Tit Tak Sempurna

Amrullah Ibrahim
Chapter #37

Restu yang Mengalir Kembali

Matahari pagi menyapa perumahan dengan kehangatan yang berbeda; tidak ada lagi dinding es atau jarak kaku antardua rumah sahabat itu. Sinar keemasan menembus dedaunan pohon mangga di halaman, memantul di atas paving block yang bersih dari sisa embun. Udara pagi terasa begitu ringan, membawa aroma masakan rumahan yang menguar lembut dari arah dapur tetangga, menciptakan suasana damai yang sudah lama hilang dari lingkungan tempat mereka tumbuh besar.

Hok berdiri di teras rumahnya sambil meregangkan kedua tangan, menikmati ketenangan pagi yang tidak biasa ini. Ia menatap ke arah rumah Arkan dan Samaira dengan senyum simpul di bibirnya. Perjuangan panjang, perdebatan sengit, serta ketegangan emosional yang sempat mencekam seluruh keluarga akhirnya menemui titik terang yang membahagiakan.

"Indah sekali pagi ini, Hok," panggil sebuah suara lembut dari ambang pintu.

Hok menoleh dan mendapati ibunya membawakan dua cangkir teh hangat. Ibunya ikut tersenyum hangat, menatap ke arah halaman belakang dua rumah yang kini tampak menyatu tanpa sekat pembatas yang kaku.

"Iya, Bu. Rasanya seperti mimpi setelah badai kemarin," balas Hok, menerima cangkir teh tersebut dengan hati-hati. "Semuanya terasa kembali pada tempatnya, tapi dengan cara yang jauh lebih baik."

Di dalam rumah Samaira, suasana pagi dipenuhi oleh langkah kaki yang ringan dan suara obrolan santai. Samaira berdiri di depan cermin besar kamarnya, mengenakan gamis sederhana berwarna soft pink yang dipadukan dengan hijab modern berwarna senada. Ia merapikan lipatan kerudungnya dengan senyum yang tak kunjung surut dari bibirnya. Beban berat yang selama ini menghimpit dadanya seolah lenyap tersapu angin pagi, digantikan oleh debar kelegaan yang luar biasa.

Sementara itu, di rumah Arkan, suasana tidak kalah sibuk. Arkan merapikan kerah kemeja kasual berlengan panjang yang ia kenakan. Ia menarik napas dalam-dalam, merasakan ketenangan batin yang belum pernah ia rasakan selama berbulan-bulan terakhir. Ketakutan akan kehilangan arah hidup atau terjebak dalam konflik keluarga kini telah sirna sepenuhnya.

"Sudah siap, Nak?" panggil suara berat Arman dari lantai bawah, terdengar begitu santai dan penuh wibawa.

"Sudah, Ayah!" jawab Arkan mantap, melangkah keluar kamar dengan langkah pasti menuju lantai dasar.

❖ ❖ ❖

Pintu penghubung halaman belakang rumah Arman dan Ammar dibuka lebar-lebar, mengembalikan tradisi lama sarapan bersama di meja panjang kayu.

Pintu kayu tua yang selama beberapa minggu terakhir selalu tertutup rapat akibat ketegangan hubungan kedua kepala keluarga kini terbuka lebar. Engselnya tidak lagi berderit kaku, melainkan mengundang angin segar untuk mengalir bebas di antara dua pekarangan rumah yang dipenuhi tanaman hijau.

Di tengah-tengah halaman yang menghubungkan teras belakang kedua rumah tersebut, sebuah meja panjang kayu jati legendaris kembali dibentangkan. Meja yang dulu menjadi saksi bisu masa kecil Arkan dan Samaira saat berebut makanan kini tertata rapi kembali, lengkap dengan taplak meja bersih bercorak bunga-bunga lembut.

"Wah, rasanya seperti kembali ke sepuluh tahun lalu," seru Ammar, ayah Samaira, sambil melangkah keluar membawa nampan berisi teko porselen berisi teh manis hangat. Ia mengenakan kemeja batik lengan pendek dengan wajah yang tampak jauh lebih muda tanpa beban kekhawatiran di dahi.

Arman, ayah Arkan, menyusul dari arah pintu sebelah dengan membawa keranjang rotan berisi piring-piring keramik putih. Ia tertawa kecil mendengar ucapan sahabat karibnya itu. "Benar sekali, Ammar. Seharusnya kita tidak perlu bersikap kaku seperti kemarin-kemarin. Ternyata kepala keras kita hampir saja merusak kebahagiaan anak-anak."

"Sudahlah, jangan dibahas lagi masa lalu yang bikin pusing itu," timpal Ibu Samaira yang muncul dari dapur membawa mangkuk besar berisi sup sayur hangat. "Yang penting sekarang semuanya sudah jernih. Anak-anak berhak bahagia dengan pilihan hati mereka sendiri."

Hok yang kebetulan mampir lewat pintu samping langsung menarik kursi kayu di ujung meja panjang tersebut. "Wah, kalau urusan makan bersama begini, saya tidak boleh ketinggalan. Masakan Tante pasti sudah menunggu di meja."

Suasana di halaman belakang itu mendadak hidup kembali oleh gelak tawa dan canda gurau para orang tua. Tidak ada lagi ketegangan bisnis, tidak ada lagi perdebatan ego, dan tidak ada lagi ancaman perjodohan kaku yang membelenggu kebebasan anak-anak muda. Semuanya melebur dalam kehangatan kekeluargaan yang tulus.

Lihat selengkapnya