Angin malam berhembus pelan, membawa kesejukan sisa embun yang mulai turun di sudut-sudut halaman perumahan. Selepas tengah malam yang panjang dan melelahkan, Samaira dan Arkan kini duduk berdampingan di atas bangku kayu taman pembatas yang terletak tepat di antara kedua rumah mereka. Bangku kayu sederhana itu bukanlah tempat yang asing; di sanalah persahabatan kecil mereka dulu bermula sewaktu mereka masih kanak-kanak, menghabiskan waktu sore dengan bermain tebak-tebakan atau sekadar memakan es krim bersama.
Samaira merapatkan kardigan rajut putih yang ia kenakan untuk menahan dinginnya udara malam. Ia menunduk sejenak, menatap permukaan kayu bangku yang sudah mulai mengelupas termakan usia, sebelum akhirnya melirik ke arah Arkan yang duduk tenang di sampingnya. Suasana di sekitar mereka begitu sunyi, jauh dari hiruk-pikuk ketegangan keluarga yang sempat mendera beberapa hari lalu.
"Rasanya aneh sekali, Arkan," ucap Samaira memulai pembicaraan dengan suara pelan, memecah keheningan yang menyelimuti taman. "Beberapa hari yang lalu, kita berdua merasa seolah-olah sedang digiring masuk ke dalam sangkar emas tanpa jalan keluar. Tapi sekarang... kita malah duduk di sini, tenang seolah tidak terjadi apa-apa."
Arkan menoleh ke arah Samaira, tersenyum kecil sembari memasukkan kedua tangan ke dalam saku jaketnya. "Itu karena kita terlalu cepat panik dan melihat segala sesuatunya dari sudut pandang yang salah, Sam. Padahal kalau dipikir-pikir lagi, orang tua kita sebenarnya hanya ingin yang terbaik, meskipun cara penyampaiannya memang menyebalkan."
"Menyebalkan katamu?" Samaira mendengus pelan, melipat kedua tangannya di depan dada dengan gaya pura-pura kesal. "Mereka hampir membuatku terkena serangan jantung dengan undangan cetak berwarna emas itu! Kamu tahu sendiri betapa aku benci diatur dalam urusan masa depan."
Arkan terkekeh renyah, suara tawanya terdengar begitu hangat di tengah keheningan malam. "Tapi pada akhirnya, rencana besar para orang tua itu berhasil mempertemukan kita kembali dalam ikatan yang resmi, bukan? Tidak ada lagi pelarian, Sam."
Samaira terdiam mendengar kalimat itu. Ia kembali memandang lurus ke depan, memperhatikan lampu taman yang berpendar kuning temaram, menyinari rumput hijau yang basah oleh embun. Di bawah cahaya lampu itu, bayangan masa kecil mereka seolah berkelebat silih berganti di dalam kepalanya, mengingatkannya pada ikatan bumbu masa kecil yang tak pernah benar-benar putus.
❖ ❖ ❖
Keheningan malam yang sempat mereda itu tiba-tiba dipecahkan oleh suara tawa kecil yang lolos dari bibir Samaira. Tawa itu terdengar sedikit canggung, sarat akan rasa geli bercampur sisa-sisa emosi yang sempat tumpah sebelumnya. Dengan punggung jari tangannya, Samaira dengan cepat menyeka sisa jejak air mata yang masih menempel di pipinya akibat drama keluarga yang menguras tenaga beberapa jam lalu.
"Kenapa tertawa tiba-tiba?" tanya Arkan dengan nada penasaran, sebelah alisnya terangkat menatap gadis di sampingnya.
Samaira menggeleng pelan, wajahnya merona merah dalam temaram cahaya lampu taman. "Aku hanya sedang menertawakan diri sendiri, Arkan. Kalau mengingat bagaimana keras kepalanya aku menolak ide perjodohan itu habis-habisan di awal, rasanya aku ingin menghilang saja dari muka bumi."
"Kenapa harus malu?" balas Arkan santai. "Reaksimu itu sangat wajar. Kamu kan memang selalu perfeksionis dalam segala hal, termasuk dalam memilih jalan hidupmu sendiri."
"Bukannya begitu!" sangkal Samaira cepat, meski senyum kecil tak bisa disembunyikan dari bibirnya. "Bayangkan saja, aku sudah menyiapkan sejuta alasan untuk menentang keputusan Ayah dan Om Arman. Aku bahkan sempat meminta bantuan Varisha untuk membuat rencana pelarian konyol. Kalau dipikir-pikir sekarang, usahaku itu terasa sangat dramatis, mirip adegan di sinetron televisi."
Arkan kembali tertawa, kali ini lebih lepas. "Ah, jadi benar kamu sempat merencanakan pelarian bersama Varisha? Pantas saja beberapa hari terakhir kamu terlihat sangat sibuk dengan ponselmu."
"Eh, jangan mengejekku!" protes Samaira sambil mencolek lengan Arkan pelan dengan sikunya. "Mana aku tahu kalau pada akhirnya skenario yang mereka buat justru berujung seperti ini. Kalau dari awal kamu bicara jujur padaku kan aku tidak perlu repot-repot stres sampai hampir botak memikirkan cara menolaknya."
"Lho, justru kejutan itu yang membuat semuanya menjadi menarik, Sam," jawab Arkan dengan nada menggoda, matanya berbinar menatap wajah Samaira yang tampak semakin salah tingkah.
❖ ❖ ❖