Tit Tak Sempurna

Amrullah Ibrahim
Chapter #38

Menatap Masa Depan Bersama

Sore hari menjelang senja, Samaira dan Arkan berdiri di atas bukit kecil dekat kampus mereka, memandangkan garis cakrawala kota yang mulai menyala oleh lampu-lampu malam. Langit sore memantulkan gradasi warna jingga keemasan yang berpadu dengan semburat ungu tua, menciptakan panorama indah yang membentang luas di hadapan mereka. Udara sore berhembus sejuk, membawa aroma dedaunan basah dan harum khas tanah setelah disiram hujan gerimis beberapa jam lalu.

Di atas rumput hijau yang basah, sepatu kets mereka menjejak tanah dengan mantap. Tempat itu telah lama menjadi tempat pelarian favorit mereka setiap kali penat menghimpit dada akibat jadwal kuliah yang padat dan ujian akhir semester yang menguras energi. Di bukit kecil ini, jauh dari kebisingan kendaraan bermotor dan hiruk-pikuk kesibukan kampus, waktu seolah berjalan lebih lambat, memberi ruang bagi jiwa untuk bernapas lega.

"Indah sekali ya, Ar," bisik Samaira pelan, merapikan helai rambutnya yang tertiup angin senja. Tangannya terlipat di depan dada, melindungi diri dari dinginnya udara yang mulai merayap naik. "Sudah lama kita tidak menikmati senja berdua seperti ini tanpa memikirkan tugas kuliah atau laporan laboratorium yang menumpuk."

Arkan menoleh ke samping, menatap sosok gadis yang berdiri tepat di sebelah kirinya. Di pergelangan tangan kiri Samaira, jam tangan biru laut pemberiannya bertahun-tahun lalu masih melingkar pas, berdetik teratur di bawah cahaya keemasan matahari yang hampir terbenam. "Iya, akhir-akhir ini kita memang terlalu sibuk dengan dunia kita masing-masing. Terutama sejak kamu disibukkan dengan shift malam di lab forensik dan aku yang harus menyelesaikan maket perancangan kota."

Samaira tersenyum tipis, menengadah menatap wajah Arkan yang kini tampak semakin dewasa dengan rahang tegas dan sorot mata yang penuh ketenangan. "Tapi semua kerja keras itu terbayar lunas, kan? Kita berhasil melewati badai masa lalu, menyelesaikan semua sandiwara kebohongan kampus, dan yang paling penting... Ayah sekarang sudah jauh lebih sehat berkat pengobatan rutin dan ketenangan batin."

Mendengar nama ayah Samaira disebut, ekspresi Arkan melunak. Mengingat kembali peristiwa dramatis di restoran keluarga beberapa bulan lalu—ketika rahasia gagal jantung Ammar terungkap dan mengubah segalanya—membuat Arkan menyadari betapa rapuhnya hidup ini, dan betapa berharganya setiap detik yang mereka miliki sekarang. Perjodohan yang tadinya ditentang habis-habisan karena diselimuti kesalahpahaman kini berubah menjadi restu paling indah yang mengikat takdir mereka secara sah dan resmi di mata keluarga.

"Ayah benar-benar pahlawan sejati kita, Sam," kata Arkan tulus, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket kulit cokelatnya. "Beliau mengajarkan kita arti pengorbanan yang sesungguhnya. Tanpa kebenaran malam itu, mungkin kita masih akan terus berlari dalam ketakutan yang tidak beralasan."

"Dan sekarang, kita bisa berdiri di sini tanpa ada lagi rahasia, tanpa ada lagi kebohongan," balas Samaira dengan mata berbinar-binar cerah, menatap lurus ke arah lampu-lampu kota yang mulai berkelap-kelip menyambut malam.

❖ ❖ ❖

Perjalanan panjang dari bangku TK, seragam putih merah, abu-abu, hingga jas laboratorium kedokteran berkelebat cepat dalam ingatan mereka. Memori masa kecil yang terekam jelas di kepala membuat Samaira tiba-tiba terkekeh kecil, mengingat bagaimana mereka dulu sering berebut mainan di halaman rumah atau saling ejek di ruang kelas SD.

"Kamu ingat tidak, Ar, waktu kita kelas enam SD dan kamu menjatuhkan es krimku ke baju seragam baruku?" tanya Samaira tiba-tiba, menoleh dengan senyuman usil tersungging di bibirnya.

Arkan mengerjap pelan, lalu ikut tersenyum tipis. "Mana mungkin aku lupa. Kamu menangis sejadi-jadinya di pinggir jalan sampai ibumu harus membelikan es krim dua kali lipat untuk meredakan amukmu."

"Bukan amuk, itu namanya bentuk protes terhadap ketidakadilan!" sanggah Samaira tertawa renyah, membuat suasana senja yang tadinya melankolis mendadak berubah hangat dan penuh canda. "Dan waktu zaman SMA, kamu selalu bertingkah seperti pahlawan kesiangan yang sok cool padahal aslinya cuma diam saja kalau aku diganggu anak-anak usil."

"Aku tidak sok cool. Memang dasarnya aku pendiam," bela Arkan tenang, meskipun ia tidak bisa menahan senyum lebar melihat tawa Samaira yang begitu lepas. "Lalu bagaimana dengan dirimu? Anak gadis yang hobi membaca novel roman murahan di perpustakaan sekolah tapi kalau diajak bicara selalu blushing sendiri?"

"Ih, mana ada aku blushing!" protes Samaira cepat, meski rona merah muda langsung menjalar di kedua pipinya, membuktikan bahwa ucapan Arkan seratus persen benar.

Kilas balik perjalanan hidup itu merentang begitu panjang dan berliku. Dari anak-anak kecil yang ingusan, remaja labil yang penuh rahasia dan pemberontakan, hingga kini menjadi mahasiswa tingkat akhir perguruan tinggi dengan jas laboratorium dan buku sketsa arsitektur di tangan. Setiap fase kehidupan mereka selalu diisi oleh kehadiran satu sama lain. Tidak pernah ada satu tahun pun dalam hidup mereka di mana nama Arkan tidak terukir di lembar hari-hari Samaira, begitu pula sebaliknya.

"Rasanya baru kemarin kita memakai seragam putih abu-abu dengan tas punggung yang kebesaran, sekarang kita sudah harus memikirkan tesis, ujian profesi, dan masa depan karier," gumam Samaira lirih, menghela napas panjang menikmati angin senja yang menyapu wajahnya.

"Waktu memang berjalan sangat cepat kalau kita melewatinya bersama orang yang tepat," sahut Arkan dengan suara rendah namun penuh penekanan yang sarat makna.

Samaira menghentikan langkahnya di atas rumput bukit. Ia menatap Arkan lekat-lekat. Ada ketulusan yang luar biasa besar di dalam bola mata pemuda itu, sebuah ketulusan yang tidak pernah luntur sejak pertama kali kotak kado biru tua berisi jam tangan digital itu diletakkan di atas meja ulang tahunnya yang kelima belas.

❖ ❖ ❖

Arkan meraih jemari Samaira, menyatukan jari-jari mereka erat-erat tanpa ada jarak dan tanpa ada keraguan yang tersisa di dada. Gerakan itu dilakukan begitu natural, seolah tangan mereka memang diciptakan untuk saling menggenggam sejak awal mula semesta diciptakan. Kulit telapak tangan Arkan yang hangat meresapi jemari Samaira yang sedikit dingin karena terpaan angin bukit menjelang malam.

Samaira tidak menarik tangannya. Ia membiarkan jemari mereka bertaut sempurna, merasakan aliran ketenangan yang langsung menjalar dari genggaman itu ke seluruh pembuluh darahnya. Tidak ada lagi debar canggung seperti saat mereka duduk berdua di kedai kopi sudut kota dulu; yang ada kini hanyalah rasa memiliki yang utuh, suci, dan absolut.

"Sam..." panggil Arkan pelan, memecah kesunyian di antara desir angin senja.

"Ya, Ar?" jawab Samaira lembut, menaikkan pandangannya untuk menyambut tatapan mata Arkan yang begitu teduh.

"Apapun yang terjadi ke depannya nanti, sesulit apa pun rintangan dunia kerja atau tekanan hidup dewasa yang akan kita hadapi setelah lulus kuliah, berjanjilah satu hal padaku," ucap Arkan dengan nada suara yang sangat serius namun menenangkan.

Lihat selengkapnya