik layar supaya anak-anaknya bisa melihat dunia dengan terang."

Ammar tersenyum tipis mendengar ucapan sahabatnya itu. Ia mengangkat tangannya yang sudah keriput, lalu mengelus puncak kepala Samaira penuh kasih sayang, persis seperti yang ia lakukan bertahun-tahun lalu ketika gadis itu masih kecil dan sering berlarian di halaman rumah mereka.

❖ ❖ ❖

Dengan suara serak dan terbata-bata, Ammar menceritakan vonis dokter yang diterimanya tepat setahun lalu, saat ia dan Arman mulai merancang masa depan anak-anak mereka.

Ruangan mendadak menjadi begitu sunyi, seolah waktu berhenti berputar untuk mendengarkan setiap patah kata yang keluar dari bibir Ammar. Pria paruh baya itu menerawang jauh ke masa lalu, mengenang detik-detik ketika hidupnya divonis berubah selamanya di ruang praktik dokter spesialis jantung.

"Tepat setahun yang lalu," kisah Ammar dengan suara bergetar pelan. "Dokter memanggilku sendirian ke ruangannya. Ia bilang fungsi jantungku sudah menurun drastis hingga tahap yang sangat mengkhawatirkan. Tanpa tindakan medis besar, hidupku dihitung bukan lagi dalam hitungan tahun, melainkan bulan."

Lihat selengkapnya